Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Memutus Rantai Pengangguran Vokasi dari Bawah Kolong Mesin
Seorang siswa SMK Harapan Mulya mengerjakan bagian bawah sepeda motor di Teaching Factory Karya Speed, Kendal, Jawa Tengah, Rabu (16/9/2026). Bengkel sekolah tersebut digunakan sebagai ruang praktik sekaligus melayani sepeda motor masyarakat. (IDN Times/Dhana Kencana)
  • SMK Harapan Mulya Kendal bersama Pertamina Lubricants mengoperasikan bengkel teaching factory Karya Speed, agar siswa belajar langsung melayani pelanggan, mengelola bisnis, dan menghadapi standar kerja industri.

  • Sejak program EHS dimulai pada November 2022, Karya Speed membukukan omzet kumulatif Rp601,5 juta yang diputar untuk pengembangan bengkel, alat diagnostik, serta insentif siswa.

  • Bengkel menerapkan pengelolaan oli bekas dan pelumas efisien bahan bakar; dari 150 siswa terlatih sejak 2022, 20 bengkel mandiri rintisan alumni telah berdiri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    SMK Harapan Mulya mengoperasikan bengkel Teaching Factory Karya Speed bersama PT Pertamina Lubricants untuk memberi layanan servis motor, pelatihan bisnis nyata bagi siswa, serta pengelolaan limbah pelumas.
  • Who?
    Siswa SMK Harapan Mulya, termasuk Dimas Sidik, melayani pelanggan seperti pengemudi ojek daring Ahmad Masmican; program didukung PT Pertamina Lubricants, kepala sekolah Rikha Imaniarti, serta alumni seperti Sumaidi.
  • Where?
    Kegiatan berlangsung di bengkel Karya Speed milik SMK Harapan Mulya di Brangsong, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, yang gerbangnya menghadap Jalur Pantura.
  • When?
    Program Enduro Home Service dimulai pada November 2022. Layanan Servis Kunjung dan pembayaran tunda untuk klien korporat diterapkan sejak 2023; data pengangguran SMK yang disebut tercatat pada Februari 2026.
  • Why?
    Program dijalankan untuk memperkecil kesenjangan antara pembelajaran vokasi dan kebutuhan industri, memberi pengalaman kerja langsung, mendorong kewirausahaan alumni, serta menerapkan pengelolaan limbah dan efisiensi bahan bakar.
  • How?
    Siswa melayani servis pelanggan dengan pengawasan guru, mengelola administrasi dan insentif bengkel, memakai pelumas serta alat standar industri, menampung oli bekas untuk pengelola bersertifikasi, dan mengikuti inkubasi alumni ESP.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dimas dan teman-temannya belajar memperbaiki motor di bengkel sekolah di Kendal. Mereka melayani orang seperti Pak Masmican, pengemudi ojek. Pertamina membantu alat dan oli. Oli bekas tidak dibuang ke tanah. Bengkel ini juga mengajari anak-anak bekerja dan punya usaha. Sekarang sudah ada 20 bengkel milik lulusan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di Karya Speed, pertemuan pelanggan dan siswa memberi pembelajaran yang konkret: keterampilan teknis tumbuh bersama keberanian menghadapi keluhan, administrasi, dan standar layanan. Omzet yang diputar untuk peralatan serta insentif memperkuat proses itu, sementara penampungan oli bekas dan servis yang lebih efisien menunjukkan bahwa praktik usaha sekolah dapat berjalan selaras dengan kepedulian lingkungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di sebuah bengkel sekolah di tepi Jalur Pantura, Kabupaten Kendal, siswa SMK belajar menghadapi pelanggan, mengelola perputaran usaha, hingga menangani limbah pelumas berbahaya. Melalui sinergi program Enduro Home Service dan Enduro Student Program, ruang praktik itu bertransformasi menjadi inkubator kemandirian ekonomi bagi generasi muda vokasi.

Kendal, IDN Times — Siang itu di Brangsong, Kabupaten Kendal, angin membawa debu Jalur Pantura masuk ke halaman sebuah bangunan beratap baja ringan. Di dalamnya, deru kompresor berpadu dengan uap bensin dan aroma pelumas.

