Surakarta, IDN Times - Digitalisasi menjadi salah satu kunci Koperasi Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kelurahan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah dalam mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan kepercayaan anggotanya. Berawal dari garasi rumah, koperasi ini kini mampu mencatat omzet lebih dari Rp300 juta, mulai periode Januari hingga Juni 2026.
Digitalisasi Bikin Kopdes di Banjarsari Solo Raup Omzet Rp300 Juta

- Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari, Solo, mencatat omzet lebih dari Rp300 juta pada Januari-Juni 2026 dan diperkirakan mendekati Rp350 juta.
- Digitalisasi melalui aplikasi MyKopkel memfasilitasi pendaftaran anggota, pembayaran simpanan, dompet digital, QRIS, pemesanan, serta pembukuan transparan yang membantu menekan biaya operasional.
- Berawal dari garasi dengan 32 anggota, koperasi memperluas gerai dan jam layanan; dua sesi operasional menaikkan rata-rata omzet harian dari Rp2 juta menjadi sekitar Rp3 juta.
Bahkan, omzet tersebut diperkirakan telah mendekati Rp350 juta. Capaian itu diraih meski pada awalnya gerai koperasi hanya beroperasi selama dua jam sehari.
Ketua Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo, adalah Budi Agung Setyowicoyo mengatakan pencapaian tersebut bukan sesuatu yang luar biasa. Baginya, angka itu justru menjadi modal awal untuk membangun koperasi yang lebih kuat dengan memanfaatkan teknologi digital.
1. Semua aktivitas koperasi masuk aplikasi MyKopkel

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Salah satu inovasi yang diterapkan KKMP Banjarsari adalah penggunaan aplikasi My Kopkel untuk mendukung berbagai aktivitas koperasi. Aplikasi tersebut dikembangkan untuk membuat pengelolaan koperasi lebih praktis sekaligus transparan.
Melalui aplikasi tersebut, warga dapat mendaftar sebagai anggota koperasi, melakukan top up saldo, membayar simpanan pokok dan simpanan wajib, hingga berbelanja di gerai.
“Dan itu sudah bisa di-download di Play Store oleh semua warga kami dan bahkan beberapa koperasi Merah Putih di Surakarta ini sudah ingin bergabung untuk menggunakan aplikasi ini, karena aplikasi ini kami rasakan juga bisa menekan biaya operasional, kan begitu,” ujarnya kepada IDN Times, Senin (7/9/2026).
MyKopkel juga memiliki fitur dompet digital yang dapat digunakan anggota untuk bertransaksi. Sistem tersebut kemudian terintegrasi dengan kebutuhan transaksi koperasi, mulai dari QRIS hingga virtual account.
“Jadi mereka bisa top up saldo digital, dompet digital mereka itu menggunakan virtual account. Kemudian pada saat mereka berbelanja memang ada yang datang ke gerai,” katanya.
Tidak hanya transaksi, aplikasi tersebut juga digunakan untuk mendukung pencatatan dan pembukuan koperasi. Di dalamnya tersedia fitur point of sale (POS) sehingga transaksi di gerai dapat dilakukan layaknya toko modern.
2. Berawal dari garasi, omzet tembus Rp300 juta

