Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Jadi Pemandu Gunung Profesional, Peluang Cuan Dari Hobi Mendaki!

Jadi Pemandu Gunung Profesional, Peluang Cuan Dari Hobi Mendaki!
Pemprov Jateng gelar pelatihan pemandu gunung profesional sebagai salah satu upaya menekan angka pengangguran. (dok Humas Pemprov Jateng)
Intinya Sih
  • Tren wisata alam di Jawa Tengah membuka peluang besar bagi warga untuk menjadi pemandu gunung profesional dengan pendapatan harian mencapai Rp350 ribu hingga Rp650 ribu.
  • Peserta pelatihan dibekali 100 jam materi sesuai SKKNI, mencakup hospitality, navigasi darat, dan etika profesi, lalu memperoleh sertifikasi resmi dari LSP berlisensi BNSP.
  • Program kolaborasi Pemprov Jateng dan APGI ini bertujuan menekan pengangguran serta memenuhi kebutuhan pemandu, dengan lulusan batch pertama sudah terserap di industri wisata alam.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ungaran, IDN Times – Tren wisata jelajah alam yang terus meningkat menjadi peluang emas bagi masyarakat Jawa Tengah untuk mendulang rupiah. Melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), profesi pemandu gunung kini diarahkan menjadi karier profesional yang menjanjikan dengan standar nasional.

1. Peluang menghasilkan Rp650 ribu dari hobi mendaki

IMG-20260418-WA0059-1536x1157.jpg
Pemprov Jateng gelar pelatihan pemandu gunung profesional sebagai salah satu upaya menekan angka pengangguran. (dok Humas Pemprov Jateng)

Potensi ekonomi dari sektor ini tidak main-main. Ketua APGI Jawa Tengah, Lazuardi, mengungkapkan bahwa seorang pemandu wisata gunung profesional di Jawa Tengah bisa mengantongi pendapatan antara Rp350 ribu hingga Rp650 ribu per hari.

"Peminat pendakian sangat tinggi, mencapai 900 ribu orang per tahun di 15 kawasan gunung di Jateng. Sebagian besar pengguna jasa berasal dari kota besar seperti Jakarta yang haus akan keindahan alam," ungkap Lazuardi di sela orientasi lapangan di jalur Perantunan, Gunung Ungaran (18/4/2026).

2. Sertifikasi nasional untuk saingi pasar kerja

Ilustrasi pendaki
Ilustrasi pendaki (unsplash.com/Jamal Mahfudz)

Untuk memastikan keamanan dan kualitas layanan, para peserta tidak hanya diajak naik gunung, tetapi dididik sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pelatihan intensif selama 100 jam ini meliputi: Teknik pelayanan tamu (hospitality), Navigasi darat dan manajemen perkemahan, Pengetahuan keanekaragaman hayati dan budaya lokal. Kode etik pemandu profesional.

Peserta yang lulus nantinya akan mendapatkan sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP, sehingga siap bersaing secara profesional.

3. Upaya Pemprov Jateng tekan pengangguran

ilustrasi pendaki
ilustrasi pendaki (pexels.com/Dio Hasbi Saniskoro)

Langkah Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dalam membuka pelatihan ini bertujuan untuk menangkap potensi kebutuhan pemandu yang masih sangat besar. Saat ini, baru tersedia sekitar 160 pemandu profesional di Jateng, jumlah yang belum sebanding dengan jutaan pendaki.

Program ini terbukti efektif. Lulusan batch pertama tahun 2025 dilaporkan telah terserap sepenuhnya di berbagai penyelenggara wisata alam (operator trip).

4. Dari porter menuju pemandu profesional

ilustrasi pendaki
ilustrasi pendaki (freepik.com/jcomp)

Salah satu peserta, Endang Pratiwi, mengaku antusias meningkatkan level kariernya. Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai porter lepas ini berharap pelatihan ini menjadi batu loncatan baginya.

"Saya ingin meningkatkan kapasitas. Harapannya setelah ini saya bisa menjadi pemandu profesional, bukan lagi porter, sehingga sumber penghasilan pun meningkat," ujar lulusan pecinta alam tersebut.

Pelatihan ini menjadi bagian dari persiapan Jawa Tengah menyongsong Tahun Pariwisata dan Ekonomi Syariah 2027, dengan mencetak tenaga kerja terampil yang mampu mengelola kekayaan alam secara berkelanjutan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono
Follow Us

Latest Travel Jawa Tengah

See More