Semarang, IDN Times - Sebanyak 884 puskesmas yang tersebar di wilayah Jawa Tengah akan memperoleh peralatan X-Ray pendeteksi gejala tuberculosis (TBC).
Pemberian alat tersebut dimanfaatkan untuk melakukan pencegahan penularan TBC secara dini sehingga bisa mengurangi tahapan pengobatan kronis.
Wamenkes Benjamin Paulus Octavianus mengatakan X-Ray TBC menjadi peralatan diagnostik yang bisa digunakan masing-masing petugas radiografer di puskesmas untuk menjangkau masyarakat rentan tiap kecamatan.
"Untuk Jawa Tengah semua kecamatan akan diberikan alat diagnostik X-Ray untuk setiap puskesmas. Ada 884 puskesmas di Jawa Tengah, semuanya mendapat bulan depan," kata Benny Senin (28/9/2026).
Benny menyampaikan jumlah pasien TBC yang berhasil diobati untuk wilayah Aceh sampai Papua saat ini tergolong cukup baik. Untuk jumlah temuan kasus TBC masing-masing propinsi sudah di atas 90 persen.
"Hanya daerah-daerah sulit saja yang belum bisa mencapai karena faktor geografis. Tetapi di Jawa, di Sumatera penemuan kasus sudah sangat tinggi. Nah, yang perlu kita lakukan adalah pencegahan," jelasnya.
Di akhir tahun ini sampai tahun depan pihaknya memastikan upayanya dengan fokus pencegahan penularan TBC melalui gerakan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Apabila perlengkapan alat X-Ray TBC sudah tersedia di puskesmas, katanya pihaknya mengimbau masyarakat bergerak untuk memanfaatkannya.
"Kita meminta bantuan sehingga masyarakat yang kontak erat dilakukan CKG dengan X-Ray. Supaya bisa ditemukan sedini mungkin kasus yang kontak erat bisa dapat obat pencegahan, yang sakit bisa diobati sedini mungkin sehingga mencegah komplikasi yang tidak perlu," tegasnya.
Sekda Jateng Sumarno mengapresiasi langkah cepat Wamenkes dalam menanggulangi angka penularan TBC. Pihaknya sebenarnya sering kolaborasi dengan Kemenkes untuk memetakan wilayah resiko TBC di Jawa Tengah.
"Kita akan disuplai alat tentu saja ini menjadi kita untuk akselerasi dan bahwa di masing-masing desa nanti juga ada kader akan diberi uang operasional dari Kementerian Kesehatan. Tentu saja ini menjadi kolaborasi kekuatan untuk kita bisa mengakselerasi penemuan kasus," jelasnya.
Di tahun ini pihaknya menemukan fakta bahwa ada 15.000 warga terjangkit TBC yang sudah diobati. Namun ada persoalan yang ditemukan yakni masih ada orang-orang yang tertular TBC dari kontak erat keluarga.
"Justru yang kontak erat inilah yang harus kita identifikasi. Jadi penanganan TB ini menjadi lebih tuntas," ujar Sumarno.
Dalam kegiatan pencegahan TBC, katanya juga dengan membentuk desa siaga. Masing-masing desa juga dibentuk kader khusus. Diharapkan kader-kader terpilih bisa terlibat aktif memantau sebaran TBC.
