Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menjinakkan Dolar di Simongan: Pertarungan Phapros Membela Napas Pasien TBC

Menjinakkan Dolar di Simongan: Pertarungan Phapros Membela Napas Pasien TBC
Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Intinya Sih
  • Rupiah melemah terhadap dolar berdampak besar pada industri farmasi, terutama PT Phapros di Semarang yang memproduksi obat TBC vital bagi jutaan pasien Indonesia.
  • Phapros menghadapi lonjakan biaya bahan baku impor hingga 14 persen namun tetap menjaga harga obat sesuai plafon pemerintah melalui kontrak jangka panjang, diversifikasi pemasok, dan efisiensi produksi.
  • Meski tekanan ekonomi tinggi, Phapros berhasil mencatat laba Rp27,44 miliar pada 2025 serta memastikan tidak ada kelangkaan obat TBC nasional selama tiga tahun terakhir.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Semarang, IDN Times - Nia, seorang anak muda di sebuah kedai kopi di kawasan Simpang Lima Kota Semarang, Senin (22/6/2026) pagi menjelang siang, menatap layar ponselnya dengan kening berkerut. Muncul satu berita ekonomi: Rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat, menembus Rp17.843.

Perempuan Gen Z itu menghela napas. Di kepalanya, grafik merah itu berarti rencana menaikkan paket langganan film streaming harus ditunda dulu.

Bagi masyarakat perkotaan pada umumnya—termasuk Nia—gejolak mata uang asing sering kali hanya berdampak pada tertundanya kesenangan. Namun, bergeser 4,3 kilometer ke arah barat dari kedai kopi itu, tepatnya di balik dinding bata tua di Jalan Simongan Nomor 131, Semarang Barat, naiknya dolar membawa ancaman yang jauh lebih nyata.

Di dalam fasilitas produksi yang steril dan terkontrol ketat itu, mesin-mesin bekerja tanpa henti menghasilkan sekitar 22 ribu paket Obat Anti-Tuberkulosis (OAT) setiap bulan. Di gedung itulah, naik-turunnya kurs dolar bukan lagi urusan bursa saham, melainkan penentu hidup-matinya pasokan obat bagi jutaan warga yang napasnya bergantung pada sebutir kaplet.

Ketakutan kehilangan napas itu terekam nyata di dada Jocelin Putra (35) belum lama ini. Saat mengikuti pemeriksaan skrining gratis di Kelurahan Gunungpati, Semarang, napas Jocelin mendadak terasa sesak. Bukan karena paru-parunya rusak, tetapi cemas.

Ayah dua anak itu membayangkan, jika ia atau putri bungsunya yang masih kecil, Celine Edelwis, divonis positif Tuberkulosis (TBC), dari mana ia harus mencari uang untuk membeli obat setiap hari selama berbulan-bulan?

Musuh Tak Kasat Mata

Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Puskesmas Gunungpati Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Kegiatan Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding/ACF) untuk skrining kasus Tuberkulosis (TBC) di Kota Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kepanikan Jocelin baru mereda setelah perawat Puskesmas Gunungpati menenangkannya: seluruh pengobatan TBC ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan. "Alhamdulillah, saya jadi tenang," ucap Jocelin lega.

Rupanya, rasa tenang yang dirasakan Jocelin berlandaskan asumsi yang kurang kokoh. Ia menyangka pasokan obat-obatan gratis di laci puskesmas itu akan selalu tersedia begitu saja, seolah jatuh dari langit.

Kenyataannya, ketersediaan obat gratis itu sedang terhimpit statistik global yang mengkhawatirkan. Pada tahun 2025, mengacu laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Indonesia mencatatkan angka kelam sebanyak 1,09 juta kasus baru TBC, sebuah pencapaian yang menempatkan tanah air di posisi kedua dunia setelah India. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), satu dari sepuluh penderita TBC di planet ini berada di Indonesia, di mana setiap jamnya, terdapat sebanyak 14 jiwa melayang akibat penyakit tersebut.

Menghadapi bakteri Mycobacterium tuberculosis adalah perang melawan waktu dan kepatuhan. Bagaimana tidak? Terapi OAT Kategori 1 mewajibkan pasien menelan obat setiap hari tanpa jeda selama enam bulan. Sekali saja pengobatan terhenti karena puskesmas kehabisan stok, kuman di dalam tubuh pasien tidak akan mati. Bakteri itu justru bermutasi menjadi kebal terhadap obat biasa, melahirkan vonis TBC Resisten Obat (MDR-TB). Jika kondisi itu terjadi, pengobatan yang awalnya cuma enam bulan akan melar bertahun-tahun, jauh lebih menyiksa tubuh, dan memangkas drastis peluang hidup pasien.

