Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Salsabila Damayanti, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Melalui inovasi Redevice (Redesigning the Life of What We Call Waste. (IDN Times/Foto : Dok. Salsabila)
  • Dosen Unsoed Salsabila Damayanti meraih lima penghargaan GYIS 2026 lewat Redevice, model yang menghubungkan pengelolaan sampah, pemberdayaan ekonomi, dan akses pasar.

  • Redevice memanfaatkan gotong royong, PKK, bank sampah, dan TPST; di Banyumas serta Madiun, limbah diolah menjadi pakan maggot, aromaterapi, kerajinan, hingga tas yang dipasarkan ke Belanda.

  • Keberlanjutan program masih terkendala konsistensi pemilahan sampah dan minimnya penggerak lokal; Redevice memakai kode QR untuk melacak material dari pengumpulan hingga pemasaran.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
28 September hingga 2 Oktober 2026

Salsabila Damayanti mengikuti Global Youth Innovation Summit (GYIS) 2026 di Malaysia dan Singapura. Inovasi Redevice mengantarkannya meraih lima penghargaan.

3 November 2026

Salsabila menjelaskan kepada IDN Times bahwa Redevice menghubungkan pengelolaan limbah, pemberdayaan ekonomi, dan akses pasar berbasis masyarakat.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Salsabila Damayanti meraih lima penghargaan GYIS 2026 melalui Redevice, inovasi pengelolaan sampah berbasis warga yang menghubungkan pengumpulan, pengolahan limbah, pembuatan produk, pemberdayaan ekonomi, dan pemasaran.
  • Who?
    Salsabila Damayanti, dosen Sosiologi FISIP Universitas Jenderal Soedirman, meraih penghargaan. Warga Desa Rempoah Banyumas dan Desa Sambirejo Madiun terlibat dalam penerapan kegiatan pengelolaan serta kerajinan sampah.
  • Where?
    GYIS 2026 berlangsung di Malaysia dan Singapura. Penerapan Redevice dilakukan antara lain di Desa Rempoah, Banyumas, sementara kerajinan tas plastik dikembangkan bersama ibu-ibu rumah tangga di Desa Sambirejo, Madiun.
  • When?
    Penghargaan diraih dalam GYIS 2026 yang berlangsung 28 September hingga 2 Oktober 2026. Salsabila menyampaikan keterangan mengenai inovasinya pada Selasa, 3 November 2026.
  • Why?
    Redevice dikembangkan karena keterlibatan warga dalam pemilahan sampah dan keberlanjutan program belum optimal, meski Indonesia telah memiliki PKK, bank sampah, dan TPST sebagai modal pengelolaan limbah kolektif.
  • How?
    Sampah dipilah; material bernilai jual dikumpulkan melalui bank sampah, sampah organik dimanfaatkan sebagai pakan maggot, dan limbah diolah menjadi produk. Perjalanan material dicatat memakai kode QR serta dokumentasi dampak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bu Salsabila dari Unsoed membuat Redevice untuk mengajak warga mengolah sampah. Ia mendapat lima hadiah di acara GYIS 2026 di Malaysia dan Singapura. Sampah bisa jadi aromaterapi, wayang, dan tas sampai dijual ke Belanda. Sekarang, warga masih perlu rajin memilah sampah dan butuh orang yang mengajak mereka terus bekerja bersama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Inovasi Redevice menunjukkan bahwa potensi pengelolaan sampah berbasis warga dapat dirangkai menjadi manfaat yang nyata. Berpijak pada gotong royong, bank sampah, PKK, dan TPST, pendekatan ini menghubungkan pemilahan, pengolahan, produk kreatif, hingga pemasaran, sembari membuka ruang pendapatan bagi perajin perempuan dan menarik perhatian akademisi luar negeri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times – Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah solusi untuk mengatasi persoalan sampah, mulai dari bank sampah, kelompok PKK, hingga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun, belum optimalnya keterlibatan masyarakat dan keberlanjutan program membuat potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan.

Kepada IDN Times, Selasa (3/11/2026) persoalan itu menjadi perhatian Salsabila Damayanti, dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Melalui inovasi Redevice (Redesigning the Life of What We Call Waste), ia menawarkan pendekatan pengelolaan sampah yang menghubungkan masyarakat, pengolahan limbah, pemberdayaan ekonomi, hingga akses pasar.

Gagasan tersebut mengantarkan Salsabila meraih lima penghargaan dalam Global Youth Innovation Summit (GYIS) 2026 yang berlangsung di Malaysia dan Singapura pada 28 September hingga 2 Oktober 2026 silam.

