Semarang, IDN Times - Koperasi Kelurahan Merah Putih (KKMP) Banjarsari Solo menyatakan saat ini memiliki kenaikan omzet yang banyak. Kenaikan omzet terjadi mulai Januari-Juni 2026 kemarin.
Jualan Beras SPHP, Koperasi Desa Banjarsari Solo Cuan Sampai Rp300 Juta

- Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari Solo mencatat lonjakan omzet dari Rp2 juta pada 2025 menjadi lebih dari Rp300 juta sepanjang Januari–Juni 2026.
- Koperasi berperan sebagai off taker dan hub distribusi sembako, menjual beras SPHP serta minyak goreng sambil memberdayakan 130 anggota yang mayoritas pelaku UMKM lokal.
- Pemprov Jawa Tengah mengintegrasikan pendidikan koperasi ke kurikulum sekolah melalui Program Insersi Pendidikan Perkoperasian untuk memperkuat ekonomi kerakyatan sejak usia dini.
Setelah membukukan sisa hasil usaha (SHU) sebesar Rp2 juta pada akhir 2025, omzetnya melonjak menjadi lebih dari Rp300 juta sepanjang Januari hingga Juni 2026.
"Saya meyakini ke depan, dari di akhir tahun kita akan meningkat tajam terkait dengan pembukuan SHU-nya," kata Ketua KKMP Banjarsari, Budi Agung Setyowicoyo dalam keterangan yang diterima IDN Times, Minggu (12/7/2026).
1. Kopdes Banjarsari klaim rangkul UMKM

Ia pun menjelaskan jika Kopdes Banjarsari dibentuk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus memperkuat sektor UMKM wilayah Banjarsari.
KKMP Banjarsari tidak hanya menjual kebutuhan pokok, tetapi juga berperan sebagai off taker bagi produk-produk UMKM sekaligus hub distribusi sembako bagi masyarakat.
Sebagai off taker, koperasi menyerap sekaligus membantu memasarkan produk UMKM sehingga pelaku usaha memiliki kepastian pasar. Adapun sebagai hub, koperasi menjadi pusat distribusi kebutuhan pokok dengan menggandeng Bulog, ID Food, dan distributor lainnya agar pasokan lebih terjamin, rantai distribusi lebih pendek, dan harga lebih kompetitif bagi masyarakat.
"Kita berperan sebagai off taker dari Koperasi Merah Putih terhadap UMKM dan kita juga akan memerankan diri sebagai hub untuk produk-produk kebutuhan sembako bagi warga kita," ujarnya.
2. Kopdes Banjarsari jualan beras SPHP dan minyak goreng

Saat ajang pameran produk Koperasi dan UMKM pada rangkaian Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tingkat Provinsi Jawa Tengah di Stadion Manahan, Surakarta, Sabtu, kemarin, KKMP Banjarsari membawa berbagai produk UMKM, seperti batik, blangkon, tenun ikat, batik ciprat, ecoprint, dan aneka kerajinan tangan. Koperasi juga menjual beras SPHP, beras premium, serta berbagai merek minyak goreng untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Perjalanan Kopdes Banjarsari terbilang singkat, tetapi pertumbuhannya cukup pesat.
Adapun anggotanya kini 130 orang. Mayoritas merupakan pelaku UMKM, mulai dari pedagang nasi goreng, penjual rice bowl, hingga pemilik toko kelontong.
Menurut Budi, kehadiran koperasi justru memperkuat usaha toko kelontong karena menjadi tempat memperoleh pasokan barang dengan harga yang lebih baik.
Menariknya, seluruh aktivitas koperasi bermula dari garasi rumah ketua koperasi sebelum akhirnya berpindah ke rumah dinas lurah yang tidak ditempati. Bagi pengurus, manfaat bagi masyarakat jauh lebih penting daripada menunggu gedung permanen berdiri.
"Kami sepakat dengan pengurus dan seluruh anggota bahwa kita tidak akan menunggu gedungnya ada. Karena masyarakat sudah menunggu kehadiran Koperasi Merah Putih," ujarnya.
3. Pemprov Jateng integrasikan Pendidikan koperasi di sekolah

Menurut Sekda Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan melalui koperasi.
"Pemerintah Republik Indonesia punya gawe yang cukup besar, bagaimana menumbuh kembangkan ekonomi kerakyatan dengan membangun Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih (KDKMP)," kata Sumarno saat memberikan sambutan.
Untuk memastikan program tersebut berkelanjutan, Pemprov Jateng bahkan melakukan langkah yang tidak banyak dilakukan daerah lain, yakni mengintegrasikan pendidikan perkoperasian ke dalam pembelajaran di sekolah.
Melalui Program Insersi Pendidikan Perkoperasian, Jawa Tengah menjadi provinsi pelopor yang menerapkan pendidikan koperasi secara sistematis dan berkelanjutan dengan sasaran sekitar 6,38 juta peserta didik mulai dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA hingga SLB.
"Kita punya konsep untuk insersi pendidikan koperasi, karena apa? pemahaman terhadap konsep koperasi mungkin belum dipahami secara utuh," ujarnya.
Menurut Sumarno, Pemprov Jateng akan menjalankan program tersebut pada jenjang SMA, SMK, MA, dan SLB sesuai kewenangannya.
Ia juga mengajak pemerintah kabupaten dan kota berkolaborasi mengimplementasikan pendidikan koperasi pada jenjang SD dan SMP, sehingga pemahaman tentang koperasi dapat ditanamkan sejak usia dini dan menjadi fondasi penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di masa depan.





















