Pagelaran Tari Bedhaya Senapaten Diradameta di Pura Mangkunegaran. (IDN Times/Larasati Rey)
Gelaran trilogi tari ini terdiri dari tiga acara utama yang saling terkait dan memperkuat makna satu sama Iain, menyajikan simbolisme yang mendalam dan nilai budaya yang kaya dalam merayakan kesuburan akan dirangkai sebagai berikut:
Pertama, Workshop dan Tarian Solah Bowo di Candi Sukuh: Di lokasi yang kaya akan simbolisme kesuburan, workshop ini dikurasi Oleh Melati Suryodarmo, mengeksplorasi tema kesuburan melalui tarian. Peserta diajak mengasah keterampilan fisik dan merangkai identitas budaya, memperkuat hubungan dengan warisan mereka.
Kedua, Pagelaran Tari Bedhaya Senapaten Diradameta di Pura Mangkunegaran: Sebagai simbol rumah dan warisan, Tari Bedhaya Senapaten Diradameta ini dipentaskan kembali. Tari ini melambangkan kemenangan pertempuran Rembang tahun 1756, melibatkan tujuh pejuang pria dengan trisula dan busur sebagai simbolisasi heroisme. Kekuatan tari ini menginspirasi Rama Soeprapto sebagai kurator, berinisiasi untuk membuat ruang baru ke masa depan dengan mengajak tiga koreografer professional untuk mengembangkan ke seni tari kontemporer. Perbedaan Iatar belakang tiga koreografer ini (Arco Renz, Rianto dan Danang Pamungkas) menghadirkan sebuah proses inovasi tari. Tarian yang ditarikan oleh tujuh orang penari yang berasal dari seniman hingga kalangan akademisi seni ini berlangsung kurang lebih 30 menit.
Ketiga, Perhelatan 24 Jam Menari di ISI Surakarta: Dipimpin Oleh Eko Supriyanto, acara ini berlangsung non-stop selama 24 jam di ISI Surakarta, melambangkan kelahiran dan energi berkelanjutan. Para penari dan koreografer menjelajahi batas kreativitas dalam suasana modern.
Trilogi kesuburan ini diharapkan dapat menyambungkan kembali masyarakat modern dengan akar budaya mereka melalui perayaan seni tari yang mendalam dan penuh makna, mengungkapkan kekuatan tradisi dalam konteks yang kontemporer.