Sejumlah siswa mengerjakan perbaikan sebuah sepeda motor di bengkel Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kegiatan bengkel memberi ruang bagi siswa untuk menjalankan pekerjaan secara bersama sekaligus menerapkan keterampilan otomotif yang mereka pelajari di sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana)
Dampak paling berharga dari seluruh ekosistem pendampingan tersebut terekam jelas pada rekam jejak para alumninya, seperti Sumaidi. Ia yang merupakan alumnus angkatan awal berhasil menembus seleksi Enduro Student Program (ESP), program inkubasi bisnis lanjutan Pertamina yang dirancang khusus bagi lulusan SMK.
Setelah digembleng melalui pelatihan intensif selama 40 hari di Balai Besar Bandung dan menjuarai kompetisi mekanik nasional, Sumaidi membawa pulang modal usaha senilai Rp30 juta dalam bentuk kelengkapan alat dan branding. Kini, ia mengelola bengkel mandiri dengan omzet menyentuh Rp40 juta per bulan, dan bengkelnya ditunjuk sebagai lokasi magang wajib bagi adik-adik kelasnya.
"Sebelum ikut program ESP, saya sempat takut memikirkan nasib setelah lulus, apalagi orang tua saya hanya petani biasa. Bantuan Pertamina tidak cuma ngasih kompresor atau kunci pas, tapi memberi saya keberanian. Sekarang, bengkel ini bukan cuma menghidupi keluarga saya, tapi juga jadi ruang bagi adik-adik kelas merajut harapan masa depan mereka," kenang Sumaidi.
Infografik: Perbandingan Program CSR Pertamina Lubricants. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kisah Sumaidi bukan anomali. Dari sekitar 150 siswa yang dilatih melalui program EHS sejak 2022, tercatat sebanyak 20 lulusan telah berhasil merintis dan mendirikan bengkel sendiri. Keberhasilan itu adalah cetak biru (blue print) berskala mikro untuk mengamankan dan menyelamatkan Bonus Demografi menuju Indonesia Emas 2045.
Akan tetapi, bonus tersebut bak pedang bermata dua. Jika angkatan kerja muda itu dibiarkan lulus tanpa keahlian yang relevan dengan kebutuhan industri, ledakan demografi justru akan berbalik arah menjadi bencana pengangguran massal.
Intervensi Pertamina melalui program EHS dan ESP hadir sebagai katup pengaman yang memastikan agar angkatan muda itu tidak berujung menjadi beban negara, melainkan bisa tumbuh menjadi roda penggerak ekonomi yang mandiri.
Lebih jauh lagi, untuk mengasah wawasan kebangsaan dan global, Pertamina ikut mengapresiasi siswa-siswa berprestasi dengan membawa mereka melihat langsung pusaran industri otomotif dunia. Pengalaman eksklusif itu merentang mulai dari menonton ajang MotoGP di Sepang, Malaysia, hingga mengikuti kelas masterclass bersama para ahli mekanik dari VR46 Academy di Sirkuit Mandalika.
Kondisi itu merupakan langkah elegan yang perlahan memperluas cakrawala mimpi anak-anak desa di Kabupaten Kendal.
Teaching Factory Karya Speed yang berada di lingkungan SMK Harapan Mulya, Kendal, Rabu (16/9/2026). Bengkel ini menjadi bagian dari program Enduro Home Service Pertamina Lubricants dan melayani masyarakat dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perbengkelan. (IDN Times/Dhana Kencana)
Menjelang senja di Brangsong, deru kompresor di halaman Karya Speed perlahan mereda.
Dimas tampak telaten mengencangkan baut terakhir di tutup blok CVT motor milik Masmican. Sang pengemudi ojol pun tersenyum lega mendengar ritme mesinya kembali berdesing halus dan stabil. Ia kemudian berjalan ke meja kasir, memindai kode QRIS— transaksi nirkontak yang terhubung dan terekam rapi dalam sistem perbendaharaan bengkel sekolah.
Di sudut ruangan bengkel dengan rating bintang lima pada platform Google Review itu, Dimas mencuci tangannya dengan sabun, membiarkan buihnya meluruhkan sisa-sisa pelumas hitam di sela-sela jarinya. Remaja berusia 15 tahun dari pelosok desa itu baru saja merampungkan satu lagi hari kerja yang produktif.
Di bawah atap bengkel sekolah, yang dipadukan dengan komitmen kuat ekosistem energi nasional, para siswa SMK Harapan Mulya membuktikan jika mereka tidak sekadar belajar memperbaiki motor orang lain. Lebih dari itu, bermodalkan insting mekanik yang terasah, literasi finansial, dan kesadaran lingkungan, Dimas beserta teman-temannya sesungguhnya sedang tekun merakit masa depan mereka sendiri.
Infografik: Mencetak Wirausahawan Otomotif Muda dari Sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana)
Belajar di Bawah Mesin Orang Lain
Seorang siswa SMK Harapan Mulya mengerjakan bagian bawah sepeda motor di Teaching Factory Karya Speed, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (16/9/2026). Bengkel sekolah tersebut digunakan sebagai ruang praktik sekaligus melayani sepeda motor masyarakat. (IDN Times/Dhana Kencana)
Teaching Factory Karya Speed yang berada di lingkungan SMK Harapan Mulya, Kendal, Rabu (16/9/2026). Bengkel ini menjadi bagian dari program Enduro Home Service Pertamina Lubricants dan melayani masyarakat dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perbengkelan. (IDN Times/Dhana Kencana)
Seorang siswa melayani pelanggan di meja pelayanan Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Selain pekerjaan teknis di area servis, kegiatan bengkel juga mempertemukan siswa dengan konsumen yang datang membawa kebutuhan kendaraannya. (IDN Times/Dhana Kencana)
Dua siswa memindahkan sepeda motor di area Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Aktivitas di bengkel menempatkan siswa dalam alur kerja yang tidak hanya berlangsung di depan mesin, tetapi juga mencakup penanganan kendaraan di ruang servis. (IDN Times/Dhana Kencana)
Sejumlah siswa mengerjakan perbaikan sebuah sepeda motor di Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kegiatan bengkel memberi ruang bagi siswa untuk menjalankan pekerjaan secara bersama sekaligus menerapkan keterampilan otomotif yang mereka pelajari di sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana)
Seorang siswa menangani bagian mesin sepeda motor yang terbuka di Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Dalam program EHS, siswa SMK memperoleh pelatihan keterampilan otomotif selain materi pemasaran dan kewirausahaan. (IDN Times/Dhana Kencana)
Pelumas dituangkan saat servis sepeda motor di Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Bengkel tersebut dikembangkan melalui program Enduro Home Service Pertamina Lubricants yang dijalankan di SMK Harapan Mulya sejak November 2022. (IDN Times/Dhana Kencana)
Para siswa menangani sepeda motor salah pelanggan di area servis Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kepala SMK Harapan Mulya Rikha Imaniarti mengatakan bengkel tersebut melayani sedikitnya sekitar 200 sepeda motor setiap bulan. (IDN Times/Dhana Kencana)
Seorang supervisor teknisi berbicara dengan pelanggan di area Karya Speed mengenai masa servis, Rabu (16/9/2026). Interaksi dengan konsumen menjadi bagian dari aktivitas bengkel selain pengerjaan teknis kendaraan. (IDN Times/Dhana Kencana)