Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Batu Empedu Tak Selalu Harus Dioperasi, Ini Solusi Minim Risiko
Ilustrasi sakit batu empedu (jovee.id)
  • Kasus batu empedu di Indonesia meningkat akibat pola makan tinggi lemak dan kurang aktivitas, kini juga banyak menyerang usia produktif dengan risiko lebih tinggi pada perempuan.
  • Columbia Asia Hospital Semarang menghadirkan teknologi ERCP yang memungkinkan diagnosis dan terapi batu empedu tanpa operasi besar, menggunakan endoskop untuk tindakan langsung seperti pengambilan batu atau pemasangan stent.
  • ERCP menawarkan pemulihan cepat, risiko komplikasi rendah, serta kenyamanan pasien lebih baik; masyarakat diimbau waspada gejala awal dan menjaga pola hidup sehat untuk mencegah komplikasi serius.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Semarang, IDN Times - Nyeri di ulu hati, mual, atau perut terasa tidak nyaman sering kali dianggap sebagai gejala maag biasa. Namun, di balik keluhan yang tampak ringan tersebut bisa saja tersembunyi masalah kesehatan yang lebih serius, yakni batu empedu.

1. Kasus batu empedu terus meningkat

Ilustrasi Batu Empedu (halodoc.com)

Seiring perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan yang cenderung mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan kurang beraktivitas fisik, kasus batu empedu di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Menariknya, penyakit yang selama ini identik dengan usia lanjut kini juga banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.

Data epidemiologi menunjukkan prevalensi batu empedu di Indonesia diperkirakan mencapai 10–15 persen dari populasi dewasa. Perempuan bahkan memiliki risiko hingga tiga kali lebih besar mengalami gangguan ini dibandingkan laki-laki.

Jika tidak ditangani dengan tepat, batu empedu dapat menyumbat saluran empedu dan memicu komplikasi serius, seperti infeksi saluran empedu (kolangitis) hingga peradangan pankreas (pankreatitis) yang berpotensi mengancam jiwa.

2. Solusi tanpa bedah untuk batu empedu

Columbia Asia Hospital Semarang menghadirkan layanan Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP), sebuah prosedur modern yang berfungsi untuk diagnosis sekaligus terapi gangguan saluran empedu dan pankreas. (dok. RS Columbia Asia)

Kabar baiknya, perkembangan teknologi medis kini memungkinkan penanganan batu empedu tanpa harus menjalani operasi besar. Columbia Asia Hospital Semarang menghadirkan layanan Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP), sebuah prosedur modern yang berfungsi untuk diagnosis sekaligus terapi gangguan saluran empedu dan pankreas.

Melalui prosedur ini, dokter menggunakan endoskop atau selang lentur berkamera yang dimasukkan melalui mulut menuju saluran pencernaan. Dengan teknik tersebut, dokter dapat melihat kondisi saluran empedu secara langsung sekaligus melakukan tindakan medis yang diperlukan.

“Banyak pasien yang terlambat ditangani karena takut akan operasi besar. Padahal, dengan teknologi ERCP, kami bisa melakukan tindakan intervensi tanpa sayatan perut. Pasien tidak hanya mendapatkan diagnosis yang akurat, tetapi juga tindakan langsung seperti pengambilan batu atau pemasangan selang kecil (stent) dalam satu prosedur,” terang Spesialis Bedah Digestif Columbia Asia Hospital Semarang, Dr. dokter. B. Parish Budiono, Msi.Med., Sp.B, Subsp. BD (K),

3. Lebih nyaman dan efisien

ilustrasi gejala batu empedu (pixabay.com/Nastya_gepp)

Berbeda dengan operasi konvensional yang membutuhkan sayatan pada perut, ERCP menawarkan sejumlah keuntungan bagi pasien. Prosedur ini dinilai lebih minim trauma, risiko komplikasi lebih rendah, serta masa pemulihan yang relatif lebih cepat.

Direktur Columbia Asia Hospital Semarang, dokter. Herman Kristanto, MS, Sp.OG, Subsp. KFm, CHQP, MQM, mengatakan, bahwa kehadiran layanan ERCP merupakan bentuk komitmen rumah sakit dalam menghadirkan layanan kesehatan yang aman dan berorientasi pada kenyamanan pasien.

“Kami memahami bahwa masyarakat menginginkan hasil pengobatan yang maksimal dengan risiko seminimal mungkin. ERCP adalah jawaban bagi mereka yang mencari efektivitas tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kenyamanan,” ujarnya.

4. Jangan abaikan gejalanya

ilustrasi batu empedu (clevelandclinic.org)

Maka itu, lanjut Herman, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala seperti nyeri perut kanan atas, nyeri ulu hati yang berulang, mual, muntah, perut kembung, hingga kulit atau mata menguning. Pemeriksaan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

Dengan hadirnya teknologi ERCP di Semarang, masyarakat Jawa Tengah kini memiliki akses terhadap layanan kesehatan berstandar internasional yang mengedepankan penanganan minim invasif tanpa bedah. Langkah ini sekaligus menjadi pengingat bahwa deteksi dini dan konsultasi medis yang tepat dapat menjadi kunci utama dalam mencegah komplikasi akibat batu empedu.

Selain itu, juga perlu menjaga pola makan seimbang, membatasi konsumsi makanan tinggi lemak, rutin berolahraga, serta menjaga berat badan ideal merupakan langkah sederhana yang dapat membantu menurunkan risiko terbentuknya batu empedu.

Editorial Team

Related Article