Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ulah Debt Collector Berkedok Preman Disorot, Diduga Punya Bekingan
Aksi teatrikal untuk menyikapi keprihatinan atas kejadian aksi premanisme di Kudus diadakan di Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)
  • Warga Desa Japan, Mejobo, Kudus, mengaku trauma akibat komplotan debt collector yang diduga menagih dengan gaya preman dan kerap mendatangi lingkungan mereka.

  • Ormas Gerakan Jalan Lurus menduga ada oknum aparat Polri dan TNI yang membekingi debt collector, sehingga penagihan disebut berlangsung ugal-ugalan dan memakai kekerasan.

  • GJL mengajak masyarakat serta ormas melaporkan tindakan debt collector yang meresahkan, sekaligus meminta aparat intel bekerja profesional menerima laporan tindak pidana.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
belakangan

Aksi debt collector yang diduga bertindak seperti preman di Desa Japan, Kecamatan Mejobo, Kudus, menggegerkan warga. Warga mengaku trauma karena kerap didatangi komplotan tersebut.

belum lama ini

Ketua GJL Riyanta menggelar aksi teatrikal di Jalan Pahlawan Semarang. Ia menduga debt collector di Kudus dibekingi oknum aparat dan menyerukan penghentian kekerasan dalam penagihan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Aksi debt collector yang diduga bertindak seperti preman dan menggunakan kekerasan saat penagihan di Desa Japan, Kecamatan Mejobo, Kudus, memicu keresahan warga serta kecaman sejumlah elemen masyarakat.
  • Who?
    Komplotan debt collector, warga Desa Japan, Ormas Gerakan Jalan Lurus, serta Ketua GJL Riyanta terlibat dalam isu dan respons terhadap dugaan tindakan penagihan tersebut.
  • Where?
    Dugaan aksi debt collector terjadi di Desa Japan, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Riyanta menyampaikan kecamannya dalam aksi teatrikal di Jalan Pahlawan, Semarang.
  • When?
    Aksi debt collector disebut terjadi belakangan ini. Aksi teatrikal GJL di Jalan Pahlawan, Semarang, berlangsung belum lama ini.
  • Why?
    Warga mengaku trauma karena kerap didatangi kelompok debt collector. GJL menilai penagihan dilakukan secara memaksa dan diduga disertai kekerasan; dugaan keterlibatan oknum aparat masih belum ada keterangan resmi.
  • How?
    GJL menggelar aksi teatrikal, meminta dugaan beking oleh oknum aparat dihentikan, serta mengimbau masyarakat dan ormas melaporkan tindakan kekerasan atau pemaksaan yang dilakukan debt collector.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Warga di Desa Japan, Kudus, takut karena ada penagih utang yang datang seperti preman. Mereka diduga memakai kekerasan saat meminta uang atau kendaraan. Ketua GJL, Riyanta, bilang mungkin ada oknum aparat yang melindungi mereka. Ia meminta warga jangan takut dan segera melapor kalau melihat tindakan jahat itu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Sorotan terhadap tindakan debt collector yang meresahkan menunjukkan tumbuhnya kepedulian bersama terhadap rasa aman warga. Dorongan agar masyarakat berani melapor, disertai harapan agar aparat bekerja profesional dan terbuka menerima pengaduan, menggambarkan ruang pengawasan publik yang lebih aktif terhadap kekerasan maupun berbagai tindak pidana lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Aksi debt collector (DC) yang berlaku mirip preman di Desa Japan Kecamatan Mejobo Kudus belakangan menggegerkan warga setempat. Warga setempat mengaku trauma karena kerap didatangi komplotan DC tersebut. 

Ulah komplotan DC yang bertindak seperti preman tersebut juga dikecam sejumlah elemen masyarakat. Ormas Gerakan Jalan Lurus (GJL) menyebut ulah DC yang beraksi di Kudus disinyalir dibekingi sekelompok oknum aparat. 

"Saya katakan pasti ada beking. Oleh karena itu terhadap oknum anggota Polri dan TNI yang menjadi beking DC harus dihentikan," kata Ketua GJL Riyanta saat menggelar aksi teatrikal di Jalan Pahlawan Semarang belum lama ini. 

Ia menduga dengan posisi DC dilindungi sejumlah oknum aparat keamanan justru menjadi blunder. Sebab, perilaku mereka menjadi ugal-ugalan menagih nasabah dengan memakai cara kekerasan. 

Sehingga ia menyarankan kepada masyarakat menjadi bagian dari pengawas sehingga ketika ada kasus tersebut bisa segera dilaporkan.

"Saya ingin anggota GJL diseluruh Indonesia untuk menjadi agen. Nanti dilaporkan siapa yang bermain," ujarnya.

Selain itu, ia mengimbau kepada para ormas dan masyarakat agar jangan takut dalam melawan segala bentuk kekerasan oleh DC.

Aksi premanisme atas nama jasa DC harus dihentikan secepatnya. Apalagi banyak DC yang memaksa penagihan kepada warga. 

"Saya sampaikan kepada semuanya untuk melawan tindakan oknum-oknum DC yang kadang-kadang juga bertindak sebagai preman, kita rakyat jangan takut dengan preman. Karena banyak DC yang memaksa masyarakat yang mengendarai kendaraan kebetulan kredit, mereka kadang tidak diserahkan ke perusahaan malah digelapkan, dijual, atau malah masyarakat diperas," paparnya. 

Pihaknya juga mengingatkan kepada para intel-intel kepolisian yang dianggap memiliki anggaran lebih agar bekerja secara profesional. 

Ia berharap supaya para Intel tidak hanya bekerja untuk pengamanan saat adanya aksi namun bagaimana menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk melaporkan suatu kasus yang sedang dialami.

"Masyarakat digalang dicerdaskan untuk kemudian menjadi pelapor apapun terhadap kasus-kasus tindak pidana yang meresahkan masyarakat seperti korupsi, kolusi, nepotisme, ilegal BBM, mafia tanah, mafia peradilan, dan kegiatan-kegiatan ilegal lainya," pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article