Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Membaca Ulang Kehilangan dan Ilusi dalam Puisi Nilam Cahya Maedy
Nilam Cahya Maedy yang mengangkat pergulatan batin tentang kehilangan, ilusi, hingga proses menerima kenyataan, Senin (19/10/2026).(IDN Times/Foto : Dok. Nilam)
  • Puisi Nilam Cahya Maedy menelusuri kehilangan, ilusi, dan pendewasaan; pembacaan ulang memberi jarak untuk memahami pengalaman personal dengan perspektif lebih matang.

  • “Sial” dan “Usai” menggambarkan perjalanan dari amarah serta penolakan terhadap kehilangan menuju penerimaan, ketika merelakan dipahami sebagai kemenangan atas ego.

  • Puisi tentang kedekatan dalam aksara dan kerinduan masa kecil menyoroti batas imajinasi, realitas dewasa, serta perubahan diri yang tidak dapat diputar kembali.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Senin (19/10/2026)

Nilam Cahya Maedy mengatakan puisi-puisinya awalnya lahir spontan dari emosi kuat. Pembacaan ulang seiring waktu membuka pemahaman baru tentang rasa sakit, ketakutan, dan pendewasaan diri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Esai sastra membahas puisi-puisi Nilam Cahya Maedy yang mengangkat kehilangan, ilusi, kedekatan dalam tulisan, serta proses menerima kenyataan dan pendewasaan diri.
  • Who?
    Nilam Cahya Maedy sebagai penulis puisi, serta mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang menulis esai sastra tersebut.
  • Where?
    Esai dan keterangan penulis disampaikan dari Banyumas; mahasiswa tersebut berasal dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.
  • When?
    Keterangan mengenai pembacaan ulang puisi disampaikan pada Senin, 19 Oktober 2026.
  • Why?
    Pembacaan ulang dilakukan untuk memahami pengalaman personal, rasa sakit, ketakutan, kehilangan, dan perubahan perspektif yang muncul seiring proses pendewasaan.
  • How?
    Pengalaman tersebut dibaca melalui puisi “Sial”, “Usai”, “Untukmu Yang Mendekapku Dengan Kata”, dan “Mimpi Itu Ilusi”, dengan menelaah larik-larik tentang penolakan, kerelaan, imajinasi, dan kerinduan masa kecil.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Nilam Cahya Maedy menulis puisi tentang sedih, marah, dan kehilangan. Dalam puisinya, ada orang yang belum bisa ikhlas, lalu belajar merelakan. Ada juga rasa dekat lewat kata-kata, tapi tidak benar-benar bersama. Nilam juga rindu jadi anak kecil. Sekarang, puisi-puisi itu dibaca lagi untuk mengerti perasaan dan menjadi lebih dewasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Puisi-puisi Nilam Cahya Maedy menunjukkan bahwa pengalaman emosional yang sulit dapat menjadi ruang pemahaman diri. Dengan membaca ulang karya-karya yang lahir dari amarah, kerinduan, dan penolakan, rasa sakit memperoleh jarak untuk dimaknai lebih matang, sementara penerimaan hadir sebagai proses yang manusiawi dan bertahap.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times - Dari amarah hingga penerimaan, puisi menjadi ruang refleksi untuk memahami kehilangan, kedewasaan, dan kenyataan hidup yang tak selalu sesuai harapan.

Menulis puisi bukan sekadar menuangkan emosi, tetapi juga menjadi cara untuk memahami pengalaman hidup. Hal inilah yang tercermin dalam karya-karya Nilam Cahya Maedy, yang mengangkat pergulatan batin tentang kehilangan, ilusi, hingga proses menerima kenyataan.

Melalui esai sastra bertajuk Dari Pengalaman ke Makna, Membaca Ulang Kehilangan dan Ilusi dalam Puisi Nilam Cahya Maedy, mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang mengajak pembaca melihat bagaimana pengalaman personal dapat berkembang menjadi ruang refleksi ketika karya dibaca kembali dengan sudut pandang yang lebih matang.

"Awalnya, puisi-puisi tersebut lahir secara spontan dari emosi yang kuat. Namun, seiring berjalannya waktu, pembacaan ulang justru membuka pemahaman baru tentang rasa sakit, ketakutan, dan proses pendewasaan diri,"katanya kepada IDN Times, Senin (19/10/2026).

1. . Puisi “Sial” dan “Usai” menggambarkan proses menerima kehilangan

Penggunaan kata “singgah” memperlihatkan bahwa keikhlasan bahkan belum mampu hadir sejenak dalam hati, Senin (19/10/2026).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Puisi berjudul Sial menjadi gambaran fase awal ketika seseorang menghadapi kehilangan. Amarah dan penolakan muncul sebagai respons terhadap rasa sakit yang belum mampu diterima.

Hal itu tergambar dalam larik:

Ikhlas masih enggan

singgah di dada.

Membiarkanku terus

merutuk dalam derita.

