Comscore Tracker

Integrasi Pelindo untuk Wujudkan Mimpi Marmin Naik Kelas

Menjadikan Indonesia lebih berdaya saing

Semarang, IDN Times - Cangkul atau biasa disebut pacul selalu digunakan untuk menggali dan mengaduk tanah. Alat yang identik dengan pertanian atau perkebunan itu khas dibuat para perajin pandai besi Tanah Air. Salah satunya adalah Marmin, warga Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kualitas cangkul Marmin tidak kalah dengan cangkul impor--yang menyerbu masuk ke Indonesia--.

Cangkul impor dijual bebas di pasaran, baik secara online maupun konvensional seperti di toko material atau di pasar tradisional. Harganya lebih murah daripada cangkul Marmin, yakni mulai Rp50 ribu.

"Untuk cangkul kualitas baik saya jual Rp75 ribu. Saya tidak khawatir dengan kualitas produksi alat pertanian karena (kita) sudah punya pasar dan pelanggan tersendiri. Kita tetap produksi meski banyak cangkul impor (masuk)," ujarnya.

Ongkos kirim selalu menjadi keluhan

Integrasi Pelindo untuk Wujudkan Mimpi Marmin Naik KelasIlustrasi pelaku UMKM cangkul (ANTARA FOTO/Anies Efzudin)

Konsumen cangkul Marmin masih sebatas pasar lokal, belum menjangkau lebih luas ke daerah-daerah lain di luar DIY. Mahalnya biaya logistik menjadi momok dirinya--dan pelaku Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) lain--yang pengin naik kelas dan meluaskan pangsa pasar. Sebab, tidak sedikit para pelanggannya yang mengeluhkan mahalnya ongkos pengiriman (ongkir) saat akan membeli barang-barang dari Marmin.

"Ongkos kirim sudah bukan ranah saya. Itu hubungannya sama transportasi dan logistik, tapi konsumen kadang ada yang gak mau tahu," ucapnya.

Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki pada konferensi pers 500k Eksportir Baru secara virtual, Senin (19/4/2021) menyebut bahwa kendala terbesar pelaku UMKM untuk berdaya saing--terutama pada masa pandemik COVID-19--adalah kenaikan tarif pengiriman barang atau logistik yang mencapai 30 sampai 40 persen.

Biaya logistik menjadi faktor penting dari daya saing sebuah negara karena memengaruhi pasar ekspor dan impor. Ongkos tersebut berdampak terhadap penambahan harga dari suatu produk. Parameter untuk mengetahui kinerja logistik dan tolok ukur daya saing sebuah negara bisa diketahui dari Logistics Performance Index (LPI) yang selalu dirilis Bank Dunia setiap tahun.

LPI diukur dari aspek:

  • Efisiensi customs dan pengelolaan perbatasan (Customs)
  • Kualitas perdagangan dan infrastruktur transportasi (Infrastructure)
  • Kemudahan mengatur pengiriman dengan harga yang kompetitif (International shipments)
  • Kompetensi dan kualitas layanan logistik (Logistic quality and compentence)
  • Kemampuan untuk melacak dan menelusuri kiriman (Tracking and tracing)
  • Frekuensi pengiriman yang tepat waktu (Timeliness).

Baca Juga: Merger Pelindo I-IV Ditargetkan Rampung 1 Oktober 2021

Biaya logistik di Indonesia masih mahal

Integrasi Pelindo untuk Wujudkan Mimpi Marmin Naik KelasPelabuhan Terminal Petikemas Belawan milik Pelindo I (Dok. PT Pelindo I)

Pelindo sebagai operator pelabuhan di Indonesia mengamini apa yang dirasakan konsumen cangkul Marmin jika biaya logistik di Indonesia masih mahal, bahkan lebih tinggi 11 persen dari angka dunia.

Penyebabnya adalah belum terintegrasinya Pelindo I, Pelindo II, Pelindo III, dan Pelindo IV sehingga harus berganti-ganti kapal dan tempat singgah di beberapa pelabuhan sebelum menuju ke lokasi tujuan. Kondisi tersebut juga mengakibatkan Indonesia kurang bersaing dengan negara lain lantaran distribusi barang menjadi mahal.

"Terintegrasinya Pelindo I--IV mendorong penyederhanaan layanan angkutan barang sehingga distribusi barang dari Sabang sampai ke Merauke dan sebaliknya tidak perlu lagi gonta-ganti kapal ketika sandar di pelabuhan transit di wilayah Pelindo," kata Direktur Utama Pelindo IV, Prasetyadi.

Pada 1 Oktober 2021, keempat Pelindo terintegrasi menjadi satu BUMN Pelabuhan atau Pelindo--tanpa ada embel-embel nomor--. Dalam penggabungan tersebut, Pelindo II menjadi perusahaan penerima penggabungan sedangkan Pelindo I, Pelindo III, dan Pelindo IV bubar demi hukum tanpa proses likuidasi.

Hal itu dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas dan keahlian yang berdampak terhadap peningkatan kepuasan pelanggan serta membuka kesempatan perusahaan untuk go global.

“Penggabungan dilakukan dalam rangka mewujudkan industri kepelabuhan nasional melalui standarisasi pelayanan yang lebih kuat dan meningkatkan konektivitas maritim di seluruh Indonesia, serta meningkatkan kinerja dan daya saing BUMN bidang kepelabuhan ditingkat global,” kata Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, Rabu (1/9/2021).

