Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jalur Beda Sineas Muda, Grebeg Film Banyumas 2026 Siap Digelar Agustus

Jalur Beda Sineas Muda, Grebeg Film Banyumas 2026 Siap Digelar Agustus
Para sineas muda di Banyumas bakal menggelar kembali grebek film Banyumas pada bulan Agustus 2026 mendatang, Minggu (7/6/2026).(IDN Times/Foto: Dok. Wasis)
Intinya Sih
  • Grebeg Film Banyumas 2026 hadir sebagai ajang sineas muda Banyumas mendokumentasikan budaya lokal, menggali akar tradisi, dan menjaga identitas daerah di tengah arus modernisasi.
  • Peserta melakukan sowanan ke pelaku budaya untuk menggarap tiga film dokumenter tentang Dalang Muda, Ritual Cowongan, dan Kesenian Genjring Kuna yang terancam punah.
  • Tahap produksi Gunungan Film sedang berlangsung menuju pemutaran perdana Agustus 2026, dengan target festival nasional hingga internasional serta kolaborasi literasi digital daerah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Purwokerto, IDN Times - Di saat banyak anak muda lebih sibuk bikin konten TikTok atau Reels yang cepat viral, puluhan pelajar di Banyumas Raya justru memilih jalur yang beda , mereka akan mendokumentasikan budaya leluhur, merekam memori kolektif masyarakat, dan merawat tradisi yang mulai tergeser zaman.

Mereka adalah para peserta Grebeg Film Banyumas (GFB) yang akan digelar pada Agustus 2026 mendatang. Menurut Direktur Program GFB 2026, Wasis Wardhana, program inkubasi film dokumenter yang tidak cuma mengajarkan teknik bikin film, tapi juga memngajak generasi muda untuk balik menggali akar budaya sendiri.

"Di balik kamera yang mereka genggam nantinya, ada misi yang jauh lebih dalam, memastikan tradisi lokal masih punya tempat di tengah derasnya arus modernisasi,"katanya kepada IDN Times, Minggu (7/6/2026).

1. Film jadi cara baca ulang kebudayaan Banyumas

Seorang pria mengenakan kaus hitam dan topi abu-abu memegang mikrofon sambil berbicara di depan layar dengan poster film di latar belakang.
Tonny Trimarsanto, pemateri dalam GFB , founder Rumah Dokumenter Klaten dan Ketua Bidang Pengembagan Perfilman Daerah, Badan Perfilman Indonesia.(IDN Times/Cokie Sutrisno)

Tahun ini, Grebeg Film Banyumas punya pendekatan yang sangat khas Jawa. Seluruh rangkaian acaranya dibangun mengikuti tiga fase inspirasi tradisi lokal ruwatan Film, Gunungan Film, dan Ngalap Berkah. "Bukan cuma gimmick nama doang, film dokumenter itu sebenarnya cara kita memahami dan memaknai ulang realitas kehidupan masyarakat,"katanya.

Wasis mengutip John Grierson, dokumentaris legendaris asal Skotlandia yang bilang dokumenter adalah “perlakuan kreatif terhadap realitas”. Makanya, kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya jadi modal utama. "Film dokumenter nggak lahir dari ruang kosong, Ia lahir dari kemampuan melihat, mendengar, dan memahami kehidupan di sekitar kita,"ujar Wasis.

Sebelumnya, tahap Ruwatan Film digelar selama tiga hari akhir Mei 2026 di Embung Boto Wijaya, Desa Karangnangka. Mereka dibimbing langsung oleh para senior perfilman nasional, termasuk Tonny Trimarsanto, pendiri Rumah Dokumenter Klaten yang juga menjabat Ketua Bidang Pengembangan Film Daerah di Badan Perfilman Indonesia.

"Saat itu Tonny menekankan pentingnya ruang pertemuan antar sineas daerah. Menurutnya, dari sini lahir ide ide segar dan karya yang punya identitas lokal kuat, daerah punya banyak cerita yang belum terangkat. Film bisa jadi medium untuk menyuarakannya,"katanya.

2. Menyelami tradisi yang nyaris hilang lewat Sowanan

Seorang perempuan berbicara di hadapan sekelompok anak muda yang duduk melingkar di ruangan tradisional dengan alat musik dan makanan di sekitarnya.
GFB 2026 mendatang akan ada proses sowanan atau kunjungan langsung ke para pelaku budaya ternama di Banyumas.(IDN Times/Foto : DOk. Wasis)

Yang bikin GFB 2026 mendatang beda dari pelatihan film biasa adalah adanya proses sowanan atau kunjungan langsung ke para pelaku budaya.Peserta nggak cuma dapat teori di kelas, tapi turun ke lapangan, ngobrol bareng dalang, seniman, budayawan, sampai warga yang masih menjaga ritual turun temurun.

Dari situ, lahir tiga ide film dokumenter yang terpilih Dalang Muda yang berjuang mempertahankan seni pedalangan Banyumasan di tengah menurunnya minat anak muda ke wayang, Ritual Cowongan, tradisi memanggil hujan yang jadi bagian penting masyarakat agraris Banyumas Raya., dan Kesenian Genjring Kuna, kesenian religius yang semakin jarang dipentaskan.

"Ketiganya dipilih karena sedang menghadapi ancaman serius akibat modernisasi. Lewat film dokumenter, para pemuda ini ingin mencatat jejak budaya sebelum hilang ditelan waktu,"tambah Wasis.

3. Menuju gunungan film dan ngalap berkah

Beberapa peserta berdiskusi di depan layar proyektor besar pada malam hari dalam tahap produksi Gunungan Film.
Para peserta sedang asyik di tahap Gunungan Film alias proses produksi.(IDN Times/Foto : Dok. Wasis)

Sekarang para peserta sedang asyik di tahap Gunungan Film alias proses produksi. Mereka gencar syuting, wawancara, dan menyusun narasi visual. Puncaknya bakal ada di Ngalap Berkah pada Agustus 2026, dengan pemutaran perdana di bioskop lokal Purwokerto. Tapi ini baru permulaan.

Tim GFB menargetkan film film ini bisa melaju ke festival nasional hingga internasional. Mereka juga mulai jalin kerja sama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Banyumas serta Perpustakaan Bank Indonesia Purwokerto untuk distribusi dan literasi digital.

Selama ini perfilman Indonesia sering terpusat di Jakarta. Padahal, daerah daerah seperti Banyumas menyimpan ribuan cerita manusia, budaya, dan perubahan sosial yang sama kuatnya.

Melalui tangan anak-anak muda ini, kisah dalang muda, ritual Cowongan, dan Genjring Kuna kini dapat napas baru. Karena pada akhirnya, film tidah hanya soal gambar bergerak, namun film adalah cara masyarakat menjaga ingatannya, dan di Banyumas, ingatan budaya itu sedang dirawat dengan penuh semangat oleh generasi yang memilih untuk merekam bukan melupakan,"pungkas Wasis.

Share Article
Topics
Editorial Team
Bandot Arywono
EditorBandot Arywono

Latest News Jawa Tengah

See More