TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Kekeringan Meluas, Debit Sungai Banjir Kanal Barat Kian Mengecil

Banyak pabrik protes

IDN Times/Fariz Fardianto

Semarang, IDN Times- Kekeringan yang semakin meluas berdampak pada penyediaan air baku di Kota Semarang. Di sepanjang aliran Sungai Banjir Kanal Barat (BKB), debit airnya yang ada saat ini mengalami penurunan cukup signifikan.

Bayu Wanapati, seorang Petugas Operator di Pos Bendung Simongan mengungkapkan penurunan debit air sungai BKB saat ini terbilang sangat parah. 

Baca Juga: Kekeringan Meluas, Empat Daerah di Jateng Minta Bantuan Dana Talangan

1. Debit sungai Banjir Kanal tinggal 1,35 kubik per detik atau turun 60 persen

IDN Times/Fariz Fardianto

Hampir sebulan belakangan ini debit airnya mengecil hingga 60 persen menjadi 1,35 kubik per detik dari kondisi normal masih mencapai 3,85 kubik per detik. 

"Musim kemarau tahun ini penyediaan air baku dari aliran sungai BKB turun drastis. Debitnya tinggal 1,35 kubik per detik. Kondisinya selama ini cukup vital karena sering digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Termasuk buat keperluan mandi, mencuci pakaian maupun memperlancar saluran drainase di rumah-rumah warga bantaran sungai," kata Bayu saat ditemui IDN Times di Pos Hilir BKB, Rabu (24/7). 

Baca Juga: Kemarau Panjang, Suhu di Semarang Diperkirakan Tembus 38 Derajat

2. Aliran sungai jadi sumber utama penyediaan air baku bagi belasan pabrik di Mangkang

IDN Times/Fariz Fardianto

Dengan panjang aliran mencapai 9,7 kilometer, sungai BKB melewati Tugu Suharto sampai Muara Tanah Mas. Alirannya melintasi Kecamatan Gajah Mungkur, Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Utara dengan jumlah warga ratusan ribu orang.

Bayu mengungkapkan sungai BKB juga menjadi sumber penyediaan air baku untuk kawasan pabrik Wijaya Kusuma Mangkang. Jumlah pabrik yang mengandalkan ketersediaan air dari sungai tersebut ada 15 titik.

3. Banyak pabrik mengeluh pasokan air dari sungai BKB seret

IDN Times/Fariz Fardianto

Ia menyatakan banyak pabrik yang mengeluhkan pasokan air BKB semakin seret. Air dari BKB biasanya dipakai untuk mendukung pengolahan bahan baku dan operasional yang ada di setiap pabrik.

"Saat ini banyak pengelola pabrik di Wijaya Kusuma yang mengeluhkan kebutuhan airnya berkurang drastis. Soalnya semua pabrik ambil airnya dari sini. Sebab Pak Walikota sudah melarang pabrik mengambil air tanah. Kebijakannya sudah berjalan dua tahun terakhir. Tapi, ketimbang tahun lalu, yang sekarang ini situasinya bisa dikatakan lebih buruk. Untuk saat ini curah hujannya sangat minim sehingga mempengaruhi debit air sungai BKB," akunya.

Baca Juga: Musim Kemarau Tiba, Waduk Berubah menjadi Daratan  

Berita Terkini Lainnya