Daftar Belasan Komoditas Pangan yang Memicu Kemiskinan di Jawa Tengah

- BPS Jawa Tengah mencatat 3,29 juta penduduk miskin pada Maret 2026, turun 59.390 orang dari September 2025 dan 81.250 orang dibanding Maret 2025.
- Garis kemiskinan mencapai Rp596.676 per kapita per bulan; beras, rokok, telur, daging ayam, serta sejumlah pangan lain menjadi kontributor utama, sementara perumahan dominan di kota.
- Tingkat kemiskinan turun menjadi 9,21 persen, dengan kota 8,59 persen dan desa 9,96 persen; ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan pada triwulan II 2026.
Semarang, IDN Times - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah menyatakan terdapat sejumlah komoditas pangan yang memengaruhi pergerakan angka kemiskinan di 35 kabupaten/kota. Bahkan keberadaan komoditas pangan ini jadi penyumbang terbesar garis kemiskinan.
Di area perkotaan, komoditas yang memberikan kontribusi terbesar antara lain beras, rokok kretek filter, telur ayam ras, daging ayam ras, roti, kue basah, tempe, mi instan, bawang merah, dan gula pasir.
Sementara itu, komoditas bukan makanan yang memberikan sumbangan terbesar adalah perumahan.
Adapun di perdesaan, selain beras dan rokok kretek dan rokok filter, komoditas lain yang memberi kontribusi besar terhadap garis kemiskinan yaitu telur ayam ras, daging ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan, bawang merah, tempe, roti, tahu, serta gula pasir.
"Berdasarkan garis kemiskinan tersebut, pada Maret 2026 terdapat sebanyak 3,29 juta penduduk miskin di Jawa Tengah. Dibandingkan September 2025 jumlah penduduk miskin turun 59.390 orang dan dibandingkan Maret 2025 turun 81.250 orang," ungkap Ali Said, Kepala BPS Jateng saat memaparkan pergerakan kemiskinan secara daring, Rabu (5/8/2026).
BPS Jateng ukur pemenuhan kebutuhan dasar

Untuk mengukur tingkat kemiskinan, BPS menggunakan metodologi pemenuhan kebutuhan dasar atau basic need approach.
Metode BPS tersebut bisa mengukur kemiskinan berdasarkan kemampuan individu atau rumah tangga, dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan.
Dari penghitungan tersebut diperoleh garis kemiskinan sebesar Rp596.676 per kapita per bulan. Sementara itu, garis kemiskinan rata-rata per rumah tangga miskin tercatat sebesar Rp2.571.674 per bulan.
Jumlah warga miskin kota diklaim rendah ketimbang di desa

Secara persentase tingkat kemiskinan di Jawa Tengah juga menurun. Pada Maret 2026 angkanya menjadi 9,21 persen. Jumlah itu turun 0,18 persen dibanding September 2025 yang tercatat 9,39 persen, dan berkurang 0,27 persen dibanding Maret 2025 yang masih pada angka 9,48 persen.
Ia mengklaim prosentase penduduk miskin perkotaan lebih rendah dibandingkan perdesaan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin di perkotaan mencapai 8,59 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 9,96 persen.
Jateng jadi penyumbang ekonomi terbesar keempat nasional

Pada kesempatan yang sama, BPS Jawa Tengah juga memublikasikan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2026, yang mencapai 5,71 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen.
Sementara itu, dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,72 persen (quarter to quarter). Adapun secara kumulatif semester I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen (cumulative to cumulative).
"Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional," pungkas Ali.