Sembari membentangkan lembar data produksi di ruang kerjanya, Direktur Produksi PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, menegaskan prinsip fundamental tersebut.

“Pengobatan TB itu enggak boleh berhenti. Begitu terhenti, ngulang dari awal lagi. Berat bagi pasien,” katanya kepada IDN Times, Sabtu (20/6/2026).

Sejumlah obat TBC produksi PT Phapros Tbk. (IDN Times/Dhana Kencana)
Sejumlah obat TBC produksi PT Phapros Tbk. (IDN Times/Dhana Kencana)

Beban berat bagi pasien itu tidak semata kiasan. Menelan kaplet Fixed-Dose Combination (FDC) 4 setiap pagi menjadi ujian fisik yang menyiksa; lambung penderita harus menahan rasa mual yang hebat, sementara cairan tubuh mereka perlahan berubah warna menjadi kemerahan akibat reaksi zat aktif Rifampisin. Obat itu menyiksa tubuh, tetapi ketiadaannya jauh lebih membunuh.

Di situlah hitung-hitungan ekonomi memegang peranan krusial. Seperti diketahui, Dinas Kesehatan Kota Semarang saat ini sedang gencar menjemput bola memeriksa warga yang belum bergejala menggunakan alat rontgen portabel berteknologi kecerdasan buatan (AI). Hasilnya, per Mei 2025, dari 2.700 orang yang diperiksa, 27 orang tertangkap basah mengidap TBC di luar kesadaran mereka.

Deteksi dini itu menciptakan keajaiban finansial bagi negara. Berdasarkan kalkulasi IDN Times, pengobatan satu pasien TBC yang terdeteksi dini hanya menelan biaya Rp3,8 juta. Namun, jika pasien itu terlambat ditangani—atau putus obat di tengah jalan hingga kuman menjadi kebal—biaya perawatannya meledak hingga Rp13,5 juta per orang karena harus menjalani rawat inap dan komplikasi.

Artinya, jika program deteksi tersebut berhasil menjaring 1.000 pasien sejak awal, negara berhasil menghemat uang klaim BPJS sebesar Rp9,7 miliar.

Pertanyaannya: siapa yang menjaga agar biaya pengobatan itu tetap terkunci di angka Rp3,8 juta dan tidak meledak? Jawabannya ada di lantai pabrik PT Phapros TBK di Simongan. Kaplet buatan Semarang itulah yang menjadi tameng pelindung kas keuangan negara.

Berdamai dengan Dolar

Sejumlah obat TBC produksi PT Phapros Tbk. (IDN Times/Dhana
Sejumlah obat TBC produksi PT Phapros Tbk. (IDN Times/Dhana Kencana)

Jika melacak mundur perjalanan bungkusan obat dari laci Puskesmas Gunungpati melintasi jalanan kota, akan tertuju pada peran vital Phapros di sisi hulu. Ida mengungkapkan, tantangan industri farmasi nasional adalah ketergantungan yang sangat tinggi pada bahan baku impor selama puluhan tahun. Dampak tersebut terasa saat rupiah melemah terhadap dolar, yang seketika melambungkan biaya pengadaan bahan baku dari luar negeri.

Dalam fluktuasi kurs paling terbaru, Phapros mencatat kenaikan harga bahan baku hingga 14 persen. Situasi itu menjadi pelik karena obat TBC dipasarkan lewat sistem e-katalog pemerintah dengan harga eceran tertinggi yang sudah dipatok demi menjamin akses gratis bagi pasien seperti Jocelin. Alhasil, produsen berada dalam posisi terjepit: beban operasional di hulu meningkat akibat tekanan dolar, sementara fleksibilitas harga jual di hilir tidak bisa dinaikkan karena mandat (penugasan) negara.

Phapros tidak tinggal diam meski terhimpit tekanan dolar dan regulasi ketat. Di bawah arahan Ida, kebiasaan lama dibongkar melalui tiga langkah strategis. Langkah pertama adalah mengubah pola pengadaan bahan baku: perusahaan meninggalkan pembelian eceran dan beralih ke kontrak jangka panjang dengan pemasok mancanegara demi mengunci stabilitas harga.

Langkah kedua melibatkan diversifikasi rantai pasok hingga ke Tiongkok agar ketergantungan pada pabrikan tunggal di Eropa dapat dihindari. Ida menekankan pentingnya prinsip proaktif: pencarian pemasok alternatif wajib dituntaskan saat kondisi pasar masih stabil, bukan ketika bahan baku sudah mulai langka di pasaran.

