Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jerih Payah Ibu-ibu Kampung Bahari Mengikis Trauma Lewat Gerakan Hijau

Kota Semarang
4 min read
Jerih Payah Ibu-ibu Kampung Bahari Mengikis Trauma Lewat Gerakan Hijau
Deretan mangrove yang tumbuh di ujung Kampung Tambakmulyo Kelurahan Tanjung Mas. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Warga Tambakmulyo, Semarang Utara, lama menghadapi abrasi dan banjir rob; tanggul laut setinggi sekitar tiga meter kini membantu mencegah air laut masuk kampung.
  • KWT Cantik Bahari rutin menanam mangrove selama lima tahun di tepi tanggul. Sejak 2022, penanaman bersama PLN Indonesia Power mencapai 15 ribu pohon di 3–4 hektare.
  • Program Intan Bahari mendorong warga mengembangkan pertanian, peternakan, olahan ikan, konservasi mangrove, pengelolaan sampah, serta ketahanan pangan dan sumber penghasilan alternatif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

"Saya tinggal di kampung ini selama puluhan tahun, sejak lahir tahun 1985 sampai besar, air laut selalu masuk ke rumah setinggi paha," kata Dewi sembari menceritakan kondisi kampungnya, di Tambakmulyo RT 04/RW XV Kelurahan Tanjung Mas tatkala ditemui IDN Times, Kamis (17/9/2026). 

Kampung Tambakmulyo berlokasi paling ujung di Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara. 

Bertahun-tahun lamanya daratannya terkikis abrasi. Gelombang pasang yang datang tak berkesudahan membuat rumah-rumah di sana kerap kebanjiran. 

Dewi mengingat saban air laut merendam kampungnya, sejumlah tetangganya terpaksa memutar otak. Bagi yang punya uang simpanan lebih memilih meninggikan bangunan rumahnya. Namun tak sedikit yang akhirnya hanya bisa pasrah. 

"Dulunya rumah saya yang ada disana pasti terendam banjir. Cuman sejak ada sheet pile ini air laut sudah tidak pernah masuk ke kampung," kata perempuan bernama lengkap Dewi Setiyorini tersebut. 

Sheet pile yang dimaksud Dewi ialah tanggul laut yang belakangan dibangun pemerintah sebagai pembendung air rob. Dengan tinggi sheet pile sekitar tiga meter dianggap cukup membantu Dewi dan warga Kampung Tambakmulyo lainnya dari ancaman banjir rob. 

Dewi pun secara aktif bergerak menanam mangrove di sepanjang pinggir sheet pile sebagai sarana mereboisasi garis pantai Tambaklorok yang selama ini terkikis. 

Penanaman mangrove yang ia lakukan bersama Komunitas Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari sedari lima tahun terakhir dikerjakan secara periodik. 

"Sejak kita menanam mangrove, rob yang biasanya selalu masuk ke dalam kampung, sekarang bisa tertahan sedikit sedikit. Mangrove yang kami tanam biasanya akarnya sudah kuat menahan angin kencang dan gelombang pasang kalau sudah tumbuh selama tujuh bulan," ujar Dewi. 

Bagi Dewi dan warga setempat, tumbuhnya batang-batang mangrove paling tidak menjadi tumpuan harapan baru untuk memupus trauma terhadap bencana banjir. 

Dewi kini lega. Senyumnya merekah tiap kali melihat-lihat yang mulai tumbuh membesar. Rona wajahnya tak lagi menyiratkan kegalauan tatkala musim hujan tiba. 

Eti Prasetyani, anggota KWT Cantik Bahari lainnya juga bungah tatkala melewati jalan sepadan tanggul laut yang kini dipenuhi rerimbunan mangrove. 

Tiap kali tumpukan bibit mangrove bantuan dari PLN Indonesia Power UBP Semarang tiba di kampungnya, Eti dengan telaten membantu menyemai di tepi tanggul. Bersama ibu-ibu anggota KWT Cantik Bahari lainnya, dirinya dapat jatah menanam mangrove sejauh 500 meter. 

