Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kurangi Kemiskinan Ekstrem, Gus Yasin Tegaskan Harus Pemutakhiran Data

Kota Semarang
3 min read
Kurangi Kemiskinan Ekstrem, Gus Yasin Tegaskan Harus Pemutakhiran Data
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maemoen saat Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jateng, Selasa, 29 September 2026. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Pemprov Jawa Tengah akan memperluas program Satu OPD Satu Desa Dampingan yang telah menjangkau 641 desa, dengan OPD berperan mengoordinasikan kebutuhan desa lintas sektor.

  • Wagub Taj Yasin meminta pemutakhiran dan verifikasi data kemiskinan hingga tingkat RT/RW agar bantuan tepat sasaran, serta mendorong bantuan produktif disertai pendampingan berkelanjutan.

  • Pada Maret 2026, kemiskinan Jawa Tengah tercatat 9,21 persen atau 3,29 juta orang; kemiskinan ekstrem turun dari 0,62 persen pada 2024 menjadi 0,3 persen pada 2025.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah akan memperluas program Satu Organisasi Perangkat Desa (OPD) Satu Desa Dampingan, sebagai salah satu strategi mempercepat penanggulangan kemiskinan di wilayahnya. Program itu kini sudah menjangkau 641 desa.

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen mengatakan, walaupun angka kemiskinan Jawa Tengah mengalami penurunan, namun capaian tersebut perlu terus diperkuat melalui pembenahan data dan intervensi yang lebih terarah.

“Di kecamatan kita mana yang paling miskin, kita kecilkan lagi di kecamatan itu desanya mana. Di situ kita tugaskan OPD kita,” katanya, ketika Rapat Koordinasi Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026, Selasa (29/9/2026).

  1. 1. Masing-masing OPD harus jadi penghubung desa untuk menyalurkan kebutuhan

    Ilustrasi Kemiskinan di Indonesia (commons.wikimedia.ord/Manguung)
    Ilustrasi Kemiskinan di Indonesia (commons.wikimedia.ord/Manguung)

    Pendampingan tersebut harus dilakukan secara lintas sektor. OPD yang mendapat tugas tidak harus menyelesaikan persoalan kemiskinan sendirian, tetapi menjadi koordinator untuk menghubungkan kebutuhan desa dengan program OPD lainnya.

    “Mereka sifatnya menjadi koordinator, supaya program itu bisa berjalan semuanya di desa-desa tersebut,” ujarnya.

  2. 2. Pemutakhiran data butuh keberanian

    IIustrasi penyaluran bansos di POS
    IIustrasi penyaluran bansos di POS. (IDN Times/Dini Suciatiningrum)

    Ia menyoroti pentingnya pemutakhiran data kemiskinan secara berkala agar perubahan kondisi masyarakat dapat segera tercatat.

    Menurutnya, proses verifikasi data dapat dimulai dari tingkat desa, bahkan RT dan RW. Perangkat desa bersama tokoh masyarakat dinilai lebih mengetahui kondisi warga di wilayahnya.

    Gus Yasin menekankan, keberanian melakukan verifikasi dan memperbaiki data menjadi salah satu kunci agar bantuan pemerintah benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

    Selain pembenahan data, ia juga meminta program penanggulangan kemiskinan tidak berhenti pada bantuan konsumtif. Bantuan harus diarahkan pada pemberdayaan, terutama bagi masyarakat usia produktif, agar mampu meningkatkan pendapatan dan keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

    Ia mencontohkan, bantuan produktif berupa kambing, ayam, dan unggas yang harus disertai pendampingan serta pengawasan keberlanjutan. Pemerintah perlu memastikan bantuan tersebut tidak berhenti begitu saja, tetapi berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi penerimanya.

  3. 3. Dinsos Jateng: Kemiskinan relatif tinggi di desa

    IMG_20251105_101349.jpg
    Seorang dokter spesialis mendata seorang warga Desa Seboto Gladagsari Boyolali yang mengalami gejala sakit paru-paru. (IDN Times/Fariz Fardianto)

    Kepala Dinas Sosial Jawa Tengah, Imam Maskur mengatakan, upaya penanggulangan kemiskinan terus dilakukan seiring pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang mencapai 5,31 persen.

    Menurutnya, pertumbuhan ekonomi perlu diikuti dengan penyediaan lapangan kerja agar masyarakat memperoleh pendapatan dan mampu meningkatkan kesejahteraannya.

    Ia menyampaikan, persentase penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat sebesar 9,21 persen atau sebanyak 3,29 juta orang

    Imam menyebut, kemiskinan masih relatif tinggi di wilayah pedesaan, kondisi tersebut antara lain dipengaruhi karakter Jawa Tengah yang sebagaian besar agraris, dengan alternatif sumber pendapatan yang relatif terbatas.

    Namun demikian, kemiskinan ekstrem menunjukkan perkembangan positif. Imam menyebut angka kemiskinan ekstrem Jawa Tengah turun dari sekitar 0,62 persen pada 2024 menjadi 0,3 persen pada 2025, atau turun lebih dari 50 persen.

    Ia mencontohkan, Kota Surakarta dan Kota Salatiga yang mengalami penurunan kemiskinan ekstrem secara signifikan. Menurutnya, pengalaman kedua daerah tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kabupaten/kota lainnya.

    “Ini bisa menjadi rujukan best practice untuk kabupaten dan kota yang lainnya, terutama dalam penurunan angka kemiskinan ekstrem,” katanya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More