Semarang, IDN Times - Banyak warung nasi Padang yang bertebaran di seantero negeri ini. Tak terkecuali di Kota Semarang, para perantau dari Padang pasti mengandalkan usaha warung nasi Padang untuk bertahan hidup.
Namun siapa sangka di balik keberhasilan orang Padang berjualan nasi, tak lepas dari trik-trik jitu yang telah berjalan secara turun-temurun.
Awal Rahmad atau yang disapa Uda Awal misalnya, sudah puluhan tahun dikenal sebagai pemilik Rumah Makan (RM) Padang Chaniago yang mampu bertahan sampai sekarang.
Uda Awal bercerita bahwa dirinya memutuskan berjualan nasi Padang karena bisikan keluarga besar di Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar).
Ketika jelang reformasi banyak orang bangkrut dan eksodus, Uda Awal justru mulai meniti usaha dengan jualan sate Padang.
Tentunya yang dilakukan Uda Awal tidak ujug-ujug. Melainkan dengan perhitungkan yang matang. Termasuk membawa serta resep rendang ajaib warisan nenek moyangnya dari Pariaman.
"Merantau ke Jakarta sejak umur belasan tahun. Datang ke Tanah Abang, semula ikut orang dulu jualan kecil-kecilan. Terus pindah ke Bandung, (ada peluang) jualan sate padang. Cuman masih pakai gerobakan," kata Uda Awal saat mengisahkan lika-liku perjuangannya membangun bisnis, belum lama ini.
Bisa dikatakan Uda Awal ini tergolong jeli melihat peluang di sekitarnya. Ia rupanya tak gampang menyerah ketika beberapa kendala ditemuinya di Yogyakarta, ia lalu melirik peluang usaha nasi Padang di Kota Semarang.
Tepatnya akhir 2002 jerih payahnya berjualan nasi Padang di Jalan Abdurahman Saleh Kalibanteng mulai membuahkan hasil. Semuanya tak lepas dari keberkahan bulan puasa.
"Pas bulan puasa banyak warung di Semarang tutup, tempat saya tetap buka. Buat menghormati ibadah puasa, saya pasang terpal di depan warung. Nyatanya pembeli mulai mampir. Lama-lama dikenal orang. Saya dapat lokasi warung di Jalan Abdurahman Saleh kebetulan harganya murah," akunya seraya diamini sang istri tercinta.
Brand Chaniago pun ia sematkan untuk bisnise nasi Padangnya karena berasal dari keluarga marga Chaniago. "Marga Chaniago diambil dari marga nama orang tua perempuan," urainya.
Berdasarkan pengakuan istrinya, Indriyani alias Uni Indri, saat merintis bisnis nasi Padang di Jalan Abdurahman Saleh, penghasilannya kisaran Rp90 ribu.
Karena bisnisnya berkembang pesat, baik Uda Awal maupun Uni Indri sama-sama bersyukur bisa meraup pendapatan puluhan juta.
RM Padang Chaniago milik pasutri tersebut juga semakin laris manis. Sejak 2002 sampai sekarang punya empat cabang di Kota Lunpia. Salah satu cabangnya ada di Kawasan Mugasari dan Jalan Untung Suropati Manyaran.
Jumlah karyawannya kisaran 50 orang. Ia mengaku beruntung resep rendang ajaib warisan kakek buyutnya kini kian digandrungi masyarakat Semarang.
Apabila kita menyantap nasi Padang lengkap dengan rendang di RM Padang Chaniago, sedikit banyak pasti bisa merasakan bumbu rendangnya yang begitu legit.
Ia pun berbagi tips cara memasak bumbu rendang biar terasa legit seperti masakannya. Pada dasarnya masakan padang sama. Tingg kita mengolahnya.
"Memasak rendangnya waktunya sekitar 12 jam. Terus sekali masak 30 kilogram. Sehingga bumbunya meresap dan rasanya lebih lezat. Cuman bedanya dari tempat lain, kita selalu pakai panduan resep turun-temurun dari keluarga," akunya.
Kemudian supaya menu di RM Padang Chaniago tetap digemari pelanggan, Uda Awal tak segan untuk menentukan jenis masakan sesuai hasil riset di lapangan.
Baginya sebuah riset menjadi penentu kualitas masakan Padang apakah diterima masyarakat sekitar atau tidak. "Jadi menu-menu di tempat kami hampir semuanya hasil riset. Boleh dikatakan kita ciptakan sendiri. Kemudian kita juga riset sendiri. Masakan kita banyak dari riset biar tidak monoton. Ini memang penting supaya bisa melihat selera orang. Utamanya biar kita tidak kalah saing," ungkapnya.
