Dari Terowongan Kendal hingga rencana Pedestrian Deck Dukuh Atas, MRT Jakarta ikut mengubah cara orang bergerak di pusat kota. Namun, keberhasilan integrasi transportasi tak cukup diukur dari megahnya infrastruktur. Yang lebih penting adalah seberapa banyak hambatan perjalanan warga berhasil dipangkas.
Empat hingga lima menit. Itulah estimasi waktu yang kelak bisa dihemat pejalan kaki saat menyusuri kawasan Menara Landmark menuju Hotel Shangri-La di Dukuh Atas, Jakarta Pusat.
Penghematan waktu ini tidak lahir dari laju kereta yang lebih kencang atau waktu tunggu peron yang makin singkat. Sumbernya justru berasal dari infrastruktur yang tidak akan dilintasi kereta sama sekali: Pedestrian Deck Dukuh Atas.
Berdasarkan pemaparan pada 30 Juli 2026, MRT Jakarta memproyeksikan jalur penghubung tersebut mampu memangkas waktu perpindahan antarmoda sekitar dua hingga tiga menit pada sejumlah rute. Sementara itu, waktu tempuh pejalan kaki antara Landmark dan Shangri-La diperkirakan bisa dipersingkat empat hingga lima menit.
Angka tersebut mungkin terdengar sepele jika disandingkan dengan efisiensi waktu tempuh kereta bawah tanah. Namun, rencana pembangunan ini menguak persoalan mobilitas yang jauh lebih esensial. Di kawasan sentral yang telah dilayani berbagai moda transportasi modern, perjalanan antarsimpul dan antargedung nyatanya masih menyisakan ruang besar untuk perbaikan.
Pedestrian deck ini dirancang untuk merajut empat kuadran kawasan Dukuh Atas yang selama ini terisolasi oleh sekat fisik Jalan Jenderal Sudirman dan Kanal Banjir Barat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mencanangkan proyek tersebut pada 21 Juni 2026, dengan target penyelesaian pada 2028.
Mengingat fasilitas ini masih dalam tahap penyiapan, efisiensi waktu yang diumumkan MRT Jakarta memang baru sebatas proyeksi. Belum menjadi manfaat nyata yang terukur. Meski demikian, keputusan berinvestasi pada jalur pejalan kaki di kawasan padat stasiun ini menandai pergeseran paradigma pembangunan kota.
Sistem perkeretaapian yang andal mutlak diperlukan untuk mempercepat perjalanan lintas wilayah. Akan tetapi, pada akhirnya penumpang tetap membutuhkan akses dasar yang manusiawi untuk mencapai stasiun, berpindah moda, dan mengakhiri perjalanannya di titik tujuan. Bagi Jakarta yang tengah memacu diri menjadi kota global, efisiensi mobilitas tidak boleh mandek hanya di atas rel.
