K.G.P.A.A. Mangkoenagoro X (Gusti Bhre) membuka pelaksanaan Seri ketiga Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026, Piala Raja Mangkunegaran perdana dan Triple Crown Serie 2 di gelanggang pacuan kuda Tegal Waton, Kabupaten Semarang, Minggu (10/5/2026). (IDN Times/Bandot Arywono)
Ada yang menarik dalam regulasi balapan kali ini. Ketua Komisi Pacu PP PORDASI, Munawir, menjelaskan penggunaan sistem handicap.
Kuda-kuda dibagi menjadi kelompok top weight dan bottom weight. Kuda dengan prestasi tinggi akan diberikan beban tambahan pada pelana, sementara kuda penantang mendapatkan beban lebih ringan. Strategi ini diterapkan agar persaingan tetap kompetitif dan memberikan peluang menang yang adil bagi semua peserta.
“Sistem handicap ini kami perkenalkan untuk memberikan peluang yang sama bagi semua kuda yang bertanding, baik bagi kuda langganan juara maupun kuda-kuda penantang,” jelasnya.
Ketua Umum PP Pordasi, Aryo Djojohadikusumo, menambahkan bahwa konsep kejuaraan tahun ini memang sengaja dikemas dengan sentuhan kultural. Menurutnya, memadukan olahraga berkuda dengan kebudayaan adalah cara terbaik untuk menarik minat publik sekaligus mencetak prestasi.
Setelah sukses dengan Piala Raja Yogyakarta dan Piala Raja Surakarta (Mangkunegaran), Pordasi sudah menyiapkan rencana besar untuk membawa kemeriahan ini ke pulau lain.
Dengan suksesnya seri di Tegalwaton ini, olahraga pacuan kuda di Indonesia diharapkan terus berkembang dan menjadi daya tarik wisata olahraga (sport tourism) yang unggul di masa depan.