Semarang, IDN Times - Sebanyak sepuluh Sekolah Rakyat permanen telah dibangun di wilayah Jawa Tengah. Sedangkan enam Sekolah Rakyat lainnya masih berstatus rintisan.
Dari sepuluh sekolah permanen tersebut, tujuh sekolah telah memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan kegiatan matrikulasi. Sedangkan tiga sekolah lainnya masih menunggu penyelesaian pembangunan sarana dan prasarana.
Menurut Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Jawa Tengah, Imam Maskur untuk mendukung operasional tujuh Sekolah Rakyat yang telah berjalan, dibutuhkan 182 guru. Yaitu 53 guru Sekolah Rakyat Dasar (SRD), 66 guru Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP), dan 63 guru Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA).
Sementara itu, tiga Sekolah Rakyat permanen yang masih dalam tahap pembangunan masih membutuhkan 114 guru. Yakni 27 guru SRD, 36 guru SRMP, dan 51 guru SRMA.
"Melalui rakor lintas sektoral, ditargetkan tanggal 31 Juli 2026 kebutuhan guru dapat terpenuhi," tutur Imam kepada IDN Times, Rabu (22/7/2026).
Melalui rapat koordinasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota dan kementerian terkait diharapkan dapat mempercepat penyelesaian berbagai persoalan. Sehingga seluruh Sekolah Rakyat dapat beroperasi secara optimal sesuai target tahun ajaran 2026/2027.
Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, Septina Sintasari, mengatakan, pembangunan asrama yang dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum untuk Sekoah Rakyat permanen di Sukoharjo hingga kini memang belum sepenuhnya selesai. Meski demikian, pihak sekolah tetap optimistis operasional akan dimulai sesuai jadwal.
"Dari sisi kesiapan asrama memang belum selesai, tetapi kami terus mendorong agar tetap sesuai jadwal. Targetnya tetap mulai beroperasi pada 31 Juli," katanya.
Septina menyebutkan, SRMA 17 Surakarta telah menyiapkan sebanyak 188 peserta didik untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran perdana Sekolah Rakyat permanen. Para siswa SRMA 17 Surakarta, nantinya akan menempati sekolah rakyat permanen Sukoharjo.