Melalui integrasi tersebut, BUMN kepelabuhan berfokus mengembangkan potensi klaster-klaster (subholding) sesuai lini bisnis masing-masing, yaitu:

  • Klaster bisnis peti kemas bernama Terminal Peti Kemas Indonesia, berpusat di Surabaya
  • Klaster bisnis non-peti kemas bernama Pelindo Multi Terminal berpusat di Medan
  • Klaster bisnis logistik bernama Pelindo Solusi Logistik berpusat di Jakarta
  • Klaster bisnis marine, equipment, dan port service bernama Marine Service berpusat di Makassar.

Adapun, anak perusahaan-anak perusahaan Pelindo I--IV ditempatkan di masing-masing subholding berdasarkan lini bisnisnya. Sebagai contoh, seluruh anak perusahaan yang bergerak dibidang peti kemas, akan masuk kedalam subholding peti kemas.

Yang membedakan, jika sebelumnya parent company adalah Pelindo I--IV, kini anak perusahaan berada dibawah pengawasan langsung masing-masing keempat subholding tersebut sebagai business owner. Dengan begitu, dapat mengembangkan industri dan meningkatkan konektivitas hinterland (kawasan penyangga), trafik pelabuhan, serta volume ekspor impor.

"Pelindo kedepan memiliki kontrol dan kendali strategis yang lebih baik. Pengembangan perencanaan menjadi lebih holistik untuk jaringan pelabuhan yang akhirnya berdampak pada penurunan biaya logistik. Kualitas layanan yang lebih baik dan peningkatan efisiensi dalam penggunaan sumber daya keuangan, aset, dan SDM," ujar Dirut Pelindo II, Arif Suhartono, yang juga Ketua Organizing Committee (OC) Penggabungan Pelindo.

Integrasi Pelindo untuk iklim investasi yang sehat

Integrasi Pelindo untuk Wujudkan Mimpi Marmin Naik KelasIlustrasi kapal kontainer. (Unsplash.com/Ian Taylor)

Integrasi Pelindo menjadi bagian dari peningkatan kinerja logistik untuk memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing perekonomian melalui penataan ekosistem logistik nasional. Hal itu diimplementasikan Presiden Joko "Jokowi" Widodo dengan menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional.

Selain berbasis teknologi informasi untuk penyederhanaan proses bisnis serta menghilangkan repetisi dan duplikasi, langkah strategis ekosistem logistik nasional adalah mengolaborasikan layanan pemerintah dengan pelaku kegiatan logistik internasional maupun domestik.

Termasuk diantaranya penyederhanaan transaksi pembayaran penerimaan negara dan fasilitas pembayaran antarpelaku usaha mengenai proses logistik, serta penataan tata kelola ruang kepelabuhan dan jalur distribusi.

Dukungan untuk ekosistem logistik nasional

Integrasi Pelindo untuk Wujudkan Mimpi Marmin Naik KelasIlustrasi ribuan peti kemas di atas sebuah kapal kontainer. (Unsplash.com/Rinson Chory)

Melalui ekosistem logistik nasional, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik di Indonesia mencapai 17 persen pada 2024. Selain itu, performa logistik yang stagnan bisa berkembang dan tumbuh sehingga terjadi persaingan yang sehat dan transparan.

"Sebagai sebuah ekosistem, ekosistem logistik nasional memerlukan partisipasi aktif semua entitas mengenai logistik baik di lingkungan pemerintah maupun para pelaku usaha untuk tumbuh dan berkembang bersama. Kesediaan setiap pihak untuk “mengorbankan” kepentingan sektoral sangat dibutuhkan demi tercapainya efisiensi logistik nasional yang menjadi tujuan utama dari penataan ekosistem logistik nasional," ujar Menteri Keuangan, Sri Mulyani.

Asosiasi Pemilik Pelayaran Nasional Indonesia (INSA) menyambut baik sinergi dan integrasi Pelindo karena pelayanan pelabuhan memiliki standar kualitas produk dan jasa kepelabuhan yang sama di seluruh Indonesia karena dikelola oleh manajemen yang sama. Pasalnya, selama ini bisnis pelabuhan berjalan dengan pendekatan regional sehingga mengakibatkan pembatasan daerah yang terbagi empat wilayah kerja dibawah pengelolaan 4 BUMN kepelabuhan.

“Pengelolaan pelabuhan lebih baik jika mengacu fungsi dan produktivitas, yang bisa merespons perubahan dan kebutuhan pasar. Misalnya, layanan peti kemas dari Aceh sampai Papua ditangani oleh satu manajemen," Ketua Umum INSA, Carmelia Hartoto.

Integrasi Pelindo mampu membangun kedaulatan kargo di masing-masing pelabuhan dengan karakteristik yang berbeda sesuai potensi setiap daerah. Penggabungan tersebut membawa angin segar mewujudkan cita-cita Ibu Saridjah Niung Bintang Soedibjo--atau populer dengan nama Ibu Soed--sang pencipta lagu Nenek Moyangku Orang Pelaut. Dalam lagu tersebut, tersirat pesan luhurnya kepada penerus bangsa untuk mengelola lautan beserta konektivitas yang dimiliki sehingga bisa menyejahterakan masyarakat--termasuk Marmin--demi kejayaan Indonesia, sebagai negara maritim.

Baca Juga: Spot Instagramable, Pelindo 1 Resmikan Sibolga Sunset Point

Topic:

  • Dhana Kencana

Berita Terkini Lainnya