Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Menekraf Riefky Belajar Bundengan di Desa Kreatif Giyanti Wonosobo

Kota Semarang
4 min read
Menekraf Riefky Belajar Bundengan di Desa Kreatif Giyanti Wonosobo
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ke Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. (IDN Times/Dok Kementerian Ekraf)
  • Menekraf Teuku Riefky Harsya belajar memainkan bundengan bersama seniman Sri Mulyani di Dusun Giyanti, Wonosobo, sebagai bagian kunjungan ke desa kreatif.

  • Sri Mulyani melestarikan bundengan dan tari Topeng Lengger melalui Sanggar Ngesti Laras, sekaligus membuka ruang berkesenian bagi anak-anak penyandang disabilitas.

  • Kementerian Ekonomi Kreatif mengadakan pelatihan seni, pemasaran, produk lokal, dan AI untuk memperkuat potensi budaya desa menjadi peluang usaha serta kemandirian masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Wonosobo, IDN Times - Ada yang berbeda dari kunjungan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ke Dusun Giyanti, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Di hadapan sejumlah warga dan pegiat seni, Riefky duduk bersama Sri Mulyani, seniman sekaligus pendiri Sanggar Tari Ngesti Laras, sang menteri belajar memainkan alat musik tradisional bernama bundengan.

Dengan sabar, Mulyani mengajarkan cara memainkan alat musik berbahan bambu yang bentuknya menyerupai cangkang kura-kura itu. Jari-jari Riefky mulai mencoba memetik dawai yang terpasang di bagian dalam bundengan, mengikuti petunjuk sang maestro.

Tak butuh waktu lama sampai ia mulai menemukan iramanya. Dari sudut lain, Ananda Mikola, salah seorang murid Mulyani, mulai melantunkan suara. Ia bernyanyi mengikuti irama bundengan yang dimainkan sang menteri. Perpaduan petikan dan suara itu seketika mengundang tepuk tangan hadirin.

Mulyani telah mengabdikan diri pada pelestarian seni tradisional Wonosobo melalui Sanggar Tari Ngesti Laras sejak 1992. Selain mengembangkan tari Topeng Lengger, ia aktif memperkenalkan bundengan kepada generasi muda sejak 2015. Kesenian tersebut juga telah dibawa ke sejumlah panggung internasional, termasuk Australia, Thailand, dan Jerman.

Sanggar yang dikelolanya turut memberikan ruang berkesenian bagi anak-anak penyandang disabilitas. Salah satunya Ananda Mikola, yang melalui seni pertunjukan menemukan kepercayaan diri untuk mengembangkan bakat dan tampil di hadapan publik.

Di Giyanti, Kementerian Ekonomi Kreatif menggelar Workshop Harmoni Seni Pertunjukan untuk meningkatkan kapasitas para pegiat seni dalam mengembangkan kualitas pertunjukan, mulai dari koreografi, tata panggung, hingga kostum. Peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pemasaran digital, pengembangan identitas pertunjukan, dan peluang kemitraan.

Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan, pengembangan ekonomi kreatif harus memberi kesempatan kepada masyarakat daerah untuk tumbuh dengan kekuatan yang mereka miliki sendiri. Setiap desa memiliki kekayaan budaya, kreativitas, dan sumber daya manusia yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

“Di Giyanti, kita melihat bagaimana sebuah warisan budaya bisa terus hidup karena ada orang-orang yang bersedia merawat dan mengajarkannya. Tugas kita memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Kita ingin tradisi tetap terjaga, anak-anak muda punya kesempatan mengembangkan bakatnya, dan karya-karya dari desa memiliki jalan untuk dikenal serta memberikan penghidupan bagi masyarakatnya,” ujar Riefky dalam keterangan yang diterima IDN Times, Selasa (3/11/2026).

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari program Aktivasi Desa Kreatif yang digagas Kementerian Ekonomi Kreatif untuk mengembangkan potensi budaya dan kreativitas masyarakat desa menjadi peluang ekonomi.

Selain seni pertunjukan, pengembangan ekonomi kreatif di Giyanti juga diarahkan pada penguatan ruang kreatif.

Sebanyak 80 peserta yang terdiri atas pelaku ekonomi kreatif, komunitas, dan unsur pemerintah desa serta daerah mengikuti kegiatan pengembangan produk, penguatan jejaring, dan pemasaran produk lokal.

Kementerian Ekonomi Kreatif juga menggelar Workshop SIAP Talenta Jasa TIK bertema “AI sebagai Asisten Usaha: Kerja Lebih Ringkas, Keputusan Lebih Tepat” yang diikuti 50 peserta. Bersama praktisi teknologi informasi Kuntjoro Pinardi, peserta mempelajari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pekerjaan rutin, meningkatkan efisiensi usaha, dan mengolah data sebagai dasar pengambilan keputusan.

Menurut Menteri Riefky, potensi ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar. Desa memiliki kekayaan budaya, kreativitas, sumber daya manusia, dan kearifan lokal yang dapat menjadi kekuatan ekonomi apabila dikelola dan dikembangkan secara berkelanjutan.

“Yang kita dorong bukan hanya supaya sebuah desa bisa menampilkan kesenian atau menghasilkan produk kreatif. Lebih dari itu, kita ingin masyarakatnya menjadi pelaku utama, anak-anak mudanya punya ruang untuk berkarya, tradisinya tetap hidup, dan yang paling penting: kreativitas itu bisa menghasilkan nilai tambah serta membuka lapangan usaha," tuturnya.

Riefky berharap Aktivasi Desa Kreatif dapat memperkuat kemandirian komunitas melalui kolaborasi masyarakat, sanggar, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan jejaring pelaku industri kreatif.

“Jangan sampai suatu hari kita hanya bisa menceritakan bahwa dulu Wonosobo punya bundengan, dulu ada Topeng Lengger, dan dulu anak-anak belajar gamelan. Kita ingin kesenian itu tetap dimainkan hari ini, dipelajari anak-anak esok hari, dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat. Kita ingin membangun mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari desa, dari daerah,” ujar Riefky.

    Related Articles

    See More