Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Jateng Gagal Tambah Luas Tanam Gegara Banyak Sungai Surut
ilustrasi sistem irigasi (pixabay.com/EyestetixStudio)

Semarang, IDN Times - Musim kemarau yang berkepanjangan telah mempengaruhi program perluasan lahan tanam yang dilakukan di Jawa Tengah

Berdasarkan keterangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah, upaya memperluas lahan tanam saat ini terbentur minimnya ketersediaan sumber pengairan yang berasal dari aliran sungai maupun waduk. 

"Penambahan luasan tanam memang sudah berjalan tapi belum bisa mencapai target. Soalnya sumber pengairannya minim. Banyak sungai surut juga jadi kendala," kata Supriyanto, Kepala Distanbun Jateng, Kamis (10/10/2024). 

Lebih lanjut, ia menyampaikan untuk luasan tanam padi hanya menghasilkan angka kesanggupan 81.667 hektare dari total target mencapai 195.156 hektare. 

Bahkan capaian luasan tanam padi sampai hari ini yaitu 7.638 hektare. "Atau targetnya baru terealisasi 3,91 persen dan angka kesanggupannya 9,35 persen," katanya. 

Sementara untuk penambahan luasan tanam jagung hanya bisa 6,40 persen dari target mencapai 66,043 hektare. Dengan jumlah tersebut maka angka kesanggupan penambahan luasan tanam jagung sekitar 15,004 hektare atau kisaran 28,18 persen. 

Adapun khusus untuk penambahan luas tanam kedelai pihaknya tidak mematok target sama sekali. "Karena berdasarkan faktor di lapangan, angka kesanggupan hanya 100 hektar, capaian sampai hari ini 13 hektar," paparnya. 

Di samping itu, untuk proses pompanisasi belum bisa dimaksimalkan karena ketersediaan air irigasi yang terbatas selama kemarau. 

Kabid Kedaruratan BPBD Jateng, Muhamad Chomsul menyampaikan mayoritas wilayah Jateng pada Oktober sudah masuk musim penghujan. Untuk wilayah Pantura terutama Brebes, Pekalongan dan Pantura timur masih kategori hujan intensitas rendah. "Nanti kemungkinan puncak musim hujan bulan Februari tahun depan," ungkapnya. 

BPBD Jawa Tengah sedang melakukan kesiapan sumber daya dengan lintas sektor untuk penguatan koordinasi. Apalagi saat pancaroba diprediksi mengalami perubahan cuaca yang sangat ekstrem. "Bisa timbulkan banjir longsor dan puting beliung. 

Maka pihaknya menyarankan warga tiap kabupaten kota dengan menggiatkan lagi resik-resik lingkungan dan memperbaiki jalur evakuasi. 

Editorial Team

Related Article