TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Banjir Kudus, 470 Hektare Sawah Terendam, 924 Warga Mengungsi

Sudah tiga pekan Kudus dilanda banjir dan belum surut

Ilustrasi banjir. (ANTARA FOTO/Reno Esnir)

Kudus, IDN Times - Pemerintah Kabupaten Kudus mengerahkan delapan mesin pompa air untuk menyedot air banjir yang belum surut di sejumlah wilayah tersebut. Penyedotan tersebut difokuskan ke daerah area persawahan yang tergenang banjir.

Baca Juga: Banjir Pekalongan, 2 Daerah Sulit Surut, 1.600 Warga Masih Mengungsi

1. Area persawahan di Desa Kirig dan Sentrokalangan terendam banjir

Ilustrasi kegiatan petani di area persawahan yang terendam air. ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah

Ada dua desa yang areal persawahannya terendam banjir, yakni Desa Kirig, Kecamatan Mejobo dan Desa Sentrokalangan, Kecamatan Kaliwungu. Untuk di Desa Kirig, area persawahan yang terendam banjir mencapai 45 hektar. Air sedotan dari persawahan tersebut dibuang ke aliran Sungai Pendo yang menuju Sungai Jratunseluna.

Pelaksana tugas (Plt) Bupati Kudus, Hartopo mengatakan, area persawahan memang menjadi prioritas penyedotan dari genangan banjir.

‘’Tujuannya, untuk membantu para petani dan mendorong pemulihan ekonomi di Kabupaten Kudus yang terdampak banjir,’’ ungkapnya melansir dari Antara, Senin (22/2/2021).

2. Banjir menggenangi area persawahan seluas 470 hektar

Ilustrasi sawah. ANTARA FOTO/Abriawan Abhe

Selain di Desa Kirig, pompa penyedot air juga disediakan di Desa Setrokalangan. Ada dua unit mesin pompa yang menyedot areal persawahan seluas 20 hektar yang tergenang banjir di desa tersebut. 

‘’Kami optimistis dengan mesin pompa ini bisa menyedot banjir yang menggenangi areal persawahan, terutama di Desa Kirig dan Setrokalangan yang sudah lebih dahulu ditangani. Sementara desa lainnya menyusul menunggu giliran,’’ katanya.

Untuk diketahui, luas area tanaman padi di Kecamatan Mejobo mencapai 902 hektar. Adapun, banjir telah menggenangi area seluas 470 hektar. Selain di Desa Kirig, banjir juga merendam area persawahan di Desa Payaman, Temulus, dan Mejobo.

“Apabila pompanisasi untuk menyedot air banjir di Desa Kirig hasilnya efektif pihaknya akan melanjutkan ke desa lainnya,’’ imbuh Camat Mejobo, Aan Fitriyanto.

3. Ratusan warga yang terdampak banjir masih bertahan di pengungsian

Ilustrasi Pengungsi (IDN Times/Mardya Shakti)

Salah satu petani dari Desa Kirig, Sutrisno mengatakan, pompanisasi tersebut sangat membantu untuk menyedot genangan banjir yang menggenangi sawah beberapa hari terakhir. 

‘’Kalau tidak ada bantuan pompa ini, pasti genangan banjir baru bisa surut hingga beberapa bulan lagi. Namun, karena suda ada pompa diperkirakan dua tiga hari bisa surut dan bulan April 2021 bisa mulai tanam kembali,’’ ucapnya. 

Baca Juga: 8 Temuan Pakar soal Banjir Semarang, Bukan Karena Cuaca Ekstrem

Berita Terkini Lainnya