Kendal, IDN Times - Siang itu di Brangsong, Kabupaten Kendal, debu Jalur Pantura beterbangan tertiup angin. Di halaman sebuah bangunan beratap baja ringan, deru kompresor berpadu dengan uap bensin dan aroma pelumas.
Ahmad Masmican (43) mematikan mesin motor matiknya, lalu melepas helm dengan raut wajah lega. Sehari-hari, aspal panas yang membentang antara Kabupaten Kendal dan Kota Semarang menjadi ladang tempatnya mencari nafkah. Sebagai pengemudi ojek online (ojol), skutik tersebut adalah tulang punggung ekonomi keluarganya yang tentu membutuhkan perawatan rutin.
Menariknya, alih-alih membawa motornya ke bengkel resmi di pusat kota, siang itu ia memilih berbelok melewati gerbang Karya Speed, sebuah bengkel Teaching Factory milik SMK Harapan Mulya.
Masmican punya alasan tersendiri menjadikan bengkel sekolah itu sebagai tempat langganannya selama setahun terakhir. Setiap dua minggu sekali, ia selalu menyempatkan diri merawat motornya di sini karena perpaduan harga yang pas dan kualitas yang tuntas.
"Saya sering servis di sini. Milih di sini soalnya murah dan pelayanannya bagus. Meskipun ditangani pelajar, kualitasnya gak kalah sama bengkel lain," ungkapnya, Rabu (16/8/2026).
Untuk layanan servis rutin dan ganti oli, bengkel yang berlokasi di Jalan Soekarno-Hatta, Brangsong Utara tersebut hanya mematok tarif Rp85 ribu.
"Harganya sangat terjangkau buat saya yang ojol. Tarikan mesinnya juga jadi enteng kalau habis servis di sini. Apalagi pakai olinya yang bagus, Pertamina Enduro itu wanginya khas, kados (seperti) permen. Malah kadang dapat diskon cuci gratis,” tambah Masmican dengan logat Jawanya yang kental.
Kepercayaan dari pelanggan setia seperti Masmican itulah yang menjadi ruang belajar tidak ternilai bagi para siswa. Siang itu, keluhan motor sang ojol ditangani langsung oleh Dimas Sidik (15). Siswa kelas X tersebut tampak mengenakan seragam mekanik merah yang ujung lengannya masih sedikit kebesaran di bahu.
Meski berhadapan dengan pelanggan dewasa, Dimas berusaha tampil tenang. Ia berjongkok, meraba area CVT, lalu menyorotkan senter untuk melakukan pemeriksaan awal. Tangannya sesekali bergetar saat menyeimbangkan kunci pas, namun guru pembimbing yang mengawasi dari kejauhan membiarkan Dimas mengatasi rasa gugupnya sendiri.
Setelah lima menit mengecek blok mesin, Dimas bangkit dan menatap Masmican. Dengan bahasa yang sederhana dan santun, ia menjelaskan kondisi komponen penggerak yang mulai aus, perkiraan waktu perbaikan, hingga rincian biayanya. Penjelasan itu pun langsung disambut dengan anggukan setuju.
Bagi Dimas, melayani pelanggan secara langsung memberikan kalibrasi mental yang tak bisa didapatkan di dalam kelas.
"Dapat ilmu dari buku pelajaran itu pasti. Tapi di bengkel ini, saya belajar menghadapi pelanggan sungguhan, menahan panik, dan berani praktik memegang mesin yang menyala," ungkap Dimas, yang diam-diam menyimpan mimpi untuk membuka bengkelnya sendiri di desanya kelak.