Comscore Tracker

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta Api

Museumnya KA Ambarawa beradaptasi dengan kebiasaan baru

Semarang, IDN Times - Pandemik COVID-19 yang terjadi selama 17 bulan terakhir telah memukul seluruh sektor perekonomian di dunia. Di Indonesia, dampak terberat dirasakan oleh sektor transportasi terutama yang turut bergerak melayani dunia pariwisata. 

PT KAI sebagai penyedia jasa moda perkeretaapian juga ikut terpuruk selama pandemik. Lini bisnisnya pun limbung. Segala upaya dilakukan demi membangkitkan gairah masyarakat menggunakan moda perkeretaapian. 

Salah satu cara yang ditempuh PT KAI adalah dengan mengadaptasi segala perubahan perilaku yang berkembang di tengah masyarakat. Upaya beradaptasi terlihat saat Museum Kereta Api Ambarawa dibuka untuk umum setelah adanya keputusan penurunan status Pemberlakuan Pembatasan Kebijakan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Semarang yang berada di level 2.

Museum KA Ambarawa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk melancong saat akhir pekan. Museum yang berada di titik ketinggian +474,40 meter ini terbagi dua bagian. Pada sebelah utara sebagai pusat ruang pamer kereta api kuno peninggalan pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Sedangkan sisi selatan digunakan sebagai gedung Depo Lokomotif Ambarawa.

Suryanto, Kepala Depo Lokomotif Ambarawa, berkata ada tujuh pegawai yang senantiasa memberikan perawatan rutin pada deretan rangkaian kereta uap yang dioperasikan untuk menunjang pariwisata di Ambarawa. 

"Di depo loko uap setiap hari ada tujuh pegawai yang rutin memberi perawatan sekaligus melakukan pengawalan terhadap rangkaian kereta uap yang dioperasikan. Jadi, walapun selama pandemik museumnya tutup total, tapi kita tetap merawat kereta uap secara berkala," kata Suryanto saat ditemui IDN Times pada Senin (9/8/2021). 

Agar dapat menjaga kehandalan, Suryanto dan rekan-rekannya kerap menghidupkan mesin kereta uap sebulan sekali. 

Saat IDN Times menyambangi Depo Lokomotif Ambarawa siang itu, para pegawai depo tampak sibuk mengoperasikan sebuah kereta uap dengan berjalan maju mundur berberapa kali. Kepulan asapnya yang membumbung tinggi berwarna putih. Berulang kali Suryanto memerintahkan kepada masinis kereta uap untuk menyalakan klakson berulang kali. 

Bagi Suryanto, kepulan asap yang keluar dari ketel uap harus benar-benar dijaga kadar polutannya. Karena meskipun merupakan barang kuno dengan nilai nilai historis yang tinggi, kepulan asap pada ketel uap selalu diawasi oleh BMKG. 

"Kereta uap ini kan sering dicek oleh BMKG. Pengawasan juga sering dilakukan untuk mengecek kadar uapnya. Apakah mencemari lingkungan atau tidak. Tapi kondisi saat ini cukup baik. Jadinya kita dapat sertifikat kelayakan dari BMKG," akunya. 

Kereta uap peninggalan pemerintah Hindia-Belanda tetap terawat dengan baik

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta ApiKepala Depo Lokomotif Uap Ambarawa, Suryanto mengecek kondisi salah satu kereta uap yang sering dioperasikan untuk wisata kereta uap jalur Ambarawa-Bedono. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Ada banyak kereta uap yang dirawat dengan baik di Depo Lokomotif Ambarawa. Termasuk sebuah loko uap berseri B2503 yang dijalankan di rel bergerigi pada era perusahaan Nederlands Indische Spoorweg (NIS) pada 1902.

Sembari menunjukan kereta uap seri B2-0202, ia menyebut kereta itulah yang jadi andalan untuk membawa para wisatawan menikmati rute Ambarawa-Tuntang. 

Suryanto bilang kendala yang dihadapi selama pandemik yakni adanya efisiensi anggaran dari Kemenhub sehingga membuat perawatan pada kereta uap sempat tersendat. 