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Transformasi digital tersebut berjalan beriringan dengan perkembangan usaha koperasi. KKMP Banjarasaru sebenarnya telah mulai membuka gerai sejak September 2025.
Saat itu, koperasi belum memiliki tempat usaha yang memadai sehingga kegiatan operasional dilakukan dari garasi rumah pribadi. Modal awal pun masih terbatas dengan jumlah anggota sebanyak 32 orang.
“Sejak Januari memang mulai intens, yang sebenarnya kita sudah mulai membuka gerai itu di bulan September, saat itu kita berawal dari garasi rumah pribadi saya. Ya, karena apa? Karena kita tidak punya tempat untuk memulai,” ujarnya.
Dari 32 anggota tersebut, koperasi menghimpun simpanan pokok sebesar Rp100 ribu dan simpanan wajib Rp10 ribu setiap bulan.
Modal tersebut kemudian digunakan untuk menghadirkan berbagai produk kebutuhan masyarakat. Tujuannya bukan sekadar menjalankan kegiatan usaha, tetapi juga membangun kepercayaan warga terhadap koperasi.
“Nah, dari angka itu ya kita coba untuk menghadirkan produk-produk kebutuhan masyarakat sehingga koperasi ini punya kegiatan dan harapan kami dengan adanya kegiatan itu masyarakat semakin tumbuh kepercayaannya terhadap koperasi merah putih,” katanya.
Perkembangan usaha semakin terlihat setelah koperasi mendapatkan tempat baru berupa rumah dinas kelurahan yang sebelumnya tidak digunakan. Lokasi yang lebih luas memungkinkan koperasi menyediakan produk lebih beragam.
Dari sinilah kepercayaan masyarakat disebut semakin tumbuh. Digitalisasi menjadi salah satu faktor pendukung karena anggota dapat memantau aktivitas koperasi melalui ponsel mereka.
3. Buka dua sesi, omzet harian naik jadi Rp3 juta.

Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari, Solo. (IDN Times/Larasati Rey) Omzet KKMP Banjarsari tidak langsung besar sejak awal. Pertumbuhannya terjadi secara bertahap dari Januari hingga bulan-bulan berikutnya.
Peningkatan signifikan terjadi menjelang Idul Fitri. Banyak warga yang memesan kebutuhan untuk dibuat menjadi parsel sehingga omzet koperasi mencapai titik tertinggi pada Maret.
“Omset tertinggi kita di Maret, kemudian April dan selanjutnya ada penurunan, kemudian naik lagi. Dan memang rata-rata sampai bulan Juni kemarin, pada saat dari Airkop, itu omset kami membuka 300 juta lebih. Kalau sampai hari ini saya pastikan mungkin sudah menyentuh 350. Iya, jadi begitu,” jelasnya.
Menariknya, omzet tersebut diraih ketika gerai secara fisik hanya dibuka sekitar dua jam. Namun, transaksi tidak berhenti ketika gerai tutup karena anggota tetap dapat melakukan pemesanan melalui aplikasi.
“Intinya begini, kami punya aplikasi, bahwa kami buka real dua jam, iya. Tapi mereka bisa pesan lewat aplikasi dan setelah jam kerja itu kami juga bisa melayani untuk pengirimannya. Kan begitu,” ujarnya.
Seiring meningkatnya jumlah pembeli yang datang langsung, jam operasional gerai kemudian diperluas menjadi dua sesi. Salah satunya berlangsung pada pukul 16.00-18.00 WIB.
Perubahan tersebut turut mendongkrak omzet rata-rata. Jika sebelumnya omzet sekitar Rp2 juta dalam dua jam, kini rata-ratanya meningkat menjadi sekitar Rp3 juta setelah diberlakukan dua sesi.
“Yang dulunya dua jam rata-rata di 2 juta, ini untuk dua sesi ini sudah ada peningkatan dari 2 juta menjadi kurang lebih di rata-rata 3 juta. Begitu, Mbak,” katanya.
Bagi KKMP Banjarsari, capaian omzet tersebut bukan akhir dari perjalanan. Digitalisasi justru diposisikan sebagai fondasi untuk membuat pengelolaan koperasi lebih efisien, transparan, dan mudah diakses anggota melalui genggaman.
Sementara itu, salah seorang warga Banjarsari Rini mengaku berbelanja di KKMP Banjarsari sudah menjadi langganannya. Menurutnya harga di koperasi lebih murah bila dibandingkan dengan toko kelontong lainnya.
“Bagus sangat membantu karena mungkin harganya ya kacek (selisih harga), kalau ibu-ibu itu kalau kacek Rp 500 itu diparani (didatangi) gitu, saya rasa sangat membantu sekali,” jelasnya.
“Saya biasanya rutin ya belanjak minyak, kadang-kadang kita nambah terigu gitu, teh, kadang gula juga,” pungkasnya.
Dengan lokasinya di area padat penduduk, menjadikan KKMP Banjarsari pilihan, terlebih hadirnya sistem digitalisasi memudahkan masyarakat untuk berbelanja.





