Penggunaan kata “singgah” memperlihatkan bahwa keikhlasan bahkan belum mampu hadir sejenak dalam hati. Perasaan masih dipenuhi penolakan, sementara amarah menjadi cara untuk menyembunyikan ketakutan dan keraguan terhadap diri sendiri.

Namun, perspektif tersebut berubah dalam puisi Usai. Melalui larik, “Namun aku belajar, bahwa ada kemenangan yang harus direlakan,” penulis menghadirkan pemahaman bahwa kemenangan tidak selalu berarti berhasil mempertahankan sesuatu.

Merelakan justru dapat menjadi bentuk kemenangan atas ego dan keinginan untuk terus melawan kenyataan.

Kedua puisi tersebut memperlihatkan bahwa menerima kehilangan bukanlah proses yang sederhana. Ada fase ketika seseorang berusaha menolak keadaan, sebelum akhirnya belajar berdamai dengan sesuatu yang tidak lagi dapat dipertahankan.

2. Kedekatan dalam tulisan tidak selalu berarti kehadiran nyata

Persoalan kehilangan juga muncul dalam puisi Untukmu Yang Mendekapku Dengan Kata, Senin (19/10/2026).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Persoalan kehilangan juga muncul dalam puisi Untukmu Yang Mendekapku Dengan Kata. Kali ini, kehilangan tidak hanya berkaitan dengan sesuatu yang pernah dimiliki, tetapi juga dengan kedekatan yang hidup dalam ruang imajinasi dan tulisan.

Hal tersebut tergambar dalam larik:

Kita bukan hidup

di dunia nyata.

Aku dan kamu,

hanya ada

dalam aksara.

Kata “hanya” menegaskan batas antara kedekatan emosional dan kehadiran fisik. Sosok yang dicintai mungkin terasa dekat melalui kata-kata, tetapi hubungan tersebut belum sepenuhnya terwujud dalam kehidupan nyata.

Di sisi lain, tulisan menjadi ruang perlindungan bagi perasaan yang tidak dapat diwujudkan secara langsung. Melalui aksara, kedekatan tetap dapat dirawat meskipun dibatasi jarak dan kenyataan.

Puisi ini memperlihatkan bahwa dunia tulisan dapat menjadi tempat seseorang menyimpan harapan dan perasaan. Namun, pada saat yang sama, tulisan juga mengingatkan bahwa kedekatan yang dibangun melalui imajinasi memiliki batasnya sendiri.

3. "Mimpi Itu Ilusi” mengungkap kerinduan terhadap masa kecil

Dalam puisi Mimpi Itu Ilusi, Maudy sebut masa kecil digambarkan sebagai periode ketika persoalan terasa sederhana, Senin (19/10/2026).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Dalam puisi Mimpi Itu Ilusi, kehilangan berkembang menjadi persoalan yang lebih mendalam. Bukan lagi semata-mata kehilangan seseorang, melainkan kehilangan kepolosan masa kecil dan gambaran ideal tentang kehidupan ketika dewasa.

Masa kecil digambarkan sebagai periode ketika persoalan terasa sederhana. Konflik, seperti berebut mainan dengan adik, dapat selesai dalam waktu singkat tanpa meninggalkan kecemasan berkepanjangan.

Kerinduan tersebut tertuang dalam larik:

Aku rindu jadi anak kecil lagi,

saat dunia belum sekeras ini.

Larik tersebut mencerminkan keinginan untuk kembali ke masa ketika kehidupan belum dipenuhi tuntutan dan kerumitan emosional.

Namun, keinginan itu juga menyimpan ilusi. Masa kecil tidak mungkin diulang, sementara anggapan bahwa menjadi dewasa berarti memperoleh kebebasan sepenuhnya ternyata tidak selalu sesuai kenyataan.

Kedewasaan justru membawa tanggung jawab, tuntutan untuk mengelola emosi, serta kemampuan menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan.

Dalam prosesnya, ketulusan yang dahulu hadir secara alami dapat tergeser oleh kebiasaan menyembunyikan luka di balik sikap tegar. Kehilangan pun terasa ketika seseorang menyadari bahwa dirinya telah berubah, sementara waktu terus berjalan tanpa bisa diputar kembali

Melalui keempat puisi tersebut, Nilam Cahya Maedy memperlihatkan bahwa proses pendewasaan tidak selalu berjalan secara linear. Rasa sakit, penolakan, kerinduan, dan penerimaan dapat hadir secara bergantian.

Seseorang mungkin merasa telah berdamai dengan masa lalu, tetapi kembali dihadapkan pada perasaan yang sama ketika ingatan tertentu muncul. Karena itu, keikhlasan tidak selalu dapat dicapai dalam satu tahap.

Membaca ulang puisi-puisi lama menjadi cara untuk memahami perjalanan tersebut. Teks memberikan jarak antara pengalaman dan perasaan, sehingga sesuatu yang dahulu hanya terasa menyakitkan dapat dipahami melalui perspektif yang berbeda.

Curated For You

Editorial Team

Related Article