Jeritan Pemulung Semarang: Harga Plastik Anjlok, Harap Peran Pemerintah

- Harga plastik daur ulang anjlok drastis, memukul ekonomi pemulung seperti Muhaimin dan istrinya.
- Pemulung berperan vital dalam industri daur ulang sebagai pemasok utama bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan plastik.
- Pemulung seperti Muhaimin berharap adanya aturan yang bisa mengangkat derajat pemulung dan melindungi standar harga jerih payah mereka.
Semarang, IDN Times – Di balik gunungan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang, Kecamatan Mijen, Kota Semarang, denyut kehidupan ribuan orang bergantung pada sisa konsumsi masyarakat kota. Salah satunya adalah Muhaimin (55), pria asal Purwodadi, Kabupaten Grobogan, yang telah menghabiskan lebih dari satu dekade hidupnya sebagai garda terdepan dalam rantai daur ulang sampah plastik.
1. Pukulan telak harga plastik

Bagi Muhaimin dan istrinya, Suyatmi, sampah bukan sekadar limbah, melainkan penyambung nyawa mereka. Tapi belakangan ini, wajah tegar Muhaimin menyiratkan kegelisahan. Bukan karena beratnya medan atau bau menyengat yang sudah menjadi makanan sehari-hari, melainkan karena anjloknya harga jual sampah plastik yang mencekik pendapatan mereka.
Muhaimin mengungkapkan, fluktuasi harga komoditas daur ulang saat ini sangat memukul ekonomi para pemulung. Ia mencontohkan penurunan drastis pada jenis plastik botol minum kemasan (PET) dan plastik gelas. Harga limbah PET transparan seharag Rp4.000 sampai Rp6.000 per kilogram (kg).
"Penghasilan jelas menurun karena harga jatuh. Dulu, harga plastik daur ulang seperti botol minum bisa mencapai Rp6.000 per kilogram. Sekarang anjlok drastis, saya jual cuma laku Rp1.500, mentok di harga Rp2.000," kata Muhaimin saat ditemui IDN Times di gubuknya di kawasan Kampung Pemulung TPA Jatibarang, Rabu (6/1/2026).
Kondisi serupa terjadi pada jenis plastik PE Putih yang kini hanya dihargai sekitar Rp1.250 per kilogram. Dampaknya sangat terasa pada pendapatan harian Muhaimin. Jika sebelumnya ia bisa mengantongi rata-rata Rp150.000 per hari, kini mendapatkan Rp100.000 saja sudah sangat sulit. Padahal, ia harus menghidupi istri dan mengirim uang untuk dua anaknya yang berada di kampung halaman.
2. Mata rantai industri daur ulang

Meski sering dipandang sebelah mata, Muhaimin menegaskan jika pemulung berperan vital dalam ekosistem ekonomi sirkular dan industri daur ulang dalam negeri. Pemulung, lanjutnya, adalah pemasok utama bahan baku bagi pabrik-pabrik pengolahan plastik.
"Kami ini yang nguripi (menghidupi) pabrik-pabrik besar. Dari sini barang keluar, ditimbang, lalu masuk pabrik untuk digiling jadi biji plastik. Bahannya berputar terus," jelas Muhaimin.
Ia menggambarkan besarnya volume sampah yang berhasil diselamatkan pemulung dari TPA Jatibarang. Dalam kurun waktu tiga hari sekali, para pemulung di kawasannya mampu mengumpulkan dan mengirimkan lima hingga sepuluh truk limbah plastik siap olah. Tanpa peran pemulung, rantai pasok ke pabrik daur ulang akan terputus, dan volume sampah di TPA akan makin tak terkendali.
3. Asa pada pemerintah dan regulasi

Di tengah ketidakpastian harga, Muhaimin tetap bertahan. Ia tinggal di sebuah gubuk semi permanen di atas tanah sewaan berukuran 4x6 meter.
"Saya ngontrak tanah ini setahun Rp350.000. Sudah sekitar 14 tahun saya jadi pemulung di sini," ujarnya. Kawasan tersebut menjadi rumah bagi sekitar 33 kepala keluarga (KK) yang mayoritas berprofesi sama.
Lebih lanjut, Muhaimin merasa posisi tawar pemulung saat ini sangat lemah dan belum ada payung hukum atau aturan legal yang kuat untuk melindungi standar harga jerih payah mereka.
Hal itu dikarenakan sistem yang belum optimal. Yang paling kentara adalah soal regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan produsen bertanggung jawab atas kemasannya dinilai belum optimal. Di sisi lain, banyak jenis sampah plastik multilayer (saset) yang tidak laku dijual karena sulit didaur ulang
"Harusnya ada masukan atau aturan yang bisa mengangkat derajat pemulung. Kami ini sumber bahan baku pabrik, tapi harganya hancur. Pemerintah perlu menaruh perhatian, karena bagaimana pun plastik ini bahan makan (sumber ekonomi) banyak orang," pungkasnya.


