Ahmad Masmican (43) mematikan mesin skutiknya, lalu melepas helm dengan napas lega. Sehari-hari, jalur aspal yang membentang antara Kabupaten Kendal dan Kota Semarang menjadi ladang tempatnya mencari nafkah. Bagi pengemudi ojek daring (ojol) seperti Masmican, kerusakan kendaraan berarti hilangnya kesempatan bekerja hari itu. Karena menyangkut tumpuan ekonomi keluarga, perawatan rutin menjadi pengeluaran yang tidak bisa ditawar, meski ia tetap harus cermat berhitung biaya.

Bukannya membawa kendaraannya ke bengkel komersial di pusat kota, Masmican memilih berbelok ke gerbang Karya Speed, bengkel teaching factory (TeFa) milik SMK Harapan Mulya Kendal. Setahun terakhir, bengkel sekolah di tepi Jalan Soekarno-Hatta, Brangsong Utara itu menjadi langganan tetapnya setiap dua pekan sekali.

"Saya rutin servis di sini karena biayanya terjangkau dan pelayanannya rapi. Meskipun dikerjakan pelajar, kualitas kerjanya tidak kalah dengan bengkel luar," ujar Masmican, Rabu (16/9/2026).

Untuk paket servis rutin dan penggantian pelumas, Karya Speed mematok tarif Rp85 ribu. Tarif tersebut cukup ramah bagi kantong pengemudi ojek daring yang rata-rata menghabiskan tiga hingga empat liter bensin per hari.

"Tarikan mesin jadi enteng seusai diservis. Apalagi memakai oli Pertamina Enduro yang aromanya khas, kados (seperti) permen. Kadang saya juga mendapat bonus cuci motor gratis," tambahnya dengan logat Jawa yang kental.

Para siswa menangani sepeda motor salah pelanggan di area servis Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kepala SMK Harapan Mulya Rikha Imaniarti mengatakan bengkel tersebut melayani sedikitnya sekitar 200 sepeda motor setiap bulan. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kehadiran pelanggan umum seperti Masmican menjadi ruang belajar nyata bagi para siswa jurusan Teknik Bisnis dan Sepeda Motor (TBSM). Sebab, kendaraan yang masuk ke bengkel itu bukan sekadar mesin peraga statis milik sekolah, melainkan tumpuan hidup yang dipakai pemiliknya untuk bekerja dan berdagang setiap hari.

Siang itu, motor Masmican ditangani oleh Dimas Sidik (15). Siswa kelas X tersebut mengenakan seragam mekanik merah yang lengannya masih tampak sedikit longgar di bahu.

Berhadapan langsung dengan pelanggan dewasa menuntut Dimas tetap tenang. Setelah mencatat keluhan pada Surat Perintah Kerja (SPK), ia berjongkok memeriksa area transmisi otomatis (continuously variable transmission/CVT) dengan senter. Tangannya sempat bergetar tipis saat menyeimbangkan kunci pas, tetapi guru pembimbing yang mengawasi dari kejauhan membiarkan Dimas menyelesaikan tahapan pemeriksaan itu secara mandiri.

Lima menit berselang, Dimas bangkit dan menghampiri Masmican. Dengan bahasa yang runtut dan santun, ia menjelaskan komponen penggerak yang mulai aus, estimasi waktu pengerjaan, hingga rincian biaya. Masmican mengangguk tanda setuju.

Bagi Dimas, pemeriksaan mesin hanyalah separuh dari pekerjaannya. Ia juga memikul tanggung jawab untuk menjelaskan kerusakan kepada pelanggan yang lebih dewasa, menjawab pertanyaan kritis, dan memastikan hasil servisnya aman dikendarai.

"Di kelas kami mempelajari teori mesin. Namun, di bengkel ini saya belajar mengendalikan rasa gugup, merespons keluhan pelanggan secara langsung, dan menangani mesin panas yang baru saja dipacu di jalan raya," tutur remaja yang bercita-cita membuka bengkel mandiri di desanya, Tanggungsari.

Menjembatani Kurikulum Sekolah dan Tuntutan Industri

Dua siswa memindahkan sepeda motor di area Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Aktivitas di bengkel menempatkan siswa dalam alur kerja yang tidak hanya berlangsung di depan mesin, tetapi juga mencakup penanganan kendaraan di ruang servis. (IDN Times/Dhana Kencana)

Pengalaman kerja yang dijalani Dimas di Karya Speed menjawab salah satu persoalan krusial pendidikan vokasi di Indonesia, yakni lebarnya jarak antara materi praktik sekolah dan tuntutan dunia industri.