Lima penghargaan itu terdiri dari Juara 1 SDGs Project Video, Juara 1 Best Speaker, Juara 2 SDGs Project Presentation, Juara 2 Most Inspirational Leader, dan Juara 2 Best Team.

1. Akademisi luar negeri tertarik mempelajari pengelolaan sampah Indonesia

Akademisi dari luar negeri melihat langsung praktik pengelolaan sampah di Indonesia. Pengalaman tersebut menarik perhatian kalangan akademisi internasional untuk mempelajari pendekatan dan solusi pengelolaan sampah di Indonesia, Selasa (2/11/2026).(IDN Times/Foto : Ilustrasi)

Salsabila menceritakan, dalam pertemuannya dengan akademisi dan diaspora di Malaysia serta Singapura, ia justru menemukan ketertarikan mereka untuk belajar mengenai pendekatan pengelolaan sampah di Indonesia.

Menurutnya, Indonesia mempunyai keunggulan berupa budaya gotong royong dan kelembagaan masyarakat yang dapat menjadi fondasi pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga.

Keberadaan PKK, bank sampah, dan TPST sebenarnya sudah menjadi modal untuk membangun sistem pengelolaan limbah secara kolektif.

Namun, persoalan muncul ketika masyarakat belum konsisten memilah sampah dan program yang telah berjalan tidak dilanjutkan. Karena itu, menurut Salsabila, tantangannya bukan hanya menyediakan fasilitas pengolahan, tetapi juga membangun kesadaran dan menggerakkan masyarakat.

2. Sampah diubah menjadi aromaterapi hingga tas yang menembus Belanda

Dikampung halamannya di Madiun, Salsa menyebut di Desa Sambirejo, Madiun, ibu-ibu rumah tangga diberdayakan untuk membuat tas anyaman berbahan plastik. (IDN Times/ Foto : Dok. Salsabila)

Salah satu pendekatan Redevice diterapkan melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Rempoah, Banyumas.

Sampah rumah tangga dipilah berdasarkan jenisnya. Botol plastik dan material yang masih memiliki nilai jual dikumpulkan melalui bank sampah, sedangkan sampah organik disalurkan ke TPST untuk dimanfaatkan sebagai pakan maggot.

Berbagai material bekas juga dikembangkan menjadi produk kreatif. Minyak jelantah diolah menjadi aromaterapi, botol plastik dimanfaatkan menjadi wayang, dan limbah lainnya dijadikan bahan kerajinan.

Salsa menyebut di Desa Sambirejo, Madiun, ibu-ibu rumah tangga diberdayakan untuk membuat tas anyaman berbahan plastik. Produk tersebut bahkan disebut telah dipasarkan hingga Belanda.

Para perajin memperoleh upah sesuai tingkat kesulitan produk yang dikerjakan. Skema ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah juga dapat membuka peluang pendapatan bagi masyarakat, khususnya perempuan.

3. Kurangnya penggerak lokal menjadi tantangan keberlanjutan

Salsa saat berbincang dengan IDN Times, menyebut keberhasilan program sangat dipengaruhi keberadaan tokoh penggerak lokal yang mampu mengorganisasi dan mengajak warga berpartisipasi, Selasa (3/11/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Meski sejumlah kegiatan telah menghasilkan produk bernilai ekonomi, Salsabila mengakui penerapan pengelolaan sampah berbasis masyarakat belum merata.

Menurutnya, keberhasilan program sangat dipengaruhi keberadaan tokoh penggerak lokal yang mampu mengorganisasi dan mengajak warga berpartisipasi.

Ia juga mengkritisi kegiatan daur ulang yang hanya dilakukan untuk kepentingan pameran atau perlombaan. Padahal, material yang digunakan seharusnya berasal dari sampah yang benar-benar dikumpulkan dan dikelola masyarakat.

Melalui Redevice, Salsabila berupaya menghubungkan seluruh proses tersebut, mulai dari pengumpulan material, pengolahan, penciptaan produk, hingga pemasaran. Sistem ini juga dilengkapi pencatatan perjalanan material menggunakan kode QR dan dokumentasi dampak.

Ia berharap inovasi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan maupun prestasi internasional, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan bersama masyarakat.

Menurutnya, Indonesia tidak selalu membutuhkan sistem daur ulang baru. Hal yang lebih penting adalah menghubungkan potensi yang sudah tersedia agar sampah memiliki nilai guna dan manfaat ekonominya kembali kepada masyarakat.

Curated For You

Editorial Team

Related Article