Di sebuah bengkel sekolah di tepi Jalur Pantura, Kabupaten Kendal, siswa SMK belajar menghadapi pelanggan, mengelola perputaran usaha, hingga menangani limbah pelumas berbahaya. Melalui sinergi program Enduro Home Service dan Enduro Student Program, ruang praktik itu bertransformasi menjadi inkubator kemandirian ekonomi bagi generasi muda vokasi.
Kendal, IDN Times — Siang itu di Brangsong, Kabupaten Kendal, angin membawa debu Jalur Pantura masuk ke halaman sebuah bangunan beratap baja ringan. Di dalamnya, deru kompresor berpadu dengan uap bensin dan aroma pelumas.
Ahmad Masmican (43) mematikan mesin skutiknya, lalu melepas helm dengan napas lega. Sehari-hari, jalur aspal yang membentang antara Kabupaten Kendal dan Kota Semarang menjadi ladang tempatnya mencari nafkah. Bagi pengemudi ojek daring (ojol) seperti Masmican, kerusakan kendaraan berarti hilangnya kesempatan bekerja hari itu. Karena menyangkut tumpuan ekonomi keluarga, perawatan rutin menjadi pengeluaran yang tidak bisa ditawar, meski ia tetap harus cermat berhitung biaya.
Bukannya membawa kendaraannya ke bengkel komersial di pusat kota, Masmican memilih berbelok ke gerbang Karya Speed, bengkel teaching factory (TeFa) milik SMK Harapan Mulya Kendal. Setahun terakhir, bengkel sekolah di tepi Jalan Soekarno-Hatta, Brangsong Utara itu menjadi langganan tetapnya setiap dua pekan sekali.
"Saya rutin servis di sini karena biayanya terjangkau dan pelayanannya rapi. Meskipun dikerjakan pelajar, kualitas kerjanya tidak kalah dengan bengkel luar," ujar Masmican, Rabu (16/9/2026).
Untuk paket servis rutin dan penggantian pelumas, Karya Speed mematok tarif Rp85 ribu. Tarif tersebut cukup ramah bagi kantong pengemudi ojek daring yang rata-rata menghabiskan tiga hingga empat liter bensin per hari.
"Tarikan mesin jadi enteng seusai diservis. Apalagi memakai oli Pertamina Enduro yang aromanya khas, kados (seperti) permen. Kadang saya juga mendapat bonus cuci motor gratis," tambahnya dengan logat Jawa yang kental.
Kehadiran pelanggan umum seperti Masmican menjadi ruang belajar nyata bagi para siswa jurusan Teknik Bisnis dan Sepeda Motor (TBSM). Sebab, kendaraan yang masuk ke bengkel itu bukan sekadar mesin peraga statis milik sekolah, melainkan tumpuan hidup yang dipakai pemiliknya untuk bekerja dan berdagang setiap hari.
Siang itu, motor Masmican ditangani oleh Dimas Sidik (15). Siswa kelas X tersebut mengenakan seragam mekanik merah yang lengannya masih tampak sedikit longgar di bahu.
Berhadapan langsung dengan pelanggan dewasa menuntut Dimas tetap tenang. Setelah mencatat keluhan pada Surat Perintah Kerja (SPK), ia berjongkok memeriksa area transmisi otomatis (continuously variable transmission/CVT) dengan senter. Tangannya sempat bergetar tipis saat menyeimbangkan kunci pas, tetapi guru pembimbing yang mengawasi dari kejauhan membiarkan Dimas menyelesaikan tahapan pemeriksaan itu secara mandiri.
Lima menit berselang, Dimas bangkit dan menghampiri Masmican. Dengan bahasa yang runtut dan santun, ia menjelaskan komponen penggerak yang mulai aus, estimasi waktu pengerjaan, hingga rincian biaya. Masmican mengangguk tanda setuju.
Bagi Dimas, pemeriksaan mesin hanyalah separuh dari pekerjaannya. Ia juga memikul tanggung jawab untuk menjelaskan kerusakan kepada pelanggan yang lebih dewasa, menjawab pertanyaan kritis, dan memastikan hasil servisnya aman dikendarai.
"Di kelas kami mempelajari teori mesin. Namun, di bengkel ini saya belajar mengendalikan rasa gugup, merespons keluhan pelanggan secara langsung, dan menangani mesin panas yang baru saja dipacu di jalan raya," tutur remaja yang bercita-cita membuka bengkel mandiri di desanya, Tanggungsari.