Langkah ketiga difokuskan pada efisiensi internal melalui inisiatif Lean Innovation di area produksi. Ida menyebutkan, para insinyur Phapros berhasil mengoptimalkan mesin cetak tablet sehingga mampu beroperasi lebih cepat tanpa mengurangi standar presisi medis. 

“Dampaknya signifikan, di mana waktu produksi satu batch tablet yang semula 5 jam kini terpangkas menjadi hanya 3 jam. Reduksi durasi kerja mesin tersebut secara langsung menghemat penggunaan uap boiler dan listrik, memastikan biaya produksi obat tetap kompetitif dan sesuai dengan plafon anggaran negara,” akunya.

Aktivitas sejumlah pekerja pabrik PT Phapros Tbk di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Aktivitas sejumlah pekerja pabrik PT Phapros Tbk di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Meski laju mesin produksi bisa dipercepat, formulasi kimiawi memiliki ritme alami yang tidak dapat diintervensi secara instan. Di balik strategi komersial Phapros, tersimpan tantangan saintifik yang pelik dalam pengembangan produk andalan mereka, yakni kaplet FDC 4 (Fixed-Dose Combination).

Upaya menyatukan empat zat aktif dalam satu sediaan kaplet tunggal untuk memfasilitasi kepatuhan pasien merupakan rintangan teknis yang signifikan di meja laboratorium. Komposisi tersebut meliputi:

  • Rifampicin: 150 mg

  • Isoniazid (INH): 75 mg

  • Pyrazinamide: 400 mg

  • Ethambutol: 275 mg

Obat itu harus menempuh berbagai pengujian ilmiah ketat untuk menjamin seluruh komponen aktifnya, saat terdisintegrasi di lambung, mampu terserap ke sirkulasi darah dengan profil dosis dan kecepatan yang setara dengan obat paten referensi di tingkat internasional.

Dalam mengatasi kendala teknis tersebut, Phapros memprioritaskan kolaborasi lintas sektor dengan menggandeng akademisi serta peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Negeri Semarang (UNNES).

Pilar Penopang Dalam Negeri

Pabrik PT Phapros Tbk di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)
Pabrik PT Phapros Tbk di Semarang. (IDN Times/Dhana Kencana)

Bagi Phapros, keterpurukan itu justru menjadi katalisator transformasi operasional mereka. Dalam kurun waktu singkat, performa keuangan perusahaan mengalami titik balik yang signifikan. Mengacu laporan keuangan mereka pada penghujung tahun 2025, Phapros berhasil mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp940,88 miliar, secara efektif menghapus jejak kerugian tahun-tahun sebelumnya dan mengonversinya menjadi laba bersih senilai Rp27,44 miliar.

Namun, signifikansi laba tersebut melampaui dari sekadar angka di atas kertas. Dalam peta persaingan tender obat TBC nasional, Phapros mengemban peran sebagai pilar penopang krusial (the ultimate backstop) bagi ketahanan kesehatan publik. Perusahaan yang berdiri pada 21 Juni 1954 itu secara proaktif menambal defisit stok nasional saat produsen utama lainnya menghadapi kendala kapasitas maupun hambatan distribusi pasokan.

Di balik pencapaian finansial yang impresif tersebut, manajemen memegang teguh satu prestasi yang dianggap paling bernilai: selama tiga tahun terakhir, tidak ada satu pun insiden kelangkaan obat TBC bagi pasien di Indonesia yang dipicu oleh kegagalan produksi di pabrik Simongan.

Kendati laba telah diraih, realitas industri farmasi saat ini tetap meredam euforia tersebut. Kedaulatan kesehatan Indonesia masih berada dalam posisi rentan terhadap guncangan eksternal karena lebih dari 90 persen bahan baku obat nasional masih bergantung pada impor lintas samudra. Kemenangan yang diraih Phapros tahun 2026 ini hanyalah satu fase perjuangan panjang untuk membebaskan akses pengobatan TBC dari belenggu fluktuasi kurs mata uang asing.

Visi sejati industri tidak terpampang dalam grafik rapat direksi, melainkan pada dedikasi nyata di lapangan. Dolar di bursa Wall Street maupun harga bahan kimia dunia boleh saja bergejolak liar, namun bagi pasien seperti Jocelin Putra, jadwal pengobatan tidak bisa ditunda. Di balik tembok Simongan yang terus bergetar oleh mesin produksi, Phapros membuktikan satu kredo hakiki: bahwa menyelamatkan napas manusia adalah satu-satunya nilai tukar yang tidak boleh melemah oleh apa pun.

Infografik: Dampak Kurs ke Napas Pasien TBC
Infografik: Dampak Kurs ke Napas Pasien TBC
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Dhana Kencana
EditorDhana Kencana

Latest News Jawa Tengah

See More