Kapan Rebo Wekasan 2026? Ini Tanggal, Sejarah, dan Mitos Tolak Bala di Jateng

- Rebo Wekasan 2026 diperingati pada Rabu, 12 Agustus 2026, bertepatan dengan 28 Safar 1448 H, yakni Rabu terakhir bulan Safar.
- Tradisi ini memadukan ajaran Islam dan kearifan lokal; Wali Songo serta ulama Jawa mengarahkan kebiasaan berkumpul menjadi salat Hajat, doa bersama, dan pembacaan Al-Qur'an.
- Sebagian warga Jawa Tengah menganggapnya rawan musibah, lalu menjalankan tradisi Air Salamun, membatasi aktivitas malam, serta membagikan apem atau nasi tumpeng.
Surakarta, IDN Times — Bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan sekitarnya, istilah Rebo Wekasan atau Rebo Pungkasan tentu sudah tidak asing lagi. Tradisi tahunan yang jatuh pada hari Rabu terakhir di bulan Safar dalam penanggalan Hijriah ini kerap dipenuhi dengan berbagai ritual keagamaan, doa bersama, hingga amalan penolak bala.
Lantas, kapan tepatnya peringatan Rebo Wekasan pada tahun 2026 ini jatuh? Mengapa hari tersebut dianggap keramat dan kaya akan tradisi turun-temurun?
Berikut tanggal resmi Rebo Wekasan 2026 beserta sejarah singkat dan mitos tradisinya ala IDN Times. Yuk, simak biar makin paham, Lur!
1. Tanggal Resmi Peringatan Rebo Wekasan 2026

Peringatan Rebo Wekasan ditentukan berdasarkan perhitungan kalender Hijriah Islam dan kalender Jawa.
Penentuan Rebo Wekasan: Rebo Wekasan adalah hari Rabu terakhir di bulan Safar (bulan ke-2 dalam kalender Hijriah).
Kalender Hijriah 1448 H:
1 Muharram 1448 H jatuh pada pertengahan Juni 2026.
Bulan Safar 1448 H dimulai sekitar pertengahan Juli 2026.
Hari Rabu terakhir pada bulan Safar 1448 H tersebut jatuh tepat pada 12 Agustus 2026 (bertepatan dengan 28 Safar 1448 H).
2. Sejarah Singkat dan Asal-Usul Tradisi Rebo Wekasan

Tradisi Rebo Wekasan memiliki akar sejarah panjang yang memadukan ajaran agama dengan kearifan lokal (akulturasi budaya).
Tradisi ini bermula dari keyakinan sebagian ulama terdahulu dan para wali penyearah agama di Tanah Jawa. Dalam beberapa literatur klasik seperti kitab Jawahirul Khams, terdapat pandangan bahwa pada Rabu terakhir bulan Safar, Allah SWT menurunkan berbagai ujian atau cobaan ke bumi.
Para Wali Songo dan ulama Jawa tidak menghilangkan kebiasaan berkumpul warga, melainkan mengubah ritual mistis zaman dulu menjadi sarana ibadah mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui salat sunah Hajat, doa bersama, dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an.
3. Mitos Tolak Bala dan Tradisi Unik di Jawa Tengah

Di berbagai daerah di Jawa Tengah, Rebo Wekasan dirayakan dengan berbagai ritual dan mitos yang unik serta syarat akan makna simbolis:
Masih banyak masyarakat yang mempercayai bahwa Rebo Wekasan adalah hari yang rawan musibah. Oleh karena itu, orang tua kerap menasihati anak-anaknya untuk mengurangi aktivitas di luar rumah yang tidak perlu saat malam Rebo Wekasan.
Di beberapa tempat seperti Kudus dan Demak, warga mengumpulkan air doa yang dimasukkan kertas berisi ayat-ayat Al-Qur'an (Air Salamun) untuk diminum atau digunakan membasuh muka agar terhindar dari penyakit.
Di wilayah Pantura dan Solo Raya, Rebo Wekasan diisi dengan pembagian makanan gratis berupa kue apem atau nasi tumpeng. Kata "apem" sendiri dipercayai berasal dari bahasa Arab afwun yang berarti memohon ampunan.























