Ungaran, IDN Times – Tren wisata jelajah alam yang terus meningkat menjadi peluang emas bagi masyarakat Jawa Tengah untuk mendulang rupiah. Melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), profesi pemandu gunung kini diarahkan menjadi karier profesional yang menjanjikan dengan standar nasional.
Jadi Pemandu Gunung Profesional, Peluang Cuan Dari Hobi Mendaki!

1. Peluang menghasilkan Rp650 ribu dari hobi mendaki
Potensi ekonomi dari sektor ini tidak main-main. Ketua APGI Jawa Tengah, Lazuardi, mengungkapkan bahwa seorang pemandu wisata gunung profesional di Jawa Tengah bisa mengantongi pendapatan antara Rp350 ribu hingga Rp650 ribu per hari.
"Peminat pendakian sangat tinggi, mencapai 900 ribu orang per tahun di 15 kawasan gunung di Jateng. Sebagian besar pengguna jasa berasal dari kota besar seperti Jakarta yang haus akan keindahan alam," ungkap Lazuardi di sela orientasi lapangan di jalur Perantunan, Gunung Ungaran (18/4/2026).
2. Sertifikasi nasional untuk saingi pasar kerja
Untuk memastikan keamanan dan kualitas layanan, para peserta tidak hanya diajak naik gunung, tetapi dididik sesuai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Pelatihan intensif selama 100 jam ini meliputi: Teknik pelayanan tamu (hospitality), Navigasi darat dan manajemen perkemahan, Pengetahuan keanekaragaman hayati dan budaya lokal. Kode etik pemandu profesional.
Peserta yang lulus nantinya akan mendapatkan sertifikasi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP, sehingga siap bersaing secara profesional.
3. Upaya Pemprov Jateng tekan pengangguran
Langkah Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dalam membuka pelatihan ini bertujuan untuk menangkap potensi kebutuhan pemandu yang masih sangat besar. Saat ini, baru tersedia sekitar 160 pemandu profesional di Jateng, jumlah yang belum sebanding dengan jutaan pendaki.
Program ini terbukti efektif. Lulusan batch pertama tahun 2025 dilaporkan telah terserap sepenuhnya di berbagai penyelenggara wisata alam (operator trip).
4. Dari porter menuju pemandu profesional
Salah satu peserta, Endang Pratiwi, mengaku antusias meningkatkan level kariernya. Perempuan yang sebelumnya bekerja sebagai porter lepas ini berharap pelatihan ini menjadi batu loncatan baginya.
"Saya ingin meningkatkan kapasitas. Harapannya setelah ini saya bisa menjadi pemandu profesional, bukan lagi porter, sehingga sumber penghasilan pun meningkat," ujar lulusan pecinta alam tersebut.
Pelatihan ini menjadi bagian dari persiapan Jawa Tengah menyongsong Tahun Pariwisata dan Ekonomi Syariah 2027, dengan mencetak tenaga kerja terampil yang mampu mengelola kekayaan alam secara berkelanjutan.