Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Fakta Tari Dug Dug Der, Kini Jadi Identitas Baru Kota Semarang

Kota Semarang
5 Fakta Tari Dug Dug Der, Kini Jadi Identitas Baru Kota Semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Sebanyak 25 ribu warga menari bersama di Festival Tari Dug Dug Der Semarangan 2026 di Simpang Lima, mengantar Pemkot Semarang meraih rekor LEPRID.
  • Tari Dug Dug Der berakar pada tradisi Dugderan sejak abad ke-19 dan dirancang sebagai simbol keberagaman etnis, agama, serta budaya warga Semarang.
  • Gerakannya dibuat sederhana agar dapat dipelajari semua kalangan; Pemkot Semarang akan mengenalkannya melalui sekolah, sanggar, komunitas, dan kegiatan kelurahan sebagai identitas budaya baru.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Semarang, IDN Times – Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. Aksi kolosal itu tak hanya mengantarkan Kota Semarang meraih rekor dari Lembaga Prestasi Indonesia-Dunia (LEPRID), tetapi juga menandai lahirnya sebuah identitas budaya baru yang sedang diperkenalkan kepada masyarakat luas.

Dari balik rekor tersebut, Tari Dug Dug Der itu menyimpan sejumlah fakta menarik. Mulai dari akar sejarahnya yang berasal dari tradisi Dugderan hingga filosofi keberagaman yang menjadi ruh gerakannya. Adapun, berikut lima fakta Tari Dug Dug Der.

1. Terinspirasi dari tradisi Dugderan yang sudah berusia lebih dari satu abad

Tari dug dug der, budaya semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)

Tari Dug Dug Der lahir dari tradisi Dugderan, budaya khas Semarang yang telah berkembang sejak abad ke-19. Nama Dugderan berasal dari bunyi bedug “dug” dan dentuman meriam “der” yang dahulu menjadi penanda datangnya bulan Ramadan.

Tradisi tersebut juga melahirkan ikon Warak Ngendog yang dikenal sebagai simbol akulturasi budaya masyarakat Semarang.

2. Dirancang sebagai simbol keberagaman warga Semarang

Tari dug dug der, budaya semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)

Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng menyebut Tari Dug Dug Der tidak sekadar pertunjukan seni, tetapi juga representasi karakter masyarakat Kota Semarang yang hidup dalam keberagaman.

Menurutnya, tarian ini lahir dari sejarah Semarang sebagai kota yang dibangun oleh berbagai etnis, agama, dan budaya yang hidup berdampingan.

“Kota Semarang berdiri di atas keberagaman. Perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan kita,” ujarnya.

3. Gerakannya sengaja dibuat sederhana agar bisa ditarikan siapa saja

Tari dug dug der, budaya semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)

Berbeda dengan sejumlah tarian tradisional yang membutuhkan kemampuan khusus, Tari Dug Dug Der dirancang agar mudah dipelajari seluruh lapisan masyarakat.

Mulai dari pelajar, komunitas seni, ASN, hingga masyarakat umum dapat mempelajarinya dalam waktu relatif singkat.

Konsep tersebut menjadi salah satu alasan mengapa festival ini mampu melibatkan puluhan ribu peserta secara serentak di Simpang Lima.

4. Langsung memecahkan rekor nasional pada festival perdananya

Tari dug dug der, budaya semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)

Festival Tari Dug Dug Der Semarangan 2026 menjadi panggung pertama tarian ini ditampilkan secara massal.

Sebanyak 25 ribu peserta terlibat dalam kegiatan tersebut dan berhasil mengantarkan Pemkot Semarang meraih Rekor LEPRID kategori “Pemrakarsa dan Penyelenggara Rekor Festival Nari Bareng Dug Dug Der Semarangan dengan Peserta Terbanyak.”

Piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Pendiri dan Ketua Umum LEPRID, Paulus Pangka.

5. Diproyeksikan menjadi identitas budaya baru Kota Semarang

Tari dug dug der, budaya semarang
Sebanyak 25 ribu warga memadati Lapangan Pancasila Simpang Lima, Kota Semarang, Minggu (9/8/2026), untuk menari bersama dalam Festival Tari Dug Dug Der Semarangan. (Dok. Pemkot Semarang)

Pemkot Semarang tidak ingin Tari Dug Dug Der berhenti sebagai acara seremonial atau sekadar pemecahan rekor.

Agustina menegaskan tarian ini akan terus diperkenalkan melalui sekolah, sanggar seni, komunitas, hingga kegiatan masyarakat di tingkat kelurahan.

“Jangan sampai hari ini kita mencetak rekor, besok selesai. Rekor ini kita jadikan titik awal untuk memperluas gerakan budaya di seluruh wilayah,” katanya.

Bagi Pemkot Semarang, keberhasilan mengumpulkan 25 ribu penari bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah menjadikan Tari Dug Dug Der sebagai ruang bersama untuk merawat identitas kota, memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal, sekaligus mengenalkan Semarang kepada generasi muda melalui cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More