Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Misteri Angka 4 di Lift Rumah Sakit atau Hotel, Kenapa Selalu Dilewati
ilustrasi lift (pexels.com/cottonbro studio)
  • Hilangnya tombol angka 4 di lift berakar dari takhayul budaya yang disebut tetraphobia (ketakutan terhadap angka empat), terutama di Asia Timur dan Tenggara.

  • Secara linguistik, pelafalan angka 4 dalam bahasa Mandarin terdengar hampir identik dengan kata "mati".

  • Pihak manajemen gedung menggunakan trik arsitektur seperti mengubah lantai 4 menjadi 3A atau melompat langsung ke lantai 5 untuk menghindari ketidaknyamanan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di banyak hotel dan rumah sakit, tombol angka 4 kadang tidak ada. Banyak orang di Asia Timur dan Tenggara takut angka 4 karena bunyinya mirip kata mati dalam bahasa Mandarin. Jadi lantai 4 bisa diberi nama 3A atau langsung jadi 5. Lantainya tetap ada, cuma namanya diubah supaya orang tidak takut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu masuk ke dalam lift di hotel, apartemen, atau rumah sakit, lalu menyadari bahwa tombol lantai 4 tiba-tiba menghilang? Fenomena ini bukanlah sebuah kesalahan desain, melainkan sebuah keputusan psikologis dan budaya yang sangat disengaja.

Bagi para pengembang properti dan manajemen gedung, mengubah susunan angka di panel lift adalah langkah krusial untuk menjaga nilai properti sekaligus memberikan ketenangan pikiran bagi tamu atau pasien yang memercayai takhayul. Berikut adalah penjelasan linguistik, psikologis, dan arsitektur di balik fenomena ini!

1. Akar Linguistik: Bunyi yang Menyerupai Kematian

ilustrasi lift (pexels.com/Ana Benet)

Alasan utama munculnya tetraphobia berasal dari cara angka 4 dilafalkan dalam beberapa bahasa di Asia Timur, khususnya bahasa Mandarin.

  • Kemiripan Bunyi

    • Dalam bahasa Mandarin, kata untuk angka empat adalah 四 (). Pelafalan ini terdengar sangat mirip dengan kata untuk mati, yaitu 死 (). Perbedaan keduanya hanya terletak pada nada vokalnya saja.

  • Asosiasi Psikologis

    • Karena bunyinya yang hampir identik, alam bawah sadar manusia secara otomatis mengaitkan angka 4 dengan kefanaan, kesialan, dan malapetaka. Pola fonetik yang mirip juga ditemukan dalam bahasa Jepang (shi) dan Korea (sa), yang semakin memperkuat tabu budaya ini di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.

2. Alasan Rumah Sakit sangat Menghindari Angka 4

ilustrasi lift (pexels.com/MART PRODUCTION)

Jika hotel menghindari angka 4 agar tamu merasa nyaman, rumah sakit mengambil langkah ini jauh lebih serius karena berkaitan erat dengan lingkungan penyembuhan.

Kondisi Awal

Reaksi Psikologis

Dampak Terhadap Pasien

Pasien melihat tombol "4" (mati)

Memicu kecemasan dan kepanikan bawah sadar

Stres berlebih (efek nocebo) yang dapat menghambat pemulihan fisik

Rumah sakit adalah tempat untuk mencari kesembuhan dan mempertahankan hidup. Menyediakan lantai yang secara eksplisit diasosiasikan dengan "kematian" bisa memicu kecemasan parah pada pasien yang kondisi kesehatannya sedang rapuh. Untuk menjaga suasana emosional yang positif, manajemen rumah sakit memilih untuk menghilangkan angka tersebut sepenuhnya dari pandangan.

3. Dua Solusi Cerdas Arsitektur

ilustrasi lift (freepik.com/Freepik)

Para arsitek dan produsen lift menggunakan dua trik desain untuk memperbaiki dilema penomoran ini tanpa harus mengubah struktur fisik bangunan sama sekali:

  • Metode Substitusi Alfabet (3A)

    • Alih-alih melompat langsung dari angka 3 ke 5, pihak pengembang mengubah pelabelan lantai empat menjadi 3A. Pada gedung pencakar langit yang lebih tinggi, aturan ini juga berlaku untuk lantai lainnya, seperti lantai 14 yang menjadi 13A, atau lantai 24 menjadi 23A.

  • Metode Lompat Total (Complete Skip)

    • Pada beberapa gedung, angka 4 benar-benar dilewati pada panel kontrol. Tombol lift berjalan dari angka 1, 2, 3, lalu melompat langsung ke 5. Secara struktur fisik, lantai keempat tetap ada, tetapi secara visual dan digital diberi nama lantai 5 untuk konsumsi publik.

4. Perbandingan Tata Letak Panel Lift

ilustrasi menekan tombol yang ada di dalam lift (pexels.com/Kelly)

Untuk memberikan gambaran visual, berikut adalah perbedaan susunan kontrol panel lift pada desain bangunan standar dibandingkan dengan bangunan yang mengadaptasi tetraphobia:

Panel Standar (Barat)

Panel Modifikasi (Asia)

Lantai 5 & 6

Lantai 5 & 6

Lantai 3 & 4

Lantai 3 & 3A

Lantai 1 & 2

Lantai 1 & 2

5. Versi Barat: Ketakutan Terhadap Angka 13

ilustrasi tombol lift (Pexels.com/Erik Mclean)

Fenomena tetraphobia di budaya Timur sebenarnya memiliki padanan psikologis yang sama persis di budaya Barat, yaitu triskaidekaphobia (ketakutan terhadap angka 13).

Sama halnya seperti gedung-gedung di Asia yang menghilangkan angka 4, banyak hotel dan gedung perkantoran di Amerika Serikat maupun Eropa yang sepenuhnya menghapus lantai 13 dari bangunan mereka karena alasan mitos historis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article