Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Prof Mas'ud Teliti Filosofi Maori untuk Kurikulum Hijau Indonesia

Kota Semarang
2 min read
Prof Mas'ud Teliti Filosofi Maori untuk Kurikulum Hijau Indonesia
Suku Maori di Christchurch, Selandia Baru. instagram.com/12flytravel/
  • Prof Abdurrahman Mas’ud dari UIN Walisongo meneliti filosofi Māori di Selandia Baru melalui hibah LPDP AIR Funds Kemenag untuk mengembangkan pendidikan pelestarian lingkungan di Indonesia.

  • Riset menelaah program Enviroschools yang mengintegrasikan 1.161 sekolah berbasis budaya dan alam, serta menemukan keselarasan ekoteologi Islam dengan filosofi Māori, Ako.

  • Filosofi Ako mendorong pembelajaran timbal balik guru-siswa dalam menangani isu lingkungan lokal; temuan ini direkomendasikan untuk memperkuat kurikulum hijau terstruktur di Indonesia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Suku Maori terkenal dengan keunikannya. Sebab selain dikenal mampu hidup berdampingan dengan alam, suku maori di Selandia Baru juga memiliki pola hidup yang bikin banyak orang penasaran. 

Atas dasar meningkatkan pengetahuan kajian sejarah, seorang pakar ilmu sejarah dan kebudayaan Islam dari UIN Walisongo Semarang bernama Prof Abdurrahman Mas’ud memilih melakukan penelitian terhadap kebiasaan baik yang bertahun-tahun dilakukan suku maori. 

Prof Mas'ud juga memutuskan datang langsung ke Selandia Baru untuk memperbanyak literasi sebagai pijakan dalam mengulik suku maori. 

Bekal penelitiannya di Selandia Baru berasal dari pendanaan hibah riset LPDP AIR Funds Kementerian Agama (MORA). 

Ia tertarik mengulik suku maori terutama untuk memperdalam pengembangan kebijakan pendidikan pelestarian lingkungan berbasis Transcultural Ecotheology dengan menggali praktik terbaik dari filosofi suku tersebut. 

"Pendidikan pelestarian lingkungan tidak bisa lagi berjalan secara parsial. Melalui pendekatan Transcultural Ecotheology, kami melihat bahwa nilai-nilai universal Islam tentang penjagaan alam. Seperti konsep Khalifah, Amanah, Mizan, dan Ihsan memiliki titik temu yang sangat harmonis dengan kearifan lokal. Termasuk filosofi Ako suku Māori di Selandia Baru," kata Mas'ud dalam keterangan yang diterima IDN Times, Sabtu (24/10/2026). 

  1. Prof Mas'ud teliti filosofi pendidikan maori

    Suku Maori adalah penduduk asli Selandia Baru. (swaindestinations.com)
    Suku Maori adalah penduduk asli Selandia Baru. (swaindestinations.com)

    Untuk menggarap penelitiannya, ia mula-mula menggelar FGD bersama Cate Jessep, seorang pengajar dari Sustainable Schools Advisor Auckland Council. Dalam FGD ia membedah kesuksesan program Enviroschools yang telah mengintegrasikan 1.161 sekolah di Selandia Baru ke dalam kurikulum berbasis budaya dan alam.

    Pihaknya menelaah lima prinsip fundamental Enviroschools, yakni penghormatan terhadap kearifan ekologis suku Maori, Respect for Diversity, dan Sustainable Communities.

    Mas'ud dan tim risetnya lalu menemukan titik temu antara ekoteologi Islam dengan filosofi pendidikan Maori, yaitu "Ako". Filosofi Ako mengubah pola pengajaran hierarkis menjadi relasi pembelajaran timbal balik, di mana guru dan siswa berkolaborasi sebagai penjaga alam dalam memecahkan isu lingkungan lokal.

    "Sinergi lintas budaya ini diharapkan menjadi model nyata bagi transformasi pendidikan hijau di madrasah dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia," katanya. 

  2. Bisa diterapkan standar kurikulum hijau di Indonesia

    Prof Abdurrahman Mas’ud dari UIN Walisongo Semarang berbincang dengan peneliti asal Selandia Baru dalam sebuah pertemuan.
    Pakar ilmu sejarah dan kebudayaan Islam dari UIN Walisongo Semarang bernama Prof Abdurrahman Mas’ud berbincang dengan peneliti dari Selandia Baru. (IDN Times/Dok Humas UIN Walisongo Semarang)

    Cate Jessep pun menyambut baik riset yang dikerjakan Prof Mas'ud. Ia merekomendasikan agar temuan dari Selandia Baru dapat mendorong otoritas pendidikan Indonesia untuk memperketat penerapan standar kurikulum hijau secara terstruktur. 

  3. Ekoteologi Islam dan pandangan masyarakat adat perlu bersinergi

    Prof Mas'ud berbincang dengan sejumlah peneliti dari Selandia Baru dalam pertemuan di UIN Walisongo Semarang.
    Prof Mas'ud bertemu sejumlah peneliti dari Selandia baru. (IDN Times/Dok Humas UIN Walisongo Semarang)

    Dr Zain Ali, seorang pakar Islam dari University of Auckland, berpendapat bahwa ekoteologi Islam dan pengetahuan masyarakat adat perlu bersinergi untuk menciptakan pendidikan yang berkelanjutan.

    Associate Principal Papatoetoe Intermediate School, Tracey Prout, menegaskan bahwa Empowered Learners menjadi fokus utama dalam pengembangan praktik pendidikan berkelanjutan berlandaskan filosofi budaya setempat. 

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More