Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Awas Jangan Sembrono! 5 Kesalahan Pendaki Pemula Menjajal Trek Terjal Gunung Sindoro

Awas Jangan Sembrono! 5 Kesalahan Pendaki Pemula Menjajal Trek Terjal Gunung Sindoro
ilustrasi Gunung Sindoro (unsplash.com/Fidha Nur Anisa)
Intinya Sih
  • Manajemen Waktu & Logistik: Jalur Sindoro tidak memiliki sumber mata air alami dan minim vegetasi pohon besar. Mendaki kesiangan bikin dehidrasi ekstrem, sedangkan kehabisan air bisa memicu kram masif.

  • Alas Kaki & Masker Itu Kritis: Trek atas didominasi batuan lepas (kerikil) dan gas belerang aktif yang pekat. Sepatu licin dan absennya masker basah/buff cadangan adalah kombinasi fatal.

  • Jangan Remehkan Summit Attack: Suhu menjelang subuh di dekat puncak bisa drop hingga di bawah 5°C. Wajib pakai jaket windproof dan headlamp, jangan cuma modal senter ponsel pintar!

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mendaki Gunung Sindoro (3.153 mdpl) di Jawa Tengah memang selalu menawarkan pesona yang magis. Namun, di balik keindahannya, gunung api aktif ini menyimpan karakteristik jalur yang terkenal "menyiksa" lutut: didominasi batuan terjal, akar pohon, tanpa bonus bonus jalur landai, serta paparan gas belerang yang menyengat.

Bagi pendaki pemula, jalur yang terlihat jelas sering kali membuat terlena hingga meremehkan medan. Agar agenda mendakimu berjalan aman, pulang tegak tanpa cedera, hindari 5 kesalahan fatal berikut ini.

1. Meremehkan Estimasi Waktu (Mulai Terlalu Siang)

puncak Gunung Sindoro berlatar Gunung Sumbing (commons.wikimedia.org/Ivan_Octhavianus_L.Gaol)
puncak Gunung Sindoro berlatar Gunung Sumbing (commons.wikimedia.org/Ivan_Octhavianus_L.Gaol)
  • Kesalahan: Banyak pemula mulai berjalan dari basecamp (seperti jalur Kledung atau Aliyan) di atas jam 11 siang karena mengira jarak tempuh menuju area perkemahan dekat puncak sangat pendek.
  • Risiko Fatal: Jalur Sindoro sangat terbuka dengan minimnya vegetasi pohon besar di beberapa koridor atas. Mendaki di siang bolong akan menguras cairan tubuh secara drastis (dehidrasi ekstrem). Selain itu, kamu berisiko kemalaman di tengah trek terjal berbatu sebelum sampai di Pos 3 (area camp), yang otomatis meningkatkan risiko tersesat atau terperosok.

2. Menggunakan Sepatu yang Salah (Sol Licin / Tanpa Pelindung Engkel)

hutan mati Gunung Sindoro
hutan mati Gunung Sindoro (commons.wikimedia.org/Hendrojkson)
  • Kesalahan: Menggunakan sepatu lari biasa (running shoes) atau bahkan sandal gunung biasa demi alasan kenyamanan ringan.
  • Risiko Fatal: Karakteristik jalur Sindoro, terutama selepas Pos 3 menuju puncak, terdiri dari batuan lepas (kerikil) berpasir dan tanah merah curam. Sepatu tanpa cengkeraman (grip) yang kuat akan membuatmu terus merosot. Selain itu, tidak adanya pelindung engkel (ankle support) sangat sering memicu cedera terkilir saat kaki harus menahan beban tas ransel (carrier) di bebatuan makadam.

3. Tidak Membawa Masker atau Buff Cadangan untuk Gas Belerang

potret gunung Sindoro (pexels.com/Ridwan Afriandy)
potret gunung Sindoro (pexels.com/Ridwan Afriandy)
  • Kesalahan: Lupa atau sengaja tidak menyiapkan pelindung pernapasan yang memadai karena mengira udara gunung selalu segar bebas polusi.
  • Risiko Fatal: Sindoro adalah gunung api aktif. Di kawasan puncak (terutama sekitar Sabana dan kawah), embusan gas belerang (solfatara) bisa berubah menjadi sangat pekat secara tiba-tiba tergantung arah angin. Menghirup gas belerang tanpa masker basah atau buff dapat menyebabkan pusing hebat, mual, sesak napas, hingga pingsan di jalur yang kanan-kirinya jurang.

4. Summit Attack Hanya Modal Senter HP dan Jaket Tipis

Mendaki gunung
ilustrasi mendaki gunung (pexels.com/Israyosoy S.)
  • Kesalahan: Saat meninggalkan tenda di Pos 3 atau Pos 4 untuk mengejar matahari terbit (summit attack sekitar jam 02.00 - 03.00 dini hari), pemula sering hanya mengandalkan senter dari ponsel atau naik tanpa jaket tebal karena mengira tubuh akan hangat dengan sendirinya saat berjalan.
  • Risiko Fatal: Suhu di jalur atas Sindoro menjelang pagi bisa drop hingga di bawah 5°C disertai angin kencang. Berjalan tanpa jaket penahan angin (windproof) dan lampu kepala (headlamp) membuatmu sangat rentan terkena hipotermia, sekaligus membatasi jarak pandang secara ekstrem di tepian trek batuan.

5. Mengabaikan Manajemen Logistik Air Bersih

Packing ransel mendaki yang benar
ilustrasi packing ransel mendaki yang benar (unsplash.com/Dmytro Matsiuk)
  • Kesalahan: Membawa persediaan air minum yang terlalu pas-pasan karena enggan memikul beban berat di dalam tas.
  • Risiko Fatal: Perlu dicatat dengan tebal bahwa Jalur Kledung dan sebagian besar jalur resmi Sindoro tidak memiliki sumber mata air alami di sepanjang treknya. Semua kebutuhan minum dan memasak dari basecamp hingga puncak harus kamu gendong sendiri dari bawah. Kehabisan air di tengah terik matahari Sindoro akan memicu kram otot masif dan halusinasi.

Tips Tambahan Aman Naik Sindoro

hutan mati Gunung Sindoro
hutan mati Gunung Sindoro (commons.wikimedia.org/Hendrojkson)
  • Gunakan Jasa Ojek Reguler
    • Di jalur Kledung, jangan gengsi memanfaatkan fasilitas ojek lokal dari basecamp menuju batas hutan (Pos 1). Ini siasat cerdas untuk menghemat energi awal sebanyak 1,5 hingga 2 jam berjalan kaki.
  • Bawa Trekking Pole
    • Alat ini sangat krusial di Sindoro. Sepasang trekking pole akan sangat membantu menjaga keseimbangan lutut dan menopang tumpuan kaki saat melewati turunan batu yang curam ketika perjalanan pulang.

Share Article
Editorial Team

Latest News Jawa Tengah

See More