Tantangan penyerapan lulusan kejuruan tersebut tercermin dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK tercatat sebesar 7,74 persen—tertinggi dibandingkan lulusan SMA (6,23 persen) maupun perguruan tinggi jenjang Diploma IV hingga S3 (6,13 persen), serta melampaui rata-rata tingkat pengangguran nasional pada periode yang sama sebesar 4,68 persen.

Memasuki tengah tahun 2026, kendati turun tipis menjadi 7,68 persen, lulusan SMK masih menempati posisi pengangguran tertinggi di antara seluruh jenjang pendidikan.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa penguasaan keterampilan teknis di ruang kelas belum otomatis menjamin kesiapan kerja. Banyak siswa SMK menghabiskan tiga tahun masa studi hanya dengan membongkar-pasang mesin peraga. Akibatnya, tidak sedikit lulusan yang canggung ketika harus mendiagnosis keluhan pelanggan, bekerja di bawah target waktu, hingga menjelaskan rincian biaya perbaikan.

Pentingnya mendekatkan ruang belajar dengan situasi kerja nyata turut ditekankan oleh Guru Besar Pendidikan Kejuruan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof. Herminarto Sofyan. Dalam kajiannya, Optimalisasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada Pendidikan Kejuruan, ia menilai model teaching factory efektif memangkas kesenjangan kompetensi karena melatih siswa di dalam standar, prosedur, dan ritme kerja yang menyerupai industri sesungguhnya.

Kesadaran itulah yang mendorong SMK Harapan Mulya melakukan pembenahan menyeluruh bersama PT Pertamina Lubricants melalui program Enduro Home Service (EHS). Embrio kemitraan tersebut sebenarnya sudah dirintis sejak 2021, ketika kegiatan pembinaan masih banyak dilakukan secara daring akibat pandemik COVID-19.

Memasuki November 2022, penguatan fasilitas dan identitas bengkel diresmikan untuk menopang operasional Karya Speed yang terbuka bagi publik. Alih-alih sekadar menyalurkan bantuan alat peraga, program berbasis Creating Shared Value (CSV) tersebut merancang bengkel sekolah sebagai unit usaha riil yang dikelola bersama siswa.

Kepala SMK Harapan Mulya Kendal, Rikha Imaniarti, bahkan merombak tata letak bengkel sekolahnya demi membuka akses pasar dan membangun kepercayaan masyarakat.

"Dulu posisi bengkel menghadap ke dalam lingkungan sekolah sehingga tertutup dari luar. Kami putuskan membongkar dan menghadapkan gerbangnya langsung ke Jalur Pantura. Tujuannya agar siswa tidak hanya terampil membongkar mesin peraga, tetapi juga terbiasa menghadapi pelanggan, mengelola transaksi, dan menjaga kepercayaan masyarakat," jelas Rikha.

Perombakan fisik tersebut diikuti dengan penataan pola pembelajaran di ruang praktik. Pada 2026, sebanyak 40 siswa terpilih mengikuti kelas khusus EHS setelah melewati seleksi minat, kesungguhan, dan sikap kerja. Mereka menjalani kurikulum dengan komposisi 70 persen praktik langsung melayani konsumen dan 30 persen teori. Perubahan itu menghadirkan konsekuensi nyata dalam proses belajar. Seperti kesalahan pemeriksaan dapat memicu keluhan, dan pengerjaan yang lambat bisa mengganggu jadwal kerja pemilik kendaraan. Sebaliknya, pelayanan yang memuaskan membuat pelanggan kembali datang.

Infografik: TPT Sakernas 2026. (IDN Times/Dhana Kencana)

Kemandirian Ekonomi melalui Manajemen Bengkel Modern

Seorang siswa melayani pelanggan di meja pelayanan Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Selain pekerjaan teknis di area servis, kegiatan bengkel juga mempertemukan siswa dengan konsumen yang datang membawa kebutuhan kendaraannya. (IDN Times/Dhana Kencana)

Keputusan membuka gerbang bengkel ke jalur utama Pantura diikuti dengan pembenahan manajemen layanan. Di bawah bimbingan Kepala Bengkel sekaligus Ketua Jurusan Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM), Agus Puryanto, siswa dilatih menjalankan operasional bengkel dari hulu ke hilir—mulai dari ketangkasan fisik, administrasi keuangan, hingga pembuatan konten digital untuk promosi.

