Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ancaman El Nino, Ada Petani Banyumas Terapkan Sawah Pokok Murah
Habib Soleh berdiri di tengah lahan padi yang ditanam dengan sistem SPM di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (2/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)
  • Petani di Desa Cilongok, Banyumas, menerapkan Sawah Pokok Murah (SPM) untuk menghadapi kemarau panjang, penurunan debit irigasi, dan ancaman El Nino.
  • SPM dinilai lebih hemat air dan biaya karena cukup menggunakan bedengan, tanpa sewa traktor, serta mengurangi kebutuhan pupuk kimia dibanding pola tanam konvensional.
  • Sistem SPM membantu pengendalian wereng dan tikus melalui predator alami; di tengah kekeringan yang berdampak pada 20 desa Banyumas, padi Sunggal terlihat lebih sehat dan subur.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2/8/2026

Petani Habib Soleh menyatakan sistem Sawah Pokok Murah menurunkan biaya produksi dibandingkan pola tanam tradisional.

akhir 2026 sampai awal 2027

El Nino diprediksi mencapai puncak dengan suhu anomali hingga 36°C dan curah hujan sangat rendah di Jawa.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Sejumlah petani di Desa Cilongok menerapkan sistem Sawah Pokok Murah (SPM) untuk menanam padi dengan kebutuhan air, biaya produksi, dan penggunaan pupuk kimia yang lebih rendah.
  • Who?
    Petani Desa Cilongok, termasuk Habib Soleh, menerapkan SPM. BPBD Banyumas mencatat 20 desa terdampak kemarau panjang.
  • Where?
    Penerapan SPM berlangsung di Desa Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, di tengah penurunan debit irigasi pada sejumlah wilayah pertanian.
  • When?
    Habib Soleh menyampaikan pengalaman penerapan SPM pada Minggu, 2 Agustus 2026. Padi Sunggal yang ditanam dengan metode ini masih memasuki musim tanam pertama.
  • Why?
    Petani beralih karena kemarau panjang menipiskan ketersediaan air dan meningkatkan risiko gagal tanam, puso, serta serangan wereng dan tikus pada pola tanam konvensional.
  • How?
    Petani membuat bedengan tanpa pengolahan tanah menggunakan traktor, mengurangi pupuk kimia, serta memanfaatkan habitat predator alami untuk membantu menekan wereng dan mengendalikan tikus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Petani di Desa Cilongok, Banyumas, mencoba cara tanam baru namanya Sawah Pokok Murah. Air sedang sedikit karena kemarau panjang dan El Nino bisa datang. Cara ini pakai lebih sedikit air dan pupuk. Petani juga tidak perlu menyewa traktor. Padi mereka terlihat sehat, dan wereng serta tikus lebih mudah dikendalikan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan kemarau, petani Cilongok menunjukkan kemampuan beradaptasi melalui Sawah Pokok Murah. Penghematan air dan biaya memberi ruang bagi kegiatan tanam saat irigasi menurun, sementara pengendalian hama yang lebih efektif dan kondisi padi yang tampak sehat memperlihatkan peluang menjaga produktivitas pada musim yang sulit.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Banyumas, IDN Times - Musim kemarau panjang lagi-lagi bikin ketersediaan air di banyak daerah menipis. Debit irigasi turun, lahan pertanian terancam gagal tanam hingga puso, dan kebutuhan sehari-hari masyarakat ikut terdampak.

Belum lagi ancaman El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya akhir 2026 sampai awal 2027, dengan suhu anomali bisa sampai 36°C dan curah hujan sangat rendah di Jawa.

Di Desa Cilongok, Banyumas, sejumlah petani memutuskan tidak lagi bergantung pada pola tanam konvensional. Mereka mulai menerapkan sistem Sawah Pokok Murah (SPM) yang dinilai lebih hemat air, biaya, dan tahan hama.

1. Lebih hemat air dan produksi, cocok untuk daerah Irigasi susah

Saluran irigasi yang kering di tengah lahan padi di Desa Cilongok, Banyumas. Kondisi ini mendorong petani beralih ke sistem SPM yang lebih hemat air, Minggu (2/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Sistem sawah pokok tidak butuh pengairan sebanyak sistem biasa. Metode ini cocok diterapkan di lahan yang pasokan airnya terbatas, sehingga petani tetap bisa menanam meski debit irigasi sudah turun drastis.

Tidak perlu sewa traktor untuk olah tanah. Cukup buat bedengan saja. Penggunaan pupuk kimia juga jauh lebih sedikit.

"Hasilnya, biaya produksi turun signifikan dibanding cara tanam tradisional,"kata Habib Soleh salah satu petani yang ditemui IDN Times, Minggu (2/8/2026).

2. Lebih tahan serangan hama

Habib Soleh menunjukkan lahan padi yang ditanam dengan sistem SPM di Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (2/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Sistem ini menyediakan habitat bagi predator alami. Wereng jadi sulit berkembang biak, sementara tikus lebih gampang dikendalikan.

Menurut Petani yang sebelumnya sering merugi karena hama kini merasakan perbedaan nyata.

"Dulu saya pakai sistem konvensional dan lebih sering gagal panen karena serangan wereng maupun tikus. Setelah beralih ke SPM, alhamdulillah wereng tidak bisa masuk dan tikus juga lebih mudah dikendalikan,"tambah Habib.

3. Data BPBD, 20 desa kena dampak kekeringan

Data BPBD Banyumas mencatat 20 desa terdampak kemarau panjang salah satunya di desa Pengadegan wangon, Minggu (2/8/2026).(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Meski baru musim tanam pertama, padi Sunggal yang ditanam dengan SPM terlihat lebih sehat dan subur dibanding pola tanam sebelumnya.

Data BPBD Banyumas mencatat 20 desa terdampak kemarau panjang. Inovasi seperti SPM diharapkan bisa menekan risiko gagal panen sekaligus menjaga produktivitas pertanian.

Petani berharap metode hemat air dan ramah lingkungan ini bisa jadi solusi jangka panjang menghadapi El Nino dan musim kemarau yang semakin ekstrem.

Dengan berbagai keunggulan di atas, SPM bukan cuma membantu petani bertahan di musim sulit, tapi juga jadi langkah konkret menjaga pasokan pangan di tingkat lokal.

Editorial Team

Related Article