Keberhasilan Nurisa Dian Ashrifah meraih emas untuk nomor tunggal panahan pada ajang Asian Games 2026 mendapat apresiasi dari kampusnya.
Nurisa Dian tercatat sebagai mahasiswi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang itu terbukti mampu mengukir prestasi cermelang saat berlaga pada final pada Kamis (01/10/2026) di Okazaki Chuo Sogo Park Multipurpose Square, Jepang.
Nurisa yang akrab disapa Hani menang tipis 139–137 atas pemanah asal Filipina, Amaya Amparo Cojuangco.
Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Udinus, Prof Kusni Ingsih menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas capaian Hani di cabor panahan.
Kusni bilang pihak kampusnya senantiasa berkomitmen memberikan dukungan penuh, fasilitas, serta apresiasi berupa beasiswa dan penghargaan tertinggi bagi mahasiswa yang berhasil mengharumkan nama almamater serta bangsa di kancah internasional.
“Kami keluarga besar Udinus merasa sangat bangga atas torehan sejarah yang diukir oleh Nurisa Dian Ashrifah. Keberhasilan menyumbang emas pertama bagi panahan Indonesia di Asian Games merupakan momentum bersejarah yang membanggakan Udinus, sekaligus diharapkan menjadi inspirasi besar bagi atlet-atlet mahasiswa lainnya,” ujar Kusni dalam keterangan yang diterima IDN Times, Jumat (2/10/2026).
Sebagai informasi, medali emas yang diraih Nurisa menjadi emas kelima bagi Kontingen Indonesia di Asian Games 2026, sekaligus melampaui target awal empat medali emas.
Kontingen Indonesia telah mengumpulkan lima emas, tujuh perak, dan 20 perunggu dengan total 32 medali. Peluang penambahan medali masih terbuka lebar karena perhelatan Asian Games 2026 berlangsung hingga 4 Oktober 2026, termasuk peluang dari sejumlah atlet mahasiswa Udinus yang masih berlaga.
Capaian di Asian Games Jepang bukan kali pertama bagi Hani untuk mengibarkan Merah Putih di podium tertinggi. Dalam debutnya kala SEA Games 2025 Thailand, Hani juga menggondol emas nomor compound putri individual setelah menekuk wakil Singapura dengan skor 142–140 di final. Sementara itu pada nomor beregu, ia turut menyumbangkan satu emas dan satu perunggu.
Sebelum melangkah ke babak final, Hani lebih dulu menumbangkan pemanah-pemanah unggulan dari Korea Selatan dan India. Hani berkata sebetulnya sempat terkendala angin kencang yang membuat sejumlah bidikannya meleset.
Namun ia sangat bersyukur, terharu, dan bangga dapat mengukir sejarah baru dengan mempersembahkan emas pertama bagi cabor panahan di Asian Games Jepang. Ia berharap capaian ini dapat menjadi bukti sekaligus motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus berjuang maksimal di bidangnya masing-masing.
“Kondisi angin di lapangan memang cukup kencang dan membuat pertandingan final berjalan sangat ketat. Namun, saya berusaha untuk tetap tenang, menjaga fokus, dan terus konsisten berjuang sampai anak panah terakhir,” kata Hani.