Untuk memperluas jangkauan pasar, para siswa tidak hanya menunggu pelanggan datang. Sejak 2023, mereka aktif mengajukan proposal layanan Servis Kunjung ke kawasan perumahan, instansi, dan kegiatan komunitas di wilayah Kendal. Karya Speed juga menjalin kemitraan perawatan armada operasional dengan perusahaan logistik dan ekspedisi.

Untuk pelanggan korporasi itu, bengkel menerapkan sistem penagihan kolektif berkala atau bayar tunda (paylater). Armada perusahaan dapat diservis terlebih dahulu, lalu biayanya ditagihkan secara kolektif sesuai kesepakatan. Sistem tersebut melatih siswa memahami pencatatan layanan, manajemen stok suku cadang, hingga pengelolaan arus kas dari pelanggan dengan jadwal pembayaran yang berbeda.

Strategi pemasaran jemput bola tersebut mendongkrak kinerja finansial bengkel secara terukur. Agus menjelaskan, pengembangan operasional Karya Speed pada awalnya dirintis menggunakan pinjaman kas sekolah sekitar Rp20 juta untuk pengadaan suku cadang dan modal kerja awal.

Saat mulai beroperasi pada akhir 2022, bengkel itu baru membukukan omzet sekitar Rp12 juta. Memasuki periode Januari–Agustus 2026, omzetnya telah menembus Rp102 juta, dengan kapasitas layanan stabil di angka 200 unit sepeda motor per bulan. Secara kumulatif sepanjang November 2022 hingga Agustus 2026, bengkel sekolah tersebut berhasil mencatatkan perputaran omzet mencapai Rp601,5 juta.

Angka Rp601,5 juta tersebut merupakan pendapatan kotor selama hampir empat tahun yang arus kasnya dipisahkan dari pembukuan reguler sekolah. Melalui pengelolaan mandiri itu, siswa belajar membedakan secara langsung antara omzet, biaya operasional, dan keuntungan bersih—bahwa uang yang diterima dari pelanggan tidak bisa seluruhnya dibagikan karena sebagian harus diputar kembali untuk menjaga usaha tetap berjalan.

Dari hasil usaha tersebut, sebagian dialokasikan untuk pengadaan suku cadang serta pembaruan alat diagnostik digital, sedangkan sebagian lainnya disalurkan sebagai apresiasi berkala bagi siswa yang bertugas. Skema itu mengenalkan literasi finansial sekaligus menanamkan pemahaman bahwa kualitas layanan berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Oleh karena itu, praktik bisnis di Karya Speed sejalan dengan gagasan link and match pendidikan vokasi yang ditekankan pakar pendidikan vokasi sekaligus mantan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto. Dalam berbagai kesempatan, Wikan mengingatkan bahwa teaching factory di SMK tidak boleh berhenti sebagai etalase alat laboratorium, melainkan harus menghadirkan ekosistem usaha yang utuh—mulai dari perhitungan struktur biaya, kendali mutu layanan, hingga pengelolaan limbah.

Infografik: Mencetak Wirausahawan Otomotif Muda dari Sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana)

Disiplin Kelola Limbah B3 dan Efisiensi Konsumsi Energi

Sejumlah siswa mengerjakan perbaikan sebuah sepeda motor di Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Kegiatan bengkel memberi ruang bagi siswa untuk menjalankan pekerjaan secara bersama sekaligus menerapkan keterampilan otomotif yang mereka pelajari di sekolah. (IDN Times/Dhana Kencana)

Standar industri yang diterapkan di Karya Speed juga mencakup tata kelola lingkungan (environmental, social, and governance/ESG) tingkat tapak. Makin ramai kendaraan yang diservis, makin besar pula tanggung jawab bengkel untuk menangani sisa material beracun—sebuah aspek yang kerap terabaikan di bengkel konvensional.

Disiplin tersebut tampak saat Dimas menguras pelumas lama dari mesin motor pelanggan. Cairan oli bekas yang hitam pekat tidak dibiarkan menetes ke lantai atau mengalir ke saluran air. Seluruh limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) itu ditampung menggunakan wadah khusus agar tidak mencemari tanah dan air tanah warga sekitar.