Meski begitu, beberapa kali ia kerap kerepotan mengganti spare part kereta uap. Bahkan kereta uap seri B5112 buatan Jerman akhirnya teronggok di Depo Lokomotif Ambarawa lantaran tidak ada dana untuk membiayai pengganrian spare part. 

"Spare part-nya memang sangat mahal. Misalnya harga satu pipa pada ketel uapnya saja Rp2 juta lebih. Padahal kebutuhan kita mesti mengganti 20 pipa. Sudah berapa duit yang harus dikeluarkan. Maka kita perbaiki mesinnya dulu. Sementara tidak kita pakai karena menunggu kiriman spare part yang diimpor dari luar negeri," ujar Suryanto. 

Selain kereta uap, Museum KA Ambarawa juga mengandalkan sebuah lokomotif bertenaga diesel seri B300 E30124 dimana jika dalam situasi normal, bisa dioperasikan secara bergantian. 

Untuk merawat lokomotif diesel, pekerja depo sering menghidupkan mesinnya sekitar sejam sampai dua jam saban hari. Suryanto mengaku setiap pengunjung yang berwisata menggunakan kereta kuno peninggalan Belanda punya pengalaman yang indah. 

Tarif sewa menggunakan kereta uap dibanderol Rp15 juta sekali jalan. Sebuah kereta uap yang dijalankan membutuhkan bahan bakar 3 kubik kayu bakar. Suryanto mengoperasikan satu lokomotif uap untuk menarik tiga rangkaian gerbong. 

"Satu gerbong bisa diisi 40 orang. Kalau tiga gerbong kapasitasnya kurang lebih 120 orang. Rute kereta uap mulai dari jalur perlintasan Ambarawa sampai memutari melewati Tuntang sekali jalan," paparnya. 

Kereta uap dijalankan oleh empat orang. Satu orang bertugas menjadi juru api yang menjaga kehandalan bahan bakar kayu dan tekanan uapnya. Satu orang lagi bertugas sebagai masinis. Dan dua orang sisanya menjadi pramugari yang melayani penumpang di dalam gerbong. 

Museum KA Ambarawa dibuka dengan mengutamakan protokol kesehatan

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta ApiSejumlah wisatawan tampak mencuci tangannya dengan sabun yang tersedia di akses pintu masuk Museum KA Ambarawa, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Manajer Historical Building and Museum, PT KA Wisata, Trisna Cahyati menuturkan keberadaan Depo Lokomotif Ambarawa menjadi sarana penunjang yang penting untuk mengoptimalkan layanan pariwisata bagi Museum KA. 

Trisna menyebut sejak Bupati Semarang Ngesti Nugraha menurunkan status PPKM jadi level 2, Museum KA Ambarawa mulai 28 Agustus 2021 dibuka kembali untuk keperluan pariwisata. 

"Dan benar, begitu kita umumkan lewat medsos kalau museumnya sudah dibuka, animo masyarakat yang kepengin liburan ke sana sangat tinggi. Sudah mulai ada peningkatan yang signifikan ketimbang sebelum PPKM," ujar Trisna. 

Tercatat sejak tanggal 9 September sampai 13 September terdapat ratusan wisatawan yang menyambangi Museum KA Ambarawa. Namun tak semuanya bisa leluasa masuk ke dalam museum. Seperti pada Rabu (1/9/2021) ada 15 wisatawan yang check in dan ada 29 orang yang ditolak masuk museum. 

Kemudian saat akhir pekan di hari Minggu (5/9/2021), juga ada sebanyak 50 orang yang check in. Namun yang ditolak masuk juga sangat banyak yaitu berjumlah 272 orang. 

Menurut Trisna, antusiasme wisatawan yang liburan ke Museum KA Ambarawa pasca PPKM dibarengi dengan pengetatan protokol kesehatan. 

Berharap pemerintah izinkan anak kecil masuk museum

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta ApiPara wisatawan berjaga jarak saat menikmati liburan di Museum KA Ambarawa, Kabupaten Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Selain mewajibkan memakai masker, Trisna menyarankan kepada wisatawan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir pada wastafel yang tersedia di depan akses masuk museum. Lalu wisatawan diminta berjaga jarak, menghindari kerumunan serta wajib menunjukan kartu atau sertifikat vaksin yang terdaftar pada aplikasi peduli lindungi. 

