Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Cara Menolak Pedagang Asongan di Candi Borobudur Magelang Tanpa Bersikap Kasar

Kota Semarang
3 min read
4 Cara Menolak Pedagang Asongan di Candi Borobudur Magelang Tanpa Bersikap Kasar
Penjual Asongan berjalan menawarkan dagangannya di daerah sekitar Kota Tua, Jakarta Barat pada Rabu (5/8/2020) (IDN Times/Aldila Muharma)
  • Menolak pedagang asongan di Candi Borobudur disarankan dengan tegas namun sopan, termasuk memakai ungkapan Jawa halus "Mboten, maturnuwun" dengan nada tenang.
  • Wisatawan dapat memakai kontak mata singkat, senyum tipis, gelengan kepala, gestur telapak tangan terbuka, lalu tetap berjalan tanpa kembali melihat barang dagangan.
  • Jika masih diikuti, gunakan alasan logistik seperti tas penuh atau harus ke bus; bila terasa mengintimidasi, manfaatkan jalur khusus dan minta bantuan petugas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sedang asyik menikmati kemegahan Candi Borobudur di Magelang, tapi momen liburan terganggu karena dibuntuti pedagang asongan yang terus memaksa? Keresahan ini sering kali membuat serba salah karena menolak terlalu keras khawatir terkesan tidak sopan, tetapi jika didiamkan malah makin dikejar.

Masyarakat Jawa sangat menjunjung tinggi tata krama, sehingga penolakan yang disampaikan dengan gestur dan ucapan yang tepat akan sangat dihormati. Buatkamu yang ingin tetap nyaman saat berwisata, yuk intip trik menolak pedagang asongan secara tegas tanpa harus bersikap kasar!

  1. 1. Gunakan Bahasa Jawa Halus: "Mboten, Maturnuwun"

    Candi Borobudur
    Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah (IDN Times/Holy Kartika)

    Kata-kata adalah pertahanan utama kamu. Daripada menggunakan bahasa Indonesia, cobalah beralih ke bahasa Jawa halus atau Krama Inggil. Katakan kalimat "Mboten, maturnuwun" (artinya: Tidak, terima kasih) dengan nada suara yang tenang, datar, dan tidak membentak.

    Penggunaan bahasa lokal secara instan menunjukkan rasa hormat kepada warga setempat. Langkah ini sekaligus memberi sinyal bahwa kamu sudah familier dengan daerah tersebut, sehingga pedagang sadar kamu bukan wisatawan yang mudah dirayu.

  2. 2. Terapkan "Metode 3 Detik": Tatap, Senyum, dan Alihkan

    Ilustrasi wisatawan Candi Borobudur (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
    Ilustrasi wisatawan Candi Borobudur (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

    Pedagang asongan sangat terlatih membaca bahasa tubuh. Jika kamu terlihat ragu-ragu atau terus memandangi barang dagangan, mereka akan menganggapnya sebagai lampu hijau untuk melancarkan rayuan.

    Saat mereka mendekat, lakukan kontak mata selama 1–2 detik, berikan senyuman tipis yang ramah, gelengkan kepala perlahan sambil menolak, lalu segera alihkan pandangan ke arah lain. Setelah menolak, jangan pernah melihat kembali ke arah barang dagangan dan tetaplah berjalan dengan langkah yang pasti.

  3. 3. Kombinasikan Gestur Tangan "Sopan Santun" khas Jawa

    Candi Borobudur (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)
    Candi Borobudur (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

    Bahasa tubuh sering kali menyampaikan pesan lebih kuat dibanding kata-kata. Kamu bisa mengombinasikan ucapan penolakan dengan gestur fisik yang mengedepankan kesopanan lokal.

    Angkat satu tangan setinggi dada dengan telapak tangan terbuka menghadap ke arah pedagang, posisikan tubuh sedikit membungkuk sebagai tanda hormat, lalu lanjutkan berjalan. Gestur ini menandakan penolakan yang tegas, namun posisi tubuh yang membungkuk menjaga agar tindakan tersebut tidak dinilai sebagai bentuk kesombongan.

  4. 4. Berikan Alasan Logistik yang Sulit Didebat

    Ilustrasi kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur.
    Ilustrasi kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur. (Dok. TWC)

    Jika pedagang masih terus mengikuti, sampaikan alasan logistik yang masuk akal. Alasan ini akan membuat pedagang menyadari bahwa menawarkan barang ke kamu adalah hal yang sia-sia.

    Kamu bisa mengatakan bahwa barang tersebut sudah dibeli di area bawah, atau beralasan harus segera naik ke bus rombongan karena sudah ditunggu pemandu wisata (tour guide). Alasan lain yang cukup ampuh adalah menjelaskan bahwa kapasitas tas sudah penuh dan tidak muat dimasukkan ke bagasi pesawat.

  5. 5. Manfaatkan Jalur Khusus dan Bantuan Petugas

    Sejumlah wisatawan terlihat ramai mengunjungi Candi Borobudur. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)
    Sejumlah wisatawan terlihat ramai mengunjungi Candi Borobudur. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

    Pihak pengelola kawasan wisata sebenarnya telah menyediakan jalur khusus pedagang di area pintu keluar untuk membatasi ruang gerak asongan liar. Hal ini dibuat untuk menjaga kenyamanan alur kunjungan para wisatawan.

    Jika situasi terasa sangat mengganggu atau pemaksaan sudah mengarah ke bentuk intimidasi, jangan ragu untuk mendekat ke arah petugas keamanan (security) atau berkoordinasi dengan petugas resmi di sekitar pelataran candi.

    Menikmati keindahan Candi Borobudur bisa tetap menyenangkan jika kamu tahu cara menghadapi pedagang asongan secara bijak dan sopan.

    Apakah kamu punya pengalaman atau trik tersendiri saat menghadapi pedagang asongan saat berlibur? Bagikan cerita kamu di kolom komentar ya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More