"Saya tinggal di kampung ini selama puluhan tahun, sejak lahir tahun 1985 sampai besar, air laut selalu masuk ke rumah setinggi paha," kata Dewi sembari menceritakan kondisi kampungnya, di Tambakmulyo RT 04/RW XV Kelurahan Tanjung Mas tatkala ditemui IDN Times, Kamis (17/9/2026).
Kampung Tambakmulyo berlokasi paling ujung di Kelurahan Tanjung Mas Kecamatan Semarang Utara.
Bertahun-tahun lamanya daratannya terkikis abrasi. Gelombang pasang yang datang tak berkesudahan membuat rumah-rumah di sana kerap kebanjiran.
Dewi mengingat saban air laut merendam kampungnya, sejumlah tetangganya terpaksa memutar otak. Bagi yang punya uang simpanan lebih memilih meninggikan bangunan rumahnya. Namun tak sedikit yang akhirnya hanya bisa pasrah.
"Dulunya rumah saya yang ada disana pasti terendam banjir. Cuman sejak ada sheet pile ini air laut sudah tidak pernah masuk ke kampung," kata perempuan bernama lengkap Dewi Setiyorini tersebut.
Sheet pile yang dimaksud Dewi ialah tanggul laut yang belakangan dibangun pemerintah sebagai pembendung air rob. Dengan tinggi sheet pile sekitar tiga meter dianggap cukup membantu Dewi dan warga Kampung Tambakmulyo lainnya dari ancaman banjir rob.
Dewi pun secara aktif bergerak menanam mangrove di sepanjang pinggir sheet pile sebagai sarana mereboisasi garis pantai Tambaklorok yang selama ini terkikis.
Penanaman mangrove yang ia lakukan bersama Komunitas Wanita Tani (KWT) Cantik Bahari sedari lima tahun terakhir dikerjakan secara periodik.
"Sejak kita menanam mangrove, rob yang biasanya selalu masuk ke dalam kampung, sekarang bisa tertahan sedikit sedikit. Mangrove yang kami tanam biasanya akarnya sudah kuat menahan angin kencang dan gelombang pasang kalau sudah tumbuh selama tujuh bulan," ujar Dewi.
Bagi Dewi dan warga setempat, tumbuhnya batang-batang mangrove paling tidak menjadi tumpuan harapan baru untuk memupus trauma terhadap bencana banjir.
Dewi kini lega. Senyumnya merekah tiap kali melihat-lihat yang mulai tumbuh membesar. Rona wajahnya tak lagi menyiratkan kegalauan tatkala musim hujan tiba.
Eti Prasetyani, anggota KWT Cantik Bahari lainnya juga bungah tatkala melewati jalan sepadan tanggul laut yang kini dipenuhi rerimbunan mangrove.
Tiap kali tumpukan bibit mangrove bantuan dari PLN Indonesia Power UBP Semarang tiba di kampungnya, Eti dengan telaten membantu menyemai di tepi tanggul. Bersama ibu-ibu anggota KWT Cantik Bahari lainnya, dirinya dapat jatah menanam mangrove sejauh 500 meter.
"Kami senang PLN Indonesia Power senantiasa membantu penanaman mangrove di sini. Karena kami berharap setelah mangrove ini tumbuh subur, kelak fungsinya bisa menggantikan sheet pile buat menahan abrasi," tuturnya.
Saat kegiatan penanaman mangrove oleh PLN Indonesia Power Semarang dan media diadakan Rabu pagi pun Eti tak segan untuk langsung turun ke bawah tanggul untuk menanam satu persatu mangrove.
Kedua tangannya tampak cekatan saat melubangi tanah berlumpur sembari mengambil bilah-bilah bambu sebagai penyangga mangrove agar tidak gampang terhempas angin.
"Kita cukup melubangi tanah beberapa senti saja karena nanti akarnya bisa menjuntai untuk memperkuat diri," sambungnya.
Meski tampak rajin menanam mangrove, namun hatinya sedikit gelisah ketika melihat sampah yang masih dijumpai di dekat mangrove. Menurutnya sampah itu dibawa para wisatawan yang mampir ke kampungnya semenjak dijadikan destinasi wisata kampung bahari.
"Biasanya sampah itu dibawa pengunjung yang datang ke sini saban sore. Karena mungkin tong sampahnya gak terlalu banyak, jadinya sampahnya ada yang dibuang ke sungai, lama-lama menumpuk dekat mangrove," ujarnya.
"Jadinya kita pasang spanduk larangan membuang sampah di pojok tanggul," tambahnya.
Slamet Riyanto, Ketua RW XV mengatakan mangrove yang ditanam bersama PLN Indonesia Power sejak beberapa tahun terakhir sudah mencakup seluas 3-4 hektare.
"Jumlahnya sudah ada 15 ribu pohon sejak 2022," jelasnya.