"Sejak hari pertama praktik, siswa wajib mematuhi prosedur keselamatan dan lingkungan. Oli bekas harus masuk ke drum penampungan tertutup berstandar khusus untuk kemudian diserahkan kepada pihak ketiga pengelola limbah B3 yang tersertifikasi," kata Rikha.

Bagi siswa yang kelak bekerja di industri maupun membuka bengkel sendiri, pembiasaan itu menanamkan etika bahwa tanggung jawab mekanik tidak berhenti saat mesin kembali menyala, tetapi juga mencakup pengelolaan limbah yang dihasilkannya.

Selain pengelolaan limbah cair, para guru pembimbing menanamkan edukasi teknis mengenai hubungan antara perawatan mesin berkala dan efisiensi konsumsi bahan bakar. Penggunaan pelumas yang sesuai dengan spesifikasi mesin—seperti Pertamina Enduro 4T Racing SAE 10W-40 untuk motor bebek/sport dan Pertamina Enduro Matic Series untuk skutik—berfungsi menjaga pelumasan serta kestabilan suhu ruang bakar.

Mesin yang terawat dengan gesekan minimal membuat pembakaran bahan bakar berlangsung lebih optimal. Bagi pekerja lapangan seperti Masmican, efisiensi konsumsi bensin sangat membantu menjaga pengeluaran harian tetap terkendali. Pada saat yang sama, pembakaran mesin yang terjaga membantu menekan kepekatan emisi gas buang dari knalpot kendaraan yang beroperasi setiap hari di jalan raya.

Corporate Secretary PT Pertamina Lubricants, Rika Gresia Wahyudi menuturkan, integrasi antara keterampilan teknis, kewirausahaan, dan tata kelola lingkungan tersebut merupakan inti dari program pembinaan vokasi perusahaannya. Hingga September 2026, program Enduro Home Service tercatat telah bermitra dengan 53 SMK di seluruh Indonesia.

"Kami ingin memperluas perspektif siswa bahwa keterampilan otomotif yang mereka pelajari tidak hanya menjadi bekal untuk mencari pekerjaan, tetapi juga modal untuk menciptakan peluang usaha. Saat siswa melayani konsumen sembari menerapkan manajemen bengkel dan tata kelola lingkungan yang benar, kesenjangan antara bangku sekolah dan dunia industri dapat terjembatani," jelas Rika.

Inkubasi Pascasekolah: Mencetak Wirausaha Muda Mandiri

Seorang siswa menangani bagian mesin sepeda motor yang terbuka di Karya Speed, Rabu (16/9/2026). Dalam program EHS, siswa SMK memperoleh pelatihan keterampilan otomotif selain materi pemasaran dan kewirausahaan. (IDN Times/Dhana Kencana)

Pembinaan di bangku sekolah tersebut berlanjut setelah siswa menyelesaikan studi. Tentu tidak semua lulusan kejuruan harus menjadi pengusaha; sebagian memilih berkarier di bengkel resmi, industri manufaktur otomotif, atau sektor teknik lainnya. Namun, bagi lulusan yang memilih jalur kewirausahaan, bekal dari sekolah membuat mereka tidak perlu memulai dari nol. Sejak program EHS bergulir pada 2022, sebanyak 150 siswa SMK Harapan Mulya telah terlibat dalam pengelolaan Karya Speed, dan 20 lulusan di antaranya kini telah merintis bengkel mandiri.

Untuk menopang para perintis usaha muda itu, Pertamina Lubricants menyediakan jalur inkubasi lanjutan melalui Enduro Student Program (ESP). Berbeda dengan EHS yang berbasis di sekolah, ESP membekali alumni terpilih dengan pelatihan teknis lanjutan, penguatan karakter wirausaha, pendampingan bisnis, hingga bantuan paket modal usaha awal (starter kit) senilai sekitar Rp30 juta berupa peralatan mekanik (toolkit), identitas jenama (branding), etalase, dan pasokan pelumas.