"Kami senang PLN Indonesia Power senantiasa membantu penanaman mangrove di sini. Karena kami berharap setelah mangrove ini tumbuh subur, kelak fungsinya bisa menggantikan sheet pile buat menahan abrasi," tuturnya. 

Saat kegiatan penanaman mangrove oleh PLN Indonesia Power Semarang dan media diadakan Rabu pagi pun Eti tak segan untuk langsung turun ke bawah tanggul untuk menanam satu persatu mangrove. 

Kedua tangannya tampak cekatan saat melubangi tanah berlumpur sembari mengambil bilah-bilah bambu sebagai penyangga mangrove agar tidak gampang terhempas angin. 

"Kita cukup melubangi tanah beberapa senti saja karena nanti akarnya bisa menjuntai untuk memperkuat diri," sambungnya. 

Meski tampak rajin menanam mangrove, namun hatinya sedikit gelisah ketika melihat sampah yang masih dijumpai di dekat mangrove. Menurutnya sampah itu dibawa para wisatawan yang mampir ke kampungnya semenjak dijadikan destinasi wisata kampung bahari. 

"Biasanya sampah itu dibawa pengunjung yang datang ke sini saban sore. Karena mungkin tong sampahnya gak terlalu banyak, jadinya sampahnya ada yang dibuang ke sungai, lama-lama menumpuk dekat mangrove," ujarnya. 

"Jadinya kita pasang spanduk larangan membuang sampah di pojok tanggul," tambahnya. 

Slamet Riyanto, Ketua RW XV mengatakan mangrove yang ditanam bersama PLN Indonesia Power sejak beberapa tahun terakhir sudah mencakup seluas 3-4 hektare. 

"Jumlahnya sudah ada 15 ribu pohon sejak 2022," jelasnya. 

  1. Ibu-ibu KWT Cantik Bahari jadi daya ungkit memulihkan ekosistem pantai

    Dengan pelibatan ibu-ibu KWT Cantik Bahari sekaligus menjadi daya dorong yang kuat untuk memulihkan ekosistem di garis pantai Tambaklorok. 

    Keberadaan KWT Cantik Bahari juga menjadi mitra binaan untuk memperkuat peran perempuan mendukung program urban farming dan inovasi di bidang reboisasi pantai. 

    "Selain konsen dengan produksi listrik, kami juga peduli dengan kondisi lingkungan kami. Tambakmulyo adalah wilayah ring satu PLN Indonesia Power yang membutuhkan peran kami. Termasuk membantu menanam 15 ribu mangrove sejak tahun 2022," kata Manajer Administrasi PLN Indonesia Power UBP Semarang, Eva Wirabuana. 

    Perubahan mulai terasa di kawasan pesisir Tambak Mulyo, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Masyarakat yang sebelumnya lebih banyak bergantung pada hasil melaut kini mulai mengembangkan sumber penghasilan alternatif, mengelola lingkungan, hingga membangun ketahanan pangan keluarga.

    Perubahan tersebut menjadi bagian dari program Integrasi Pertanian, Peternakan dan Olahan Ikan Bangun Ketahanan Pangan dan Alam Lestari (Intan Bahari) yang dikembangkan PT PLN Indonesia Power Unit Bisnis Pembangkitan (UBP) Semarang bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan.

    Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian sarana, tetapi mendorong perubahan perilaku melalui pemanfaatan potensi lokal. Perempuan pesisir mulai aktif dalam pertanian dan pengolahan pangan, nelayan mulai terhubung dengan rantai pasok produk olahan, pemuda bergerak dalam konservasi mangrove, sementara masyarakat mulai membangun kebiasaan pengelolaan sampah dan kegiatan edukasi bagi generasi muda.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More