TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA
Gabung di IDN Times

Kemarau Basah Terjadi Sampai November, 3 Daerah di Jateng Ekstra Waspada

BMKG minta masyarakat hati-hati dengan munculnya DBD

Petugas BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang saat memantau kondisi cuaca harian di wilayah Jawa Tengah. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Semarang, IDN Times - Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang memperkirakan musim kemarau basah akan terjadi sampai November 2022. Dengan proses penguapan air laut yang cukup tinggi, wilayah Jawa Tengah secara keseluruhan dilanda anomali cuaca dengan curah hujan intensitas ringan hingga sedang. 

Baca Juga: IDI Jateng: Lonjakan COVID-19 Dipengaruhi BA.4 BA.5 dan Varian Lainnya

1. Proses penguapan air laut masih tinggi

Seorang nelayan menangkap ikan di perauran Laut Jawa di Demak, Jawa Tengah. BPJAMSOSTEK memberikan perlindungan jaminan sosial kepada pelaku usaha informal seperti nelayan ikan sebagai pekerja bukan penerima upah (BPU), melalui program Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM) dengan iuran bulanan yang terjangkau mulai Rp16.800. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kepala Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Sutikno mengatakan, suhu muka laut yang menghangat selama tahun ini berpotensi menimbulkan penguapan yang membentuk awan hujan di atas wilayah Jawa Tengah. 

Pembentukan awan hujan tersebut juga dibarengi dengan adanya La Nina yang masih aktif. 

"Walaupun La Nina sudah melemah akan tetapi penguapan air laut terpantau dari citra satelit masih cukup tinggi. Ini ditambah lagi dengan kenaikan suhu muka laut sehingga kemarau basah akan terjadi di bulan ini sampai Oktober atau November nanti," ungkapnya kepada IDN Times, Senin (18/7/2022).

2. Para petani lebih baik menanam tanaman yang butuh banyak air

Petani di PPU (IDN Times/Ervan Masbanjar)

Lebih lanjut, pihaknya mengungkapkan munculnya kemarau basah perlu disiasati oleh para petani dengan menyesuaikan masa tanamnya. 

Sutikno menyarankan, supaya petani beralih menyemai bibit tanaman yang membutuhkan air lebih banyak. Proses pemilihan tanaman harus dilakukan dengan cermat supaya dapat meminimalisir potensi gagal panen. 

"Tentunya petani bisa menyesuaikan masa tanamnya. Ada baiknya melakukan penanaman dengan tanaman yang butuh air banyak lebih air. Penyesuaian pola tanam mesti dilakukan saat situasi kemarau basah," ujarnya.

3. Sayung, Demak, Pati dan Kudus dilanda hujan ringan dan sedang

Petugas prakirawan cuaca di Stasiun BMKG Meteorologi Ahmad Yani Semarang memonitor perubahan cuaca melalui citra satelit. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Di samping itu, pihaknya mengingatkan kepada warga Kabupaten Demak khususnya di pesisir Sayung, juga Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Pati guna mewaspadai datangnya hujan intensitas ringan dan sedang selama kemarau basah. 

Pihaknya menyatakan hujan ringan dan sedang di wilayah itu sekitar 50 milimeter per jam. Kemunculan hujan, katanya diprediksi akan menimbulkan genangan banjir di wilayah tersebut. 

"Seluruh wilayah Pati, Kudus, Sayung, Demak masih berpotensi hujan ringan dan sedang. Intensitas hujannya sekitar 50 milimeter per jam. Hal itu akan sangat berpengaruh terhadap genangan banjir di sisi utara. Akan tetapi sejauh ini di Jawa Tengah belum terjadi cuaca ekstrem. Rata-rata cuacanya cerah dan berawan," paparnya. 

Baca Juga: Banjir Terjang 8 Wilayah Pesisir Pantura Jateng, Prediksi BMKG Malah Dicuekin

Berita Terkini Lainnya