ilustrasi pria sedang bersemedi (unsplash.com/Darius Bashar)
Ia menyampaikan mata kuliah yang diajarkan dalam Prodi PKT TYME lebih banyak memperdalam mengenai seluk-beluk lelaku ritual bagi warga penghayat. Contohnya, pada Semester I dan Semester II, tiap mahasiswa penghayat diberi pelajaran mengenai tata laksana spiritualitas.
Dalam pelaksanaan belajar di ruang kelas, kata Sulis, mahasiswa penghayat diberi pemahaman bagaimana caranya meningkatkan sisi spiritualnya.
"Misalnya tentang cara ibadahnya si mahasiswa A, B dan C. Kita diberi pelajarannya secara pemahaman universal. Artinya karena kita tidak punya kitab suci, ya kita beri pemahaman bahwa bagaimana caranya kita bisa mengakses energi spiritual yang lebih sensitif. Karena memang caranya di setiap paguyuban berbeda-beda. Karena penghayat ada banyak sekali. Mulai Sapta Dharma, Kepribaden, Kejawen dan masih banyak lagi. Tapi esensinya sama bahwa kita sembahayangnya mengarahnya kepada satu tujuan ke Tuhan," ujarnya.
Tak cuma itu saja, saat di kelas, para mahasiswa penghayat juga diajari proses bermeditasi agar cara lelakunya bisa fokus pada Manunggaling Kawulo Gusti.
"Pelajaran itu nanti kita hening di kelas. Kemudian diajarkan proses meditasi. Kalau di paguyuban saya menyebutnya semedi, untuk yang lainnya beda lagi. Hanya saja tujuannya tetap sama yaitu melakukan ritual pada satu tujuan ke Manunggaling Kawulo Gusti. Karena saat bermeditasi, pikiran, lelaku, jiwa kita harus memasrahkan kepada gusti. Sehingga dalam kesehariannya kita bisa tahu yang kita lakukan segala sesuatunya ada konsekuensinya," ungkapnya.
Sulis pun membenarkan bahwa saat ini proses penerimaan mahasiswa baru untuk Prodi PKT TYME masih berlangsung. Sebab, dari pihak Ditjen Dikti membuka jadwal penerimaan mahasiswa baru khusus Prodi PKT TYME lebih lama ketimbang prodi lainnya.