"Semua protokol kesehatan itu kita lakukan demi menjaga wisatawan agar nyaman berlibur ke Museum KA sekaligus mengurangi paparan virus Corona. Sehingga kita tetap berupaya mengadaptasi pada aturan baru PPKM serta memberikan pengawasan ketat meskipun status levelnya sudah di angka 2," tutur Trisna. 

Trisna menekankan satu syarat lagi yang mutlak dipatuhi oleh wisatawan ialah tidak boleh mengajak anak berusia 12 tahun ke bawah saat masuk ke Museum KA Ambarawa. Sebab, dalam peraturan terbaru yang dirancang Satgas COVID-19, pelaku wisata hanya boleh mengakomodir wisatawan dengan batasan usia 12 tahun keatas hingga usia 60 tahun. 

"Tapi saya harap dengan level PPKM yang semakin turun, kasus COVID-19 yang mulai berkurang, setidaknya ada aturan baru yang memperbolehkan anak usia 12 tahun kebawah bisa masuk museum. Karena pengunjung Museum KA itu selama ini paling banyak dari anak-anak kecil," ucapnya. 

Sedangkan, Kepala KAI Daop 4 Semarang, Wisnu Pramudyo menyambut baik adanya pelonggaran aturan PPKM yang diberlakukan di wilayah Daop 4. Pihaknya juga mengaku terbantu dengan program vaksinasi COVID-19 yang digencarkan oleh Pemkot Semarang maupun Pemkab Semarang. 

"Kita juga terbantu dengan program vaksinasi yang digalakan Walikota Semarang, Dinkes dan tim KKP. Saat ini kita berusaha optimalkan promosi wisata kereta uap di Ambarawa lewat media sosial. Nyatanya begitu Museum KA Ambarawa dibuka lagi, minat masyarakat untuk berpergian sudah meningkat. Cuman kita masih melakukan batasan-batasan sesuai aturan PPKM yang ada saat ini," terangnya. 

Museum KA Ambarawa awalnya sebuah Stasiun Willem I yang diresmikan tahun 1873

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta ApiDua emak-emak berpose di bawah papan nama Stasiun Willem I yang menjadi cikal bakal pembangunan Museum KA Ambarawa di Kabupaten Semarang. (IDN Times/Fariz Fardianto)

Sementara itu, dari jejak sejarahnya disebutkan dalam laman resmi heritage.kai.id bahwa Museum Kereta Api Indonesia atau Indonesian Railway Museum awalnya adalah sebuah stasiun yang bernama Stasiun Willem I. 

Stasiun Willem I dibangun oleh Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) yang diresmikan pada tanggal 21 Mei 1873 bersamaan pembukaan lintas Kedungjati-Ambarawa tahun 1907.

Ambarawa dapat dikatakan sebagai kota militer, karena menyokong kota garnizum Magelang guna mengontrol daerah pedalaman. 

Pada tahun 1835 dibangun sebuah komplek benteng besar yang berhasil dirampungkan tahun 1848. Benteng terbesar di Jawa tersebut diberi nama Willem I mengingat pembangunan banteng dilaksanakan pada masa pemerintahan Raja Willem I. 

Pada tahun 1873 dibangun jaringan kereta api di Ambarawa oleh perusahaan kereta api swasta Nedherlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Pembangunan tersebut merupakan syarat yang harus dipenuhi NISM guna mendapatkan ijin konsensi pembangunan jalur kereta api pertama Semarang-Vorstenlanden (Solo-Yogyakarta). NISM diwajibkan membangun jalur kereta api cabang lintas Kedungjati-Ambrawa sepanjang 37 km guna keperluan militer.

Sebagai tempat pemberhentian akhir dibangun Stasiun Willem I (Stasiun Ambarawa). Kuat dugaan, penamaan Willem I mengacu kepada Benteng Willem I yang berada tidak jauh dari stasiun. Pada 1 Februari 1905 dilanjutkan pembangunan jalur kereta api ke Secang-Magelang yang terdapat jalur kereta khusus, rel bergerigi. Dua tahun berselang, bangunan Stasiun Ambarawa direnovasi dengan mengganti material yang semula berupa kayu dan bambu menjadi batu bata.

