Banyumas, IDN Times - Dari amarah hingga penerimaan, puisi menjadi ruang refleksi untuk memahami kehilangan, kedewasaan, dan kenyataan hidup yang tak selalu sesuai harapan.
Menulis puisi bukan sekadar menuangkan emosi, tetapi juga menjadi cara untuk memahami pengalaman hidup. Hal inilah yang tercermin dalam karya-karya Nilam Cahya Maedy, yang mengangkat pergulatan batin tentang kehilangan, ilusi, hingga proses menerima kenyataan.
Melalui esai sastra bertajuk Dari Pengalaman ke Makna, Membaca Ulang Kehilangan dan Ilusi dalam Puisi Nilam Cahya Maedy, mahasiswa Program Studi Bimbingan Konseling Islam, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang mengajak pembaca melihat bagaimana pengalaman personal dapat berkembang menjadi ruang refleksi ketika karya dibaca kembali dengan sudut pandang yang lebih matang.
"Awalnya, puisi-puisi tersebut lahir secara spontan dari emosi yang kuat. Namun, seiring berjalannya waktu, pembacaan ulang justru membuka pemahaman baru tentang rasa sakit, ketakutan, dan proses pendewasaan diri,"katanya kepada IDN Times, Senin (19/10/2026).
