Pelaksanaan MBG di wilayah Jawa Tengah disebut-sebut telah mendapat dukungan dari para nelayan yang bergerak di unit pengolahan perikanan.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (WamenKP) Didit Herdiawan Ashaf mengatakan sekitar 54 unit usaha perikanan saat ini mulai memasok kebutuhan untuk pelaksanaan MBG.
Didit dalam paparannya menyebutkan pasokan dari unit usaha perikanan berupa ikan segar, bakso, ikan fillet sampai nugget.
"Dengan jenis produk mulai dari ikan segar dan fillet hingga produk olahan seperti bandeng presto, nugget, bakso, dimsum, dan abon ikan," ungkapnya saat menghadiri kegiatan sosialisasi peraturan presiden tentang tata laksana industri perikanan di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Rabu (30/9/2026).
Ia menuturkan adanya pasokan produk-produk perikanan ke sektor MBG maka menunjukkan telah mulai bergersl ke rantai pasok pangan bergizi. Malahan menurutnya ini bisa membuka ruang untuk pengembangan pasar yang lebih luas.
Berdasarkan industri hilir perikanan, Didit juga bilang Pemprov Jawa Tengah memiliki ekosistem pengolahan dan rantai dingin yang mendukung 10.062 UPI mikro-kecil, 93 UPI menengah-besar, dan 155 unit cold storage, dengan sebaran UPI ber-SKP sebanyak 367 unit.
Bergeraknya industri perikanan, katanya menggambarkan tersedianya basis pelaku usaha untuk menghasilkan produk perikanan yang lebih beragam dan bernilai tambah.
Berdasarkan data KKP 2025 yang digunakan dalam bahan paparan, konsumsi ikan Jawa Tengah tercatat 16,85 kilogram per kapita, dibandingkan angka nasional 26,08 kilogram per kapita.
Pihaknya mengklaim ini bisa memperkuat pentingnya penguatan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (GEMARIKAN) melalui peningkatan akses, ketersediaan, keberagaman produk, serta edukasi konsumsi ikan.
Penerbitan Perpres Nomor 74 Tahun 2026 memperkuat kelembagaan dan arah kebijakan GEMARIKAN.
Jawa Tengah memiliki basis perikanan yang kuat dan ekosistem rantai pasok yang semakin berkembang.
Produksi pembesaran perikanan budidaya pada tahun 2025 mencapai 537.335,21 ton, dengan sentra produksi antara lain Brebes, Demak, Jepara, Pati, dan Banjarnegara.
"Hal ini menunjukkan ketersediaan bahan baku ikan yang cukup besar untuk mendukung kebutuhan konsumsi masyarakat maupun pengembangan pasar pangan bergizi," kata Didit.
"Namun tingkat konsumsi ikan Jawa Tengah masih perlu terus didorong," tandasnya.