Sumaidi adalah salah satu alumnus SMK Harapan Mulya yang tumbuh melalui jalur tersebut. Selepas lulus, pemuda yang pernah menjuarai kompetisi mekanik tingkat nasional itu terlebih dahulu menjalani pelatihan dan pembekalan intensif ESP selama 40 hari di Bandung sebelum menerima dukungan peralatan usaha. Memasuki dunia usaha yang sesungguhnya menghadapkan Sumaidi pada tantangan baru. Ia harus mencari dan mempertahankan pelanggan, mengatur pembelian pelumas dan suku cadang, serta memastikan pendapatan bengkel mampu menutup biaya operasional.

Berbekal pengalaman menangani pelanggan di Karya Speed dan pendampingan pascasekolah, Sumaidi berhasil melewati fase krusial tersebut. Kini, bengkel miliknya mampu membukukan omzet kotor hingga Rp30 juta per bulan dan menjadi mitra aktif Pertamina Enduro dengan volume penjualan pelumas mencapai 200 liter per bulan. Bengkel itu juga bertransformasi menjadi tempat magang bagi adik-adik kelasnya dari SMK Harapan Mulya, sehingga pengalaman yang dahulu ia peroleh sebagai siswa kini berputar kembali untuk membimbing angkatan berikutnya.

"Sebelum lulus, saya sempat khawatir memikirkan masa depan karena orang tua saya hanya petani. Dukungan dari program ini tidak sekadar memberi kompresor atau kunci pas, tetapi juga menumbuhkan keberanian untuk membuka usaha. Sekarang bengkel ini bisa menopang ekonomi keluarga sekaligus menjadi tempat belajar bagi adik-adik kelas," kenang Sumaidi.

Agar usaha rintisan para alumni tetap bertahan menghadapi persaingan, Pertamina Lubricants melakukan pemantauan dan evaluasi berkala terhadap pencatatan keuangan maupun operasional bengkel binaan. Para alumni yang usahanya berkembang juga difasilitasi untuk mengakses pengembangan usaha lanjutan, termasuk ekosistem kemitraan bengkel dan Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK) Pertamina.

Selain pembinaan kewirausahaan di daerah, siswa dan mekanik muda berprestasi dari SMK mitra juga diberi kesempatan memperluas wawasan ke kancah industri otomotif internasional, salah satunya melalui program Coaching Mekanik VR46 Riders Academy pada ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Internasional Mandalika.

Infografik: Perbandingan Program CSR Pertamina Lubricants. (IDN Times/Dhana Kencana)

Masa Depan yang Mulai Dirakit

Teaching Factory Karya Speed yang berada di lingkungan SMK Harapan Mulya, Kendal, Rabu (16/9/2026). Bengkel ini menjadi bagian dari program Enduro Home Service Pertamina Lubricants dan melayani masyarakat dengan melibatkan siswa dalam kegiatan perbengkelan. (IDN Times/Dhana Kencana)

Menjelang sore di Brangsong, deru kompresor di halaman Karya Speed perlahan mereda. Dimas tampak teliti mengencangkan baut terakhir pada penutup blok CVT skutik milik Masmican. Pengemudi ojek daring itu menyalakan mesinnya; mendengar deru motornya kembali halus dan stabil, ia tersenyum lega lalu melangkah ke meja kasir untuk memindai kode QRIS—sistem pembayaran digital yang langsung tercatat rapi dalam pembukuan bengkel. Bagi Masmican, urusannya sore itu tuntas: kendaraannya kembali prima untuk menyusuri jalanan dan mencari penumpang.

Di sudut bengkel yang mengantongi ulasan bintang lima di platform Google Review tersebut, Dimas mencuci tangannya dengan sabun hingga sisa pelumas hitam luruh dari sela-sela jarinya. Usianya baru 15 tahun, dan perjalanan menuju cita-cita membuka bengkel mandiri di desanya masih panjang. Namun, sore itu, ia telah menuntaskan satu ujian nyata. Yakni memeriksa kendaraan pelanggan, menjelaskan kerusakan dengan jujur, dan melihat hasil kerjanya diuji langsung oleh orang yang menggantungkan nafkah di atas motor tersebut.

Di ruang praktik yang menghadap langsung ke hiruk-pikuk Jalur Pantura itu, Dimas dan ratusan siswa vokasi lainnya tidak sekadar belajar memperbaiki mesin kendaraan warga. Satu per satu baut yang mereka kencangkan hari itu adalah bekal nyata untuk merakit kemandirian ekonomi mereka sendiri.

Curated For You

Editorial Team

Related Article