Semarang, IDN Times - Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Cinta Batik Semarang mencuri perhatian pasar global. Sebab, batik tulis yang diproduksi dengan pewarna alam ini mampu menjawab tren ekonomi hijau dan fesyen berkelanjutan.
UMKM Cinta Batik Semarang: Dari Modal Rp50 Ribu Jadi Brand Global?

1. Batik ramah lingkungan berdaya saing global
Produk batik ramah lingkungan yang dihasilkan Cinta Batik Semarang ini menjadi bagian dari pergeseran industri batik dari sekadar produk budaya menjadi komoditas berdaya saing global yang berbasis keberlanjutan.
Pemilik Cinta Batik Semarang, Iin Windhi Indah Tjahjani menuturkan, bahwa usaha yang dirintis sejak tahun 2006 tersebut berawal dari pelatihan membatik yang digelar Dekranasda Kota Semarang dalam program revitalisasi batik daerah.
Dengan modal awal sekitar Rp50 ribu dan peralatan sederhana, ia memulai produksi batik tulis berbasis warna alam. Namun perjalanan awal tidak mudah, keterbatasan pengetahuan teknik dan minimnya akses pendampingan membuat proses produksi kerap mengalami kegagalan.
“Kami banyak belajar dari pameran ke pameran, mencari inspirasi sekaligus meningkatkan kualitas,” ujarnya, Minggu (21/6/2026).
2. Batik eksklusif dengan produksi terbatas
Kini, produk Cinta Batik Semarang dikenal sebagai batik eksklusif dengan produksi terbatas, yang justru meningkatkan nilai jual di pasar premium. Transformasi usaha semakin cepat itu diperoleh setelah Cinta Batik Semarang bergabung dengan ekosistem LinkUMKM BRI melalui Rumah BUMN BRI. Platform ini menyediakan akses pelatihan, pendampingan usaha, hingga perluasan pasar digital.
Iin menyebut, berbagai program di dalamnya membantu pelaku UMKM memahami strategi bisnis modern, mulai dari peningkatan kapasitas produksi hingga pemasaran digital.
‘’Selain itu, penggunaan QRIS dan layanan perbankan dari BRI turut memperlancar transaksi, terutama dalam ekspansi penjualan di marketplace, pameran, hingga kerja sama business-to-business (B2B),’’ katanya.
Tren batik ramah lingkungan kini menjadi nilai tambah penting di tengah meningkatnya kesadaran konsumen global terhadap produk berkelanjutan. Cinta Batik Semarang memanfaatkan pewarna alami untuk mengurangi dampak limbah tekstil, sekaligus mempertahankan karakter estetika batik tradisional.
Kombinasi antara nilai budaya, inovasi, dan keberlanjutan ini membuat produk batik Semarang semakin kompetitif di pasar internasional. Hingga akhir Maret 2026, LinkUMKM BRI telah dimanfaatkan lebih dari 15,57 juta pelaku UMKM di Indonesia.
3. Produk berbasis kearifan lokal miliki daya saing kuat
Platform ini menghadirkan berbagai fitur seperti UMKM Smart, Rumah BUMN, Etalase Digital, Komunitas, hingga Coaching Clinic, serta lebih dari 840 modul pembelajaran. Ekosistem ini menjadi bagian dari strategi BRI untuk mempercepat transformasi UMKM agar mampu naik kelas dan bersaing di pasar global.
Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Dhanny menegaskan, bahwa kisah Cinta Batik Semarang menunjukkan bagaimana UMKM berbasis kearifan lokal dapat berkembang melalui inovasi dan digitalisasi.
“Cinta Batik Semarang menunjukkan bahwa produk berbasis kearifan lokal dapat memiliki daya saing kuat ketika dikelola secara konsisten dan inovatif. Upaya menghadirkan batik ramah lingkungan sekaligus melestarikan warisan budaya menjadi contoh bagaimana UMKM dapat menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan, BRI akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran agar semakin banyak UMKM Indonesia mampu menembus pasar global.