Perkembangan Kebakaran TPA Jatibarang, Area Api Susut Sisa 0,16 Hektare

Titik panas kebakaran TPA Jatibarang menyusut dari sekitar 10 hektare menjadi 0,163 hektare, namun Pemkot Semarang tetap melanjutkan pendinginan dan pemantauan bara.
Pemkot mengerahkan personel serta armada tangki untuk menyiram lima jalur terdampak, guna menekan debu pembakaran agar tidak kembali beterbangan ke permukiman.
Layanan kesehatan, dapur umum mobile, dan Ambulance Hebat disiagakan di kawasan terdampak; penanganan melibatkan lintas instansi, relawan, serta drone thermal untuk memantau titik panas.
Take a Deeper Reads

1. Pemkot Semarang belum hentikan penanganan

Penanganan kebakaran di TPA Jatibarang Semarang. (IDN Times/bt) Meski luas titik panas jauh berkurang, Pemerintah Kota Semarang belum menghentikan penanganan. Pendinginan dan pemantauan terus dilakukan untuk memastikan bara tidak kembali memunculkan titik api.
Pada saat yang sama, Pemkot Semarang mulai menyasar dampak kebakaran yang dirasakan warga di luar area TPA, salah satunya debu dan asap yang terbawa ke jalan serta permukiman.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memimpin penyiraman jalan secara masif pada Selasa (6/10/2026) malam. Puluhan personel dan armada tangki gabungan dikerahkan untuk membasahi sejumlah jalur permukiman yang terdampak.
Penyiraman dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan melibatkan Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), serta Kodim.
Menurut Agustina, keberhasilan mengendalikan titik api utama hingga 93 persen bukan berarti penanganan kebakaran selesai. Ada tiga pekerjaan yang masih harus dipastikan, yakni memadamkan bara hingga asap hilang, mencegah munculnya titik api baru, serta melindungi kesehatan masyarakat dari paparan debu dan asap.
“Kita bergerak cepat setelah titik api utama di TPA Jatibarang berhasil dikendalikan hingga 93 persen. Namun langkah penanganan tidak boleh berhenti di situ,” terangnya.
2. Penyiraman di jalur terdampak kebakaran

Damkar melakukan penyiraman air di jalur utama yang terdampak kebakaran TPA Jatibarang Semarang. (dok. Pemkot Semarang) Penyiraman jalan dilakukan untuk menekan debu di permukaan agar tidak kembali beterbangan atau mengalami resuspensi. Debu hasil pembakaran sampah dapat mengandung partikel halus PM2,5 serta senyawa seperti PAH, karbon hitam, dan logam berat yang berpotensi mengganggu kesehatan, termasuk saluran pernapasan dan sistem kardiovaskular.
Maka itu, kata Agustina, penanganan kebakaran tidak hanya diarahkan ke sumber api di dalam TPA, tetapi juga pada lingkungan yang dilalui masyarakat.
Ada lima jalur utama yang menjadi sasaran penyiraman. Pertama, Jalan Untung Suropati mulai kawasan Muradi hingga SMAN 7 Semarang. Penyiraman kemudian dilanjutkan dari SMAN 7 menuju SDN Ngaliyan 04 hingga Perumahan Luxury Grand.
Tim juga menyisir jalur dari pertigaan Panjangan menuju SD Marsudirini Mayangsari Kalipancur. Jalur berikutnya berada di Jalan Gatot Subroto kawasan Klampisan, dari pertigaan Pasadena ke utara hingga lampu merah Purwoyoso. Satu rute lainnya membentang dari kawasan Sam Poo Kong menuju Kalipancur.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan debu di jalur yang digunakan warga, setelah kebakaran TPA Jatibarang berlangsung sejak Rabu (30/9/2026).
3. Layanan kesehatan warga tetap disiagakan

Area seluas 2,5 hektare masih membara di TPA Jatibarang, Minggu (4/10/2026). (dok. Pemkot Semarang) Selain penyiraman, Pemkot Semarang juga memastikan layanan kesehatan dan bantuan bagi warga di kawasan terdampak tetap berjalan.
Posko Dapur Umum Mobile dan Ambulance Hebat disiagakan. Pemantauan kondisi kesehatan dilakukan di Kelurahan Kedungpane, Tambakaji, dan Bambankerep.
Agustina juga meminta personel yang masih bekerja di lapangan memperhatikan kesehatan dan keselamatan selama proses penanganan kebakaran.
Penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai BPBD Kota Semarang, BPBD Jawa Tengah, Dinas Pemadam Kebakaran, DLH, DPU, Dinas Kesehatan, Satpol PP, TNI/Polri, kecamatan dan kelurahan hingga relawan masyarakat.
Pemkot juga mendapat dukungan drone thermal dari Sat Brimob Polda Jawa Tengah untuk membantu pemantauan titik panas. Karang Taruna, PSM, Linmas, FPRB, dan LPMK turut terlibat dalam penanganan.
Sementara, Data Situation Report (SITREP) BPBD Kota Semarang per Selasa (6/10/2026), menunjukkan penurunan signifikan area titik panas. Dari sekitar 10 hektare area terdampak di Zona 1, 2, dan 3, kini tersisa 0,163 hektare.
Namun, angka tersebut sekaligus menunjukkan masih adanya titik panas yang harus ditangani.
“Penanganan akan terus kami lanjutkan hingga bara dapat dikendalikan dan kondisi lingkungan di sekitar TPA Jatibarang semakin pulih,” pungkas Agustina.






