Hal senada juga dilontarkan oleh seorang peneliti perkeretaapian dari komunitas Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Semarang, Tjahjono Raharjo. Tjahjono mengatakan Stasiun Willem I peruntukannya zaman dahulu untuk pembuatan jalur kereta pertama di Indonesia yang menyambungkan dari Semarang ke Yogyakarta.

Waktu itu pemerintah kolonial Hindia-Belanda memberi izin dengan pembuatan rel kereta dari Kedungjati-Ambarawa kemudian dilanjutkan dengan pembangunan rel kereta sampai ke Yogyakarta dan Purworejo. 

"Jalur rel kereta Semarang ke Yogyakarta itu dibuat untuk melayani angkutan kereta api khusus hasil bumi. Kemudian setelah disambungkan sampai ke Secang dan Purworejo, fungsinya juga untuk kepentingan militer," bebernya. 

Untuk Stasiun Willem I, pemerintah kolonial Hindia-Belanda merancang bangunannya yang melibatkan para arsitek asal Belanda. 

"Desain bangunannya dibuat di Belanda. Tapi bahan bakunya dirakit semua di Ambarawa. Komponen bahan bakunya dari baja dan besi. Pada waktu bersamaan Belanda juga membangun Stasiun Kedungjati dan Purwosari Solo. Maka jangan heran kalau desain bangunan tiga stasiun itu mirip semua," ujar Dosen Arsitek Unika Soegojapranata Semarang ini. 

"Setelah stasiunnya jadi terus dipakai angkutan penumpang. Hanya saja awal tahun 1970'an moda kereta api yang kalah bersaing dengan angkutan jalan raya, kemudian oleh pemerintah Indonesia akhirnya ditutup semua jalurnya. Ditambahw lagi ada jembatan rel kereta di Muntilan dan Yogyakarta yang putus kena lahar dan tidak pernah dibangun lagi. Baru setelah Gubernur Jateng terdahulu, Soeparjo Rustam punya gagasan untuk membuka lagi jalur bergerigi yang terbelangkalai dan stasiunnya dijadikan museum sampai sekarang," sambungnya. 

Pemerintah disarankan bentuk lembaga non profit untuk kelola Museum Ambarawa dan kereta uap

Adaptasi untuk Bangkitkan Wisata Kereta ApiInfografis Museum KA Ambarawa (IDN Times/Aditya Pratama)

Pihaknya menyatakan di masa kini sebaiknya pemerintah pusat memberikan perawatan khusus pada kereta uap di Ambarawa dengan perlakuan khusus. Ia menyarankan supaya kereta uap jangan lagi dikomersilkan. Ada baiknya pemerintah Indonesia belajar dari pengalaman negara Inggris yang membuatkan satu lembaga non profit yang khusus mengelola operasilnal kereta uap. 

"Mungkin kita bsa belajar dari negara paling  bagus mengelola kereta seperti Inggris. Di sana ada jalur kereta kuno yang tidak ditangani pemerintah. Tapi dijalankan lembaga non profit atau swasta. Memang susah kalau Museum KA Ambarawa masih dibawah KAI dan Dirjen Perkeretaapian. Karena mereka menjalankan atas dasar mengambil keuntungan. Ya kita gak bisa menyalahkan KAI, tapi sebaiknya pengelolaan Museum Ambarawa ada bagian sendiri. Kalau dulu kan ada bagian unit heritage yang merawat loko kuno dan gedung-gedung kuno tapi habis itu dikecilkan perannya. Jadinya sebaiknya saran saya ke depan dibuat lembaga tersendiri yang mengelola Museum KA Ambarawa diluar kendali Dirjen Perkeretaapian dan KAI," urainya. 

Baca Juga: Ke Semarang, Ini 5 Alasan Kamu Wajib Eksplorasi Museum KA Ambarawa

Topic:

  • Bandot Arywono

Berita Terkini Lainnya