Puncak Musim Hujan Diprediksi Januari, Semarang Perkuat Posko Bencana

Pemkot Semarang menyiagakan 119 pompa berkapasitas gabungan 92.190 liter per detik, didukung 66 dump truck dan 57 alat berat untuk menghadapi puncak hujan Januari–Februari 2027.
DPU mengeruk sedimen dan membersihkan 38–41 titik sungai serta saluran besar sejak Maret 2026, termasuk di Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, wilayah tengah, dan selatan.
BPBD memperkuat posko, logistik, respons cepat, peringatan dini, pemantauan muka air, dan pemetaan daerah rawan; warga dapat menghubungi Call Center 112 untuk informasi atau bantuan darurat.
Semarang, IDN Times – Pemerintah Kota Semarang menyiagakan 119 unit pompa untuk menghadapi potensi banjir menjelang puncak musim hujan pada Januari hingga Februari 2027. Selain infrastruktur pengendali banjir, Pemkot juga memperkuat kesiapan personel, logistik darurat, posko bencana, dan sistem peringatan dini.
1. Siagakan 119 unit pompa

Pemerintah Kota Semarang berupaya untuk mempercepat penanganan banjir di sejumlah lokasi dengan peremajaan sistem pompa dan pengerukan kolam retensi. (dok. Pemkot Semarang) Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Suwarto mengatakan, total 119 pompa tersebut terdiri dari 101 unit pompa portabel. Seluruhnya memiliki kapasitas gabungan mencapai 92.190 liter per detik.
Pompa-pompa itu tersebar di wilayah timur, tengah, dan barat Kota Semarang. Peralatan tersebut disiapkan agar dapat beroperasi selama 24 jam ketika dibutuhkan.
Kesiapan infrastruktur juga didukung 66 unit dump truck dan 57 unit alat berat untuk menunjang penanganan banjir.
"Teman-teman di lapangan memastikan kesiapan sistem pompa saat ini dalam kondisi fit dan sehat untuk menghadapi musim penghujan. Pengerukan dan normalisasi di puluhan sungai serta saluran besar juga terus kami kebut untuk memperlancar aliran air," ujar Suwarto, Kamis (5/11/2026).
2. Pengerukan saluran di puluhan titik

Petugas DPU Kota Semarang membersihkan sampah di drainase saat banjir. (dok. DPU Kota Semarang) Selain menyiagakan pompa, DPU Kota Semarang telah melakukan pengerukan sedimen dan pembersihan saluran sejak Maret 2026.
Kegiatan tersebut menjangkau sekitar 38 hingga 41 titik sungai dan saluran besar. Beberapa kawasan yang menjadi sasaran pekerjaan antara lain Kaligawe, Tlogosari, Jalan Gajah, serta wilayah tengah dan selatan kota.
Pengerukan dan pembersihan dilakukan untuk memperlancar aliran air saat curah hujan meningkat.
Kesiapsiagaan menghadapi musim hujan juga diperkuat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang. BPBD bersama Tim Reaksi Cepat (TRC) menyiapkan posko siaga, mekanisme respons cepat, logistik darurat, serta peralatan operasional.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengatakan kesiapan tersebut dilakukan secara terpadu bersama pemangku kepentingan dan jejaring relawan.
"Kami menyiagakan posko, peralatan, serta logistik darurat secara terpadu bersama seluruh pemangku kepentingan dan jejaring relawan. Kesiapsiagaan ini krusial untuk memastikan respons cepat di lapangan jika terjadi kondisi darurat," ujarnya.
3. BPBD perkuat sistem peringatan dini

Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terus bekerja keras menangani genangan air dengan mengerahkan 44 pompa air yang berfungsi saat banjir melanda, Selasa (28/10/2025). (dok. DPU Kota Semarang) BPBD juga memperkuat Sistem Peringatan Dini atau Early Warning System (EWS), pemantauan tinggi muka air secara berkala, serta pemetaan wilayah rawan banjir, tanah longsor, dan angin kencang.
Sebelumnya, Pemkot Semarang menggelar Apel dan Gladi Lapang Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana pada 20 Oktober 2026. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, termasuk TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta jaringan relawan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, menegaskan seluruh perangkat daerah dan jajaran terkait harus bergerak cepat dalam menghadapi potensi bencana.
"Seluruh perangkat daerah bersama jajaran terkait harus siaga penuh dan bergerak cepat. Mitigasi dan kesiapan infrastruktur, mulai dari sistem pompa hingga logistik darurat, harus dipastikan berfungsi optimal untuk melindungi masyarakat dari potensi genangan dan bencana," tegasnya.
Agustina juga mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca dan potensi bencana. Warga yang membutuhkan informasi darurat, melaporkan kejadian bencana, atau memerlukan bantuan evakuasi dapat menghubungi layanan Call Center 112.




















