Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Waduh! Literasi Rendah Bikin Pola Hidup Gen Z di Semarang Gak Sehat
ilustrasi orang makan (pexels.com/Angela Roma)
  • FKM Undip menyebut minimnya literasi kesehatan dan lingkungan pangan tidak sehat membentuk gaya hidup Gen Z Semarang yang berisiko obesitas, hipertensi, dan diabetes.

  • SKI 2023 mencatat konsumsi harian minuman manis mencapai 47,5 persen; makanan berlemak atau gorengan 37,4 persen, memperbesar risiko penyakit tidak menular.

  • Undip dan CISDI mendorong negara menerapkan kebijakan pangan sehat, karena sembilan dari sepuluh produk kemasan mengandung gula, garam, lemak berlebih, atau pemanis non-gula.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2023

Survei Kesehatan Indonesia mencatat tingginya konsumsi harian minuman dan makanan manis, asin, serta berlemak pada penduduk usia 3 tahun ke atas.

2024

Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan disebut sebagai aturan pangan sehat yang perlu diimplementasikan.

27 Oktober 2026

FKM Undip menyatakan minimnya literasi kesehatan dan lingkungan pangan tidak sehat membentuk pola hidup Gen Z yang berisiko memicu diabetes, hipertensi, dan obesitas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    FKM Undip menyatakan minimnya literasi kesehatan dan lingkungan pangan tidak sehat berkaitan dengan pola hidup kurang sehat pada remaja Gen Z, yang berisiko diabetes, hipertensi, dan obesitas.
  • Who?
    Prof Sri Achadi Nugraheni dari FKM Undip, Dr Elfia Farida dari Undip, Ika Nindyas Ranitadewi dari CISDI, serta remaja Gen Z menjadi pihak yang disebut dalam diskusi.
  • Where?
    Diskusi publik berlangsung di Room In Hotel, Jalan Pemuda, Semarang.
  • When?
    Pernyataan disampaikan dalam diskusi publik pada Selasa, 27 Oktober 2026.
  • Why?
    Kurangnya akses literasi kesehatan, keterbatasan lingkungan pangan sehat, kebijakan yang dinilai longgar, dan lemahnya pengawasan pemasaran pangan tidak sehat disebut sebagai faktor yang memengaruhi pola hidup remaja.
  • How?
    Prof Sri mendorong pengetahuan pola hidup sehat, pemantauan kesehatan berkala, dan pengurangan konsumsi pangan tinggi gula, garam, serta lemak. Dr Elfia meminta penerapan aturan pangan sehat melalui PP Nomor 28 Tahun 2024.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Anak Gen Z di Semarang banyak yang belum tahu cara hidup sehat, kata orang dari Undip. Mereka jadi bisa mudah sakit diabetes, darah tinggi, dan kegemukan. Banyak orang juga sering minum dan makan yang manis, asin, atau berlemak. Sekarang, para ahli ingin negara membuat aturan agar makanan sehat lebih mudah didapat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Meski risiko pola makan tidak sehat mengemuka, diskusi yang melibatkan akademisi dan pegiat kebijakan menunjukkan perhatian yang makin jelas terhadap kesehatan remaja. Penekanan pada literasi, pemantauan kesehatan, serta hak atas akses pangan sehat menempatkan persoalan ini bukan semata sebagai beban pilihan pribadi, melainkan isu yang dapat ditangani melalui lingkungan dan kebijakan yang lebih berpihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Semarang, IDN Times - Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menyebutkan pola hidup anak-anak Gen Z selama ini dipengaruhi asupan literasi kesehatan yang sangat minim. 

Pakar ilmu promosi dan gizi kesehatan FKM Undip, Prof Sri Achadi Nugraheni mengatakan gaya hidup para remaja yang masuk kelompok Gen Z selama ini kurang sehat. Hal ini membuat mereka beresiko terpapar penyakit tidak menular macam diabetes miletus (DM), hipertensi dan cenderung kegemukan. 

"Kurangnya akses terhadap literasi dan lingkungan pangan sehat membentuk gaya hidup remaja yang juga kurang sehat," ujar Prof Eni, sapaan akrabnya di sela kegiatan diskusi publik bertajuk Kebijakan Pangan Sehat dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat, Hukum, dan Hak Asasi Manusia di Room In Hotel Jalan Pemuda Semarang, Selasa (27/10/2026). 

Lingkungan pangan tidak sehat juga timbulkan resiko diabetes

Diskusi publik bertajuk Kebijakan Pangan Sehat dalam Perspektif Kesehatan Masyarakat, Hukum, dan Hak Asasi Manusia di Room In Hotel Jalan Pemuda Semarang, Selasa (27/10/2026). (IDN Times/Fariz Fardianto)

Ia yang menjadi anggota Badan Pekerja Harian Senat Akademik ini menyatakan lingkungan pangan tidak sehat menyebabkan beban dan faktor risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas terus mengintai kelompok rentan dan remaja. 

"Karena itu, mereka perlu mendapatkan pengetahuan tentang pola hidup yang lebih sehat, termasuk mengenai monitoring kesehatan berkala hingga bahaya dari konsumsi pangan tinggi gula garam lemak (GGL) terus-menerus,” kata Sri. 

Negara didorong terapkan aturan pangan sehat

ilustrasi bahan makanan pokok (freepik.com/bearfotos)

Sedangkan, seorang dosen ilmu hukum Undip Dr Elfia Farida mengatakan upaya menciptakan lingkungan pangan sehat sebaiknya selarasw dengan harmonisasi di tingkat kebijakan. 

“Negara harus tanggap untuk menerapkan aturan pangan sehat seperti implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 28Tahun 2024 tentang Kesehatan. Akses terhadap pangan sehat merupakan bagiandari hak asasi manusia. Karena itu, negara perlu memastikan terpenuhinya HAM sebagai sebuah hak yang melekat untuk individu," paparnya. 

Konsumsi pangan tinggi GGL jadi tantangan masyarakat

ilustrasi jajanan (unsplash.com/Towfiqu barbhuiya)

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Sebanyak 47,5 persen penduduk berusia 3 tahun ke atas mengonsumsi minuman manis setidaknya sekali sehari, 33,7 persen mengonsumsi makanan manis, 30,4 persen makanan asin, serta 37,4 persen makanan berlemak, berkolesterol, atau gorengan. 

Kebiasaan ini berkontribusi signifikan terhadap pola makan tidak sehat, yang diakui sebagai salah satu faktor risikoutama berbagai penyakit tidak menular, seperti obesitas, hipertensi, diabetes tipe 2,dan penyakit kardiovaskular.

Konsumsi pangan tinggi GGL masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat paling signifikan dalam dua dekade terakhir. Sayangnya, studi Nutrient Profile Model (NPM) CISDI menemukan 9 dari 10 produk pangan kemasan mengandung GGL berlebih, atau mengandung pemanis non-gula.

"Tantangan lingkungan pangan sehat tidak hanya persoalan pilihan individu, tetapijuga dipengaruhi permasalahan struktural seperti kebijakan yang longgar danpengawasan pemasaran pangan tidak sehat yang lemah,” ungkap Ika Nindyas Ranitadewi, Policy and Advocacy Analyst, CISDI.

Curated For You

Editorial Team

Related Article