Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Pekerja yang Paling Pintar Justru Sering Dikasih Kerjaan Tambahan?
ilustrasi menolak pekerjaan tambahan (pexels.com/Felicity Tai)
  • Fenomena Performance Punishment bikin karyawan serba bisa malah ketiban apes karena terus diandalkan oleh atasan untuk membereskan masalah.

  • Efisiensi waktu sering disalahartikan sebagai tanda sedang menganggur, sehingga ruang kosong hasil efisiensi langsung dijejali beban milik rekan yang lambat.

  • Jika dibiarkan tanpa kompensasi adil, pola beracun ini hanya akan memicu burnout ekstrem dan gelombang resign dari talenta terbaik perusahaan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pekerja yang pintar sering diberi kerjaan tambahan karena bos percaya mereka bisa cepat dan rapi. Saat mereka selesai lebih awal, bos mengira mereka tidak sibuk. Kerjaan teman yang lambat juga bisa diberikan pada mereka. Kalau terus begitu tanpa hadiah yang adil, mereka bisa sangat lelah dan memilih berhenti kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

4 Alasan Pekerja Paling Pintar Justru Sering Dihukum Kerjaan Tambahan

Kenapa Pekerja yang Paling Pintar Justru Sering Dikasih Hukuman Berupa Kerjaan Tambahan?

Intinya Sih:

  • Fenomena Performance Punishment bikin karyawan serba bisa malah ketiban apes karena terus diandalkan oleh atasan untuk membereskan masalah.

  • Efisiensi waktu sering disalahartikan sebagai tanda sedang menganggur, sehingga ruang kosong hasil efisiensi langsung dijejali beban milik rekan yang lambat.

  • Jika dibiarkan tanpa kompensasi adil, pola beracun ini hanya akan memicu burnout ekstrem dan gelombang resign dari talenta terbaik perusahaan.

Pernah nggak sih merasa sudah kerja keras sampai beres lebih awal, tapi ujung-ujungnya malah ditodong proyek baru oleh si bos? Sementara rekan kerja yang santai malah dibiarkan rebahan tanpa teguran. Keresahan ini sangat nyata di dunia kerja. Bukannya mendapat apresiasi, menjadi sosok yang cerdas, efisien, dan serbabisa malah sering jadi bumerang yang kelewat melelahkan.

Dalam kacamata psikologi operasional, fenomena menyebalkan ini disebut sebagai Performance Punishment alias hukuman atas kinerja baik. Walau manajemen mungkin tidak bermaksud jahat menyiksa secara sengaja, ada dinamika tak kasat mata yang terus berjalan. Mari kita bedah alasan logis kenapa keahlianmu justru bikin tumpukan tugas semakin menggunung!

1. Atasan Selalu Mencari Jalur Paling Aman

ilustrasi kerja di kantor dengan rekan kerja (unsplash.com/Jason Goodman)

Saat beban kerja kantor sedang gila-gilanya atau ada proyek dadakan, seorang manajer pasti berada di bawah tekanan besar untuk mencetak hasil cepat dan bebas dari kesalahan. Logika sederhananya, melempar tugas ke karyawan yang lambat sama saja dengan menambah beban pikiran si bos.

Mendelegasikan tugas penting ke orang yang kurang kompeten berarti bos harus meluangkan waktu ekstra untuk mengawasi dan mengajari mereka. Makanya, atasan langsung menargetkan si pekerja pintar sebagai jalur paling aman. Pekerja hebat "dihukum" bukan karena berbuat salah, melainkan karena hasil kerja mereka yang selalu bisa diandalkan tanpa perlu diawasi.

2. Efisiensi Disangka Sebagai "Waktu Luang"

ilustrasi kerja di kantor (pexels.com/Thirdman)

Karyawan terorganisasi biasanya mampu merampungkan pekerjaan utamanya hanya dalam waktu 4 jam, berbanding terbalik dengan karyawan standar yang butuh 8 jam penuh. Sayangnya, ada semacam ilusi optik di mata manajemen saat melihat kecepatan ini.

Manajemen sering kali mengira selisih waktu tersebut berarti si karyawan sedang menganggur atau memiliki kapasitas kosong yang masih bisa diperah. Alih-alih memberikan apresiasi berupa kelonggaran waktu istirahat, ruangan kosong hasil efisiensi tersebut langsung dijejali dengan deretan tugas baru yang tak ada habisnya.

3. Pelampiasan Akibat Karyawan Berkinerja Rendah

potret teman kerja di kantor (unsplash.com/Mimi Thian)

Diam-diam, banyak perusahaan yang menderita karena memelihara deretan karyawan lambat, namun dibiarkan begitu saja akibat proses pemecatan atau pembinaan yang terlalu rumit. Situasi ini jelas menghambat alur kerja tim secara keseluruhan.

Demi menyelamatkan target perusahaan yang semakin mepet, manajemen terpaksa menggeser tanggung jawab dan porsi kerja milik rekan yang tidak kompeten tersebut kepada sang bintang kantor. Alur kerja memang terselamatkan, tapi beban berlipat ganda menimpa satu orang yang sama.

4. Terjebak "Skeptisisme Kompetensi" Sendiri

Ilustrasi Gen Z kerja di kantor (pexels.com/Mikhail Nilov)

Pekerja dengan kecerdasan tinggi rata-rata memiliki standar kualitas perfeksionis terhadap hasil kerjanya. Hal ini membuat mereka sangat gatal dan sulit menolak saat melihat pekerjaan tim mulai berantakan, karena sadar hasil buruk akan merusak reputasi divisi.

Para atasan rupanya sangat mahir membaca celah psikologis ini. Mereka sengaja memanfaatkan rasa tanggung jawab yang terlalu besar tersebut untuk terus mendelegasikan tugas-tugas tersulit, karena tahu proyek itu pasti akan dibereskan dan disempurnakan demi kepuasan batin si pekerja.

Membiarkan pola performance punishment ini terus berjalan tanpa adanya kompensasi yang sepadan sama saja dengan menanam bom waktu di dalam perusahaan. Talenta terbaik lambat laun akan kehabisan energi fisik dan mental hingga terjerembap dalam burnout ekstrem. Ujungnya, mereka akan sengaja memperlambat kerja atau memilih resign massal mencari tempat yang jauh lebih menghargai batasan.

Gimana nih, apakah kamu juga sedang terjebak dalam fase menjadi "tumbal proyek" karena selalu bekerja terlalu rapi di kantor? Yuk, share keluh kesah dan pengalaman kerjamu di kolom komentar!

Curated For You

Editorial Team

Related Article