5 Alasan Kenapa Cowok Sulit Mengungkapkan Perasaan kepada Pasangan

- Tekanan norma maskulinitas membuat pria menutup diri. Budaya yang menganggap kesedihan sebagai tanda kelemahan membuat mereka cenderung diam dalam hubungan.
- Takut terlihat lemah. Rasa takut dicap lemah membuat pria menahan kata-kata yang sebenarnya ingin diucapkan, khawatir perasaan akan mengubah pandangan orang lain.
- Kesulitan mengenali dan memberi nama pada emosi. Beberapa pria mengalami kesulitan mengenali, membedakan, dan menyampaikan perasaan yang sedang dialami.
Di banyak hubungan, ada masa ketika komunikasi terasa berat meski niat baik sudah ada dari kedua belah pihak. Cowok sering terlihat menahan perasaan bukan karena kurang peduli, melainkan karena adanya hambatan internal dan tekanan sosial yang membuat mereka sulit terbuka.
Penting untuk dipahami bahwa kondisi ini bukan tentang siapa yang benar atau salah dalam hubungan. Masalahnya lebih berkaitan dengan pola asuh, stigma emosional, dan kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Dengan memahami akar penyebab tersebut, pasangan dapat membangun ruang yang aman dan nyaman sehingga komunikasi perasaan bisa berjalan lebih jujur dan terbuka.
1. Tekanan norma maskulinitas membuat pria menutup diri

Banyak pria dibesarkan dalam budaya yang menjunjung tinggi ketegaran dan menganggap kesedihan sebagai tanda kelemahan. Kalimat seperti jangan nangis atau jangan terlalu sensitif membuat mereka terbiasa menekan emosi, bukan mengenali dan mengelolanya dengan sehat.
Dampaknya, saat bersama pasangan mereka cenderung memilih diam atau menghindari pembicaraan emosional agar tidak terlihat rapuh. Padahal, pasangan dapat membantu dengan menunjukkan bahwa keterbukaan emosi bukanlah hal memalukan, melainkan cara membangun kedekatan dan kepercayaan yang lebih kuat.
2. Takut terlihat lemah

Rasa takut dicap lemah sering membuat pria menahan kata kata yang sebenarnya ingin diucapkan. Mereka khawatir ungkapan perasaan akan mengubah cara pasangan atau lingkungan memandang mereka. Akibatnya, banyak pria memilih diam meski sedang mengalami tekanan emosional.
Ketakutan ini juga berkaitan erat dengan stigma terhadap kesehatan mental, sehingga sebagian pria merasa harus menghadapi masalah emosinya sendirian. Padahal, sikap sabar dari pasangan serta contoh komunikasi yang terbuka dan aman dapat membantu mereka perlahan berani mengekspresikan perasaan tanpa rasa takut.
3. Kesulitan mengenali dan memberi nama pada emosi

Beberapa pria mengalami kondisi yang disebut alexithymia sehingga mereka kesulitan mengenali, membedakan, dan menyampaikan perasaan yang sedang dialami. Tanpa kemampuan memberi label yang jelas pada emosi, proses berbicara terasa rumit seperti mencoba menjelaskan warna tanpa mengetahui nama warnanya.
Latihan dapat membantu mengatasi hal ini, misalnya dengan mengamati sensasi yang muncul di tubuh atau memilih kata emosi dari daftar yang tersedia. Seiring waktu dan latihan yang konsisten, kemampuan mengenali serta menyebutkan emosi akan meningkat sehingga komunikasi perasaan dengan pasangan menjadi lebih mudah dan terbuka.
4. Kurangnya teladan emosional di masa kecil

Banyak pria tumbuh tanpa pernah melihat figur penting di sekitarnya berbicara tentang perasaan secara terbuka. Tanpa contoh yang jelas, mereka tidak terbiasa menata kata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan dan dipendam di dalam hati.
Saat dewasa, pola ini sering terbawa ke dalam hubungan sehingga dibutuhkan kesabaran dan proses berulang untuk membangun kebiasaan baru. Pasangan dapat berperan sebagai teladan dengan mendengarkan tanpa menghakimi serta menunjukkan cara berbagi perasaan secara perlahan dan konsisten.
5. Gaya komunikasi dan strategi koping berbada beda

Beberapa pria lebih nyaman memproses masalah melalui tindakan atau dengan memberi ruang bagi diri sendiri dibandingkan terlibat dalam pembicaraan panjang. Mereka sering mengekspresikan rasa sayang lewat aksi sederhana, bukan lewat ungkapan emosional secara verbal, sehingga pasangan yang menunggu pernyataan lisan bisa merasa kurang diperhatikan.
Memahami perbedaan gaya komunikasi ini dan menyepakati pola komunikasi yang jelas dapat membuat kedua pihak merasa lebih aman dan dihargai. Langkah seperti menetapkan waktu khusus untuk berbincang atau menggunakan isyarat sederhana saat membutuhkan waktu sendiri dapat menjadi jembatan efektif untuk menjaga kedekatan.
Sulitnya pria mengungkapkan perasaan bukanlah akhir dari hubungan, melainkan ada hal yang perlu dipahami dan dibenahi bersama pasangan melalui empati. Dengan mengenali faktor sosial, psikologis, serta pola komunikasi yang memengaruhinya, pasangan dapat memberikan ruang aman yang mendorong keterbukaan dan membuat komunikasi perasaan berjalan lebih alami.


















