Semarang, IDN Times – Kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang Semarang tak hanya menyisakan titik api dan kepulan asap. Peristiwa tersebut kembali membuka persoalan yang lebih besar tentang bagaimana sampah dikelola sejak dari sumbernya sebelum berakhir di TPA.
Kebakaran TPA Jatibarang Jadi Peringatan Keras soal Sampah dari Hulu

1. Peringatan olah sampah secara benar dari hulu
Pakar lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Sudharto P Hadi menilai, kebakaran TPA Jatibarang harus menjadi peringatan agar pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada tempat pembuangan akhir.
“Ini membawa pesan mengingatkan kembali kepada kita semua sebagai penghasil sampah untuk mengolah sampah secara benar dari hulu,” ungkapnya, Jumat (2/10/2026)
Menurut Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang itu, masyarakat perlu kembali menerapkan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. Dengan pengurangan sampah sejak dari sumbernya, volume sampah yang berakhir di TPA Jatibarang dapat ditekan.
“Mengelola sampah sesuai prinsip 3R yaitu reduce, recycle dan reuse, sehingga yang dibawa ke TPA Jatibarang jauh lebih sedikit,” katanya.
2. Asap menyebar hingga permukiman warga
Kebakaran TPA Jatibarang yang mulai terjadi pada Rabu (30/9/2026) malam tersebut berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar. Area yang terbakar mencapai sekitar 10 hektare. Meski kobaran api berangsur padam, sejumlah titik api masih tersisa dan menghasilkan kepulan asap tebal dari tumpukan sampah yang terbakar.
Asap kemudian menyebar hingga permukiman di sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Mijen, Ngaliyan, dan Tugu. Kawasan Bambankerep, Kecamatan Ngaliyan, menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup parah.
Sudharto mengatakan, kondisi tersebut menjadi konsekuensi yang harus dihadapi masyarakat ketika persoalan sampah belum ditangani secara optimal sejak dari hulu. Ia menilai pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan TPA sebagai tempat menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.
“Saya rasa Pemerintah Kota Semarang sudah dalam upaya ke arah sana sesuai UU Pengelolaan Sampah Tahun 2008 yang berbasis sanitary atau controlling landfill,” ujar Guru Besar Undip di Bidang Manajemen dan Etika Lingkungan itu.
Namun, menurut Sudharto, pengurangan sampah dari sumbernya tetap menjadi bagian penting agar beban TPA tidak semakin besar.
3. Kualitas udara dalam radius 2 kilometer tak penuhi syarat bagi kesehatan
Sementara, dampak kebakaran juga terukur dari kualitas udara di sekitar TPA Jatibarang. Dinas Kesehatan Kota Semarang menyatakan kualitas udara dalam radius hingga 2 kilometer dari TPA Jatibarang tidak memenuhi syarat bagi kesehatan masyarakat.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam mengatakan, pengukuran udara ambien dilakukan di sejumlah titik di sekitar lokasi kebakaran.
Pengukuran pada Kamis (1/10/2026), antara lain dilakukan di SMAN 7 Semarang dan Kantor Kelurahan Bambankerep. Hasilnya, kadar sulfur dioksida (SO2) di SMAN 7 Semarang yang berjarak sekitar 1,9 kilometer dari TPA Jatibarang mencapai 258,26 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut berada di atas ambang batas baku mutu udara ambien yang disebut sebesar 150 mikrogram per meter kubik.
“Untuk yang di area TPA Jatibarang jauh lebih tinggi,” kata Hakam, Jumat (2/10/2026).
Menurut dia, paparan asap kebakaran TPA berisiko menimbulkan gangguan pernapasan bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
4. Dinkes rekomendasikan gunakan masker bagi kelompok rentan
Maka itu, Dinkes merekomendasikan penggunaan masker, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan komorbid.
Petugas kesehatan di sejumlah puskesmas sekitar TPA Jatibarang juga telah disiagakan untuk memantau dampak asap terhadap masyarakat.
“Monitoring wilayah dilakukan untuk mengetahui dampak dari asap kebakaran TPA,” ujar Hakam.
Kebakaran yang melanda area sekitar 10 hektare tersebut memang berangsur padam. Namun, keberadaan titik api dan asap dari tumpukan sampah menunjukkan persoalan belum sepenuhnya selesai.
Bagi Sudharto, asap yang kini dirasakan warga menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak berhenti ketika sampah diangkut dari rumah. Semakin banyak sampah yang masuk ke TPA, semakin besar pula beban yang harus dikelola di lokasi pembuangan akhir.
Kebakaran Jatibarang pun tidak hanya menyisakan pekerjaan memadamkan api, tetapi juga pertanyaan tentang seberapa jauh sampah telah dikurangi, digunakan kembali, dan didaur ulang sebelum mencapai TPA.
Curated For You
- [INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial 09 Sep 2026, 13:52 WIB
- Kabut Asap TPA Jatibarang, Ini yang Perlu Diwaspadai Warga Semarang01 Oct 2026, 22:10 WIB
- Penegakan Hukum Keracunan MBG Dipertanyakan, 11 Tokoh Bersuara21 Sep 2026, 07:00 WIB
- Api Mulai Mengecil, Asap TPA Jatibarang Meluas hingga Permukiman Warga01 Oct 2026, 12:15 WIB