Misteri Ndalem Jernih, Rumah Indis Mbah Ilyas Saksi Budaya Sokaraja

- Ndalem Jernih di Sokaraja, peninggalan Mbah Ilyas bergaya Indis, menjadi simbol perpaduan arsitektur Eropa dan kearifan lokal Banyumasan yang masih terjaga hingga kini.
- Festival Sokaraja 2026 di pelataran Ndalem Jernih menghadirkan kuliner tradisional, seni calung, tari Banyumasan, serta workshop budaya untuk mengenalkan warisan sejarah kepada generasi muda.
- Pemerintah Banyumas mendukung festival ini karena mampu melestarikan bangunan bersejarah sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif dan menjaga nilai ramah lingkungan berbasis kearifan lokal.
Banyumas, IDN times - Di tengah hiruk pikuk Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, berdiri kokoh Ndalem Jernih, sebuah rumah kolonial bergaya Indis yang kini menjadi simbol pelestarian budaya lokal. Dulunya milik Mbah Ilyas, seorang saudagar kaya di era kolonial, bangunan rumah mewah ini, menjadi saksi hidup perpaduan antara kekayaan pribumi, arsitektur Eropa, dan kearifan Jawa Banyumasan.
Ndalem Jernih merupakan contoh klasik rumah bergaya Indis yang mempertahankan material kayu asli dan elemen arsitektur bersejarah. Ciri khasnya terlihat dari struktur kayu yang kuat, ventilasi alami khas tropis, serta tata ruang yang mencerminkan hierarki sosial masa lalu. Bangunan ini menggabungkan gaya Eropa (Indische) dengan sentuhan lokal Jawa, menciptakan harmoni yang menjadi identitas penting warisan budaya Banyumas.
1. Jejak sejarah dan nilai budaya

Sebagai rumah milik saudagar sukses, Ndalem Jernih pernah menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial di Sokaraja. Di sini, perdagangan, pertemuan masyarakat, dan pelestarian tradisi berlangsung secara bersamaan.
Arsitekturnya yang megah dengan material kayu yang masih terjaga hingga kini menjadi bukti ketangguhan dan keindahan arsitektur masa kolonial yang jarang ditemui lagi.
Lokasi ini kini sering dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan pelestarian budaya dan festival lokal. Puncaknya adalah Festival Sokaraja yang digelar setiap tahun untuk menghidupkan kembali memori kolektif masyarakat melalui berbagai aktivitas.
2. Festival Sokaraja 2026, menghidupkan Ndalem Jernih

Ratih Arifah, yang biasa menjadi penyelenggara Festival Sokaraja di pelataran Ndalem Jernih ini menjelaskan tradisinya biasanya diawali dengan pemukulan lesung dan kenthongan sebuah alat musik tradisional yang merepresentasikan identitas agraris Banyumas.
Pengunjung dapat menyelami budaya lebih dalam melalui Pasar Lama yang menyajikan kuliner otentik seperti Soto Sokaraja dan jajanan tradisional, pertunjukan seni calung Banyumasan dan tari tradisional, workshop pelestarian musik lesung serta digitalisasi UMKM, jelajah sejarah “Mlaku-Mlaku Neng Sokaraja”.
“Festival Sokaraja ini hadir untuk memperkenalkan bangunan sejarah Ndalem Jernih kepada generasi muda, dan kami ingin mereka mengenal dan ikut menjaga warisan budaya daerah ini," ujar Ratih kepada IDN Times saat digelar festival pada tanggal 6-7 Jani 2026 lalu.
3.

Sementara Junaidi, Plt. Kepala Dinas Porabudpar Kabupaten Banyumas, mengapresiasi inisiatif kegiatan seperti Festival Sokaraja yang tidak hanya melestarikan bangunan bersejarah seperti Ndalem Jernih, tetapi juga mendorong ekonomi kreatif melalui UMKM dan wisata budaya.
Juniaidi menambahkan dengan konsep ramah lingkungan menggunakan kemasan alami seperti daun pisang dan besek bambu, festival Sokaraja yang digelar tiap tahun ini juga menghidupkan kembali kearifan lokal dalam menjaga alam nilai yang sudah lama tertanam di masyarakat Sokaraja.
Ndalem Jernih sebagai bangunan tua telah menjadi ruang hidup yang menghubungkan masa kolonial dengan era modern, ini bukti pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan pemberdayaan masyarakat, Warisan Mbah Ilyas ini terus menginspirasi, mengajak kita semua untuk menjaga dan merayakan kekayaan budaya Banyumas,"katanya.


















