Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengusir Bosan Berbuah Cuan: Cerita Bayu Tekuni Kerajinan Sabut Kelapa
Pengolahan limbah sabut kelapa menjadi produk yang berguna dalam program Pusaka, PPU, Kalimantan Timur. (IDN Times/Besse Fadhilah)
  • Bayu Firman, narapidana Lapas Kedungpane Semarang, menekuni kerajinan sabut kelapa untuk mengatasi kebosanan, udara pengap, dan pikiran negatif selama berada di kamar tahanan.

  • Setelah pindah dari unit kebersihan, Bayu cepat mempelajari penganyaman sabut kelapa menjadi paranet dan menerima premi bulanan yang dibagi dari hasil kerja.

  • Lapas Kedungpane bekerja sama dengan PT Chewy Louis mengekspor 80 produk sabut kelapa ke Yunani, sambil memberi keterampilan bagi sekitar 1.300 penghuni lapas.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sebelumnya

Lapas Kedungpane telah mengekspor produk mainan anjing berbahan sabut kelapa.

belakangan

Bayu Firman menggeluti pembuatan kerajinan sabut kelapa di Lapas Kedungpane.

Tiap bulan

Bayu dan pekerja lain menerima premi dari hasil pembuatan kerajinan sabut kelapa.

Hingga saat ini

Lapas Kedungpane telah menerima dua kali kiriman bahan, menyelesaikan 80 pcs produk, dan mengirimkannya ke Yunani.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Narapidana Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang membuat kerajinan sabut kelapa berupa paranet yang telah diekspor ke Yunani.
  • Who?
    Bayu Firman mengerjakan kerajinan sabut kelapa bersama narapidana lain. Kepala Lapas Kedungpane Ahmad Tohari dan PT Chewy Louis terlibat dalam program produksi serta ekspor.
  • Where?
    Kegiatan produksi berlangsung di unit kerja Lapas Kelas IA Kedungpane di Semarang. Produk paranet dikirim ke Yunani.
  • When?
    Bayu menyatakan rutin menerima premi setiap bulan. Hingga saat ini, lapas telah dua kali menerima bahan dan menyelesaikan 80 produk untuk dikirim ke Yunani.
  • Why?
    Bayu memilih bekerja membuat kerajinan untuk mengatasi kebosanan, mengalihkan pikiran negatif, dan memperoleh upah selama menjalani hukuman.
  • How?
    Sabut kelapa dianyam menjadi paranet oleh narapidana yang mendapat keterampilan kerja. Bayu mempelajarinya dengan melihat instruktur, lalu mencoba sendiri hingga dapat mengerjakannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Bayu di Lapas Kedungpane membuat anyaman dari sabut kelapa supaya tidak bosan dan tidak berpikir buruk. Ia belajar cepat lalu mendapat upah tiap bulan untuk jajan. Bayu dan narapidana lain membuat paranet bersama PT Chewy Louis. Sekarang, 80 barang dari sabut kelapa sudah dikirim ke Yunani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Kerajinan sabut kelapa di Lapas Kedungpane membuka ruang produktif bagi warga binaan seperti Bayu untuk mengelola kejenuhan dan pikiran negatif melalui pekerjaan yang mudah dipelajari. Selain memberi premi rutin, keterampilan ini menghasilkan produk bernilai hingga dikirim ke Yunani, menunjukkan bahwa aktivitas pembinaan dapat sekaligus membangun kemampuan kerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejumlah narapidana Lapas Kelas IA Kedungpane Semarang memilih mengalihkan pikiran negatif menjadi sebuah aktivitas yang menyenangkan. 

Salah satunya dirasakan Bayu Firman, seorang terpidana yang belakangan sibuk menggeluti pembuatan kerajinan sabut kelapa. Bahan mentah sabut kelapa dianyam dan disulap menjadi paranet.

Bekerja sama dengan PT Chewy Louis, Lapas Kedungpane berhasil mengekspor produk tersebut hingga ke Yunani. Sebelumnya lapas juga telah mengekspor produk mainan anjing dengan bahan serupa.

Bayu bisa mengalihkan pikiran negatif

Bayu menganyam sabut kelapa menjadi produk layak ekspor. (IDN Times/Dok Humas Pemprov Jateng)

Bayu mengungkapkan pilihannya untuk menggeluti kerajinan sabut kelapa tak lain karena selama ini sering bosan saat berada di dalam kamar tahanan. 

Padahal di sisi lain udara pengap dengan jumlah penghuni kamar yang banyak membuat masing-masing narapidana sulit mengendalikan emosi. Malahan menurut Bayu terkadang dirinya berpikiran negatif. 

"Daripada di bawah kan mending cari pekerjaan yang bermanfaat, bisa mengalihkan pikiran negatif," kata Bayu di lokasi unit kerja Lapas Kedungpane. 

Bayu gampang beradaptasi

Lembaran anyaman sabut kelapa yang diproduksi di Lapas Kedungpane. (IDN Times/Dok Humas Lapas Kedungpane)

Ia menuturkan hampir saban bulan dirinya rutin memperoleh upah dari hasil pembuatan kerajinan sabut kelapa. Biasanya uang upahnya dibagi rata sebagai penghasilan sembari menjalani hukuman badan. 

"Tiap bulan kita dikasih premi (upah), dari hasil kerja kita sendiri dibagi rata, bisa buat jajan," paparnya. 

Ia yang sebelumnya bekerja di unit kebersihan, ketika memutuskan pindah unit kerja di bidang kerajinan tangan, dirinya merasa gampang beradaptasi. 

Ia menganggap pekerjaan tersebut sangat mudah dan tidak membutuhkan keahlian khusus.

"Sebelumnya saya bekerja di unit kebersihan, tugasnya ya bersih-bersih. Kemudian saya diberi tugas di sabut kelapa, awalnya hanya lihat instruktur, lalu beberapa jam saya coba ya langsung bisa, sama sekali ga ada kesulitan," kata Bayu. 

Produk sabut kelapa diekspor ke Yunani

Deretan para sipir yang siap mendatangi blok kamar tahanan di Lapas Kedungpane Semarang. (IDN Times/Dok Humas Lapas Kedungpane)

Kepala Lapas Kedungpane, Ahmad Tohari menyampaikan lapasnya memang mempunyai potensi yang besar untuk menghasilkan produk-produk manufaktur.

Hingga saat ini pihaknya telah menerima kiriman bahan sebanyak dua kali, dari bahan tersebut telah diselesaikan 80 pcs yang kemudian dikirim ke Yunani. 

"Memang kami punya keunggulan pada tenaga, saat ini saja penghuninya mencapai 1.300, mereka kami berikan keterampilan, sehingga tidak hanya duduk diam saja menunggu hukuman berakhir," ujar Tohari.

Curated For You

Editorial Team

Related Article