Dari lereng Gunung Merbabu, kisah Lasmi dan jutaan perempuan prasejahtera membuktikan bahwa kedaulatan pangan Indonesia dibangun dari tangan-tangan yang selama ini terpinggirkan–kini diberdayakan melalui akses pembiayaan tanpa agunan.
Modal Tanpa Agunan PNM Ubah Hidup Perempuan Prasejahtera Lereng Merbabu

- Lasmi dan perempuan prasejahtera di lereng Merbabu diberdayakan melalui akses pembiayaan tanpa agunan, mengatasi kesenjangan akses modal bagi petani perempuan.
- PNM Mekaar telah menjangkau 22,7 juta perempuan penerima pembiayaan, membuka akses pembiayaan tanpa agunan dalam kelompok dengan tingkat kredit macet yang rendah.
- Kawasan lereng Merbabu memiliki potensi pertanian hortikultura yang besar, namun tetap dihadapi oleh tantangan seperti rantai distribusi panjang dan perubahan iklim.
Angin sejuk lereng Gunung Merbabu menyapa Lasmi setiap pagi. Perempuan 45 tahun asal Dusun Tayeman, Desa Kopeng, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang itu perannya tidak hanya sebagai ibu rumah tangga biasa. Sejak 2019, ia memelopori pertanian modern di kawasan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.
Kini nama Lasmi dikenal hingga tingkat nasional sebagai Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Abadi. Ia kerap diundang sebagai narasumber di berbagai seminar pertanian.
"Dulu saya hanya bertani seadanya. Sekarang, saya bisa menghitung hasil panen, memahami pupuk organik, dan berbagi ilmu dengan perempuan lain," ujarnya kepada IDN Times.
Kesenjangan Akses Modal Perempuan Petani

Transformasi Lasmi dimulai dari pertemuannya dengan program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM), anak perusahaan Bank Rakyat Indonesia (BRI), sekitar tahun 2019. Melalui program tersebut, Lasmi mendapatkan akses permodalan yang sebelumnya tertutup bagi perempuan prasejahtera seperti dirinya, terlebih dengan skema tanpa agunan fisik.
Kisah Lasmi merepresentasikan tantangan hampir 28,3 juta perempuan pedesaan yang bekerja di sektor pertanian Indonesia atau 25 persen dari total petani nasional, sebagaimana data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2019.
Meski demikian, mereka menghadapi hambatan struktural serius. Kesenjangan gender dalam kepemilikan lahan menjadi penghalang utama.
Badan Pusat Statistik (BPS) dalam publikasi Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018 menyebutkan, perempuan rata-rata hanya menguasai 0,2 hektare (ha) lahan, sementara laki-laki menguasai 0,6 hektare—kesenjangan hampir tiga kali lipat.
Kepemilikan lahan terbatas itu langsung membatasi akses perempuan terhadap kredit formal, informasi pertanian, dan layanan penyuluhan.
Di lereng Merbabu, modal awal besar menjadi hambatan nyata. Dari informasi yang dihimpun IDN Times, untuk menanam 5.000 batang tembakau saja, petani membutuhkan Rp20 juta dengan waktu tunggu panen enam bulan. Angka tersebut mustahil dijangkau petani perempuan dengan lahan terbatas.

Keterbatasan akses modal bagi petani perempuan berdampak luas pada ketahanan pangan nasional. FAO memperkirakan, jika kesenjangan gender di pertanian diatasi, produksi pertanian bisa meningkat 2,5–4 persen di negara berkembang seperti Indonesia. Angka itu akan bisa mengurangi ketidakamanan pangan global hingga dua persentase poin atau setara 45 juta orang.
Indonesia saat ini sedang berpacu dengan dua agenda besar. Yakni menurunkan stunting dari 19,8 persen tahun 2024 dan mencapai swasembada pangan. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan 4,48 juta balita masih mengalami stunting, dengan disparitas regional yang lebar–dari 8,6 persen di Bali hingga 37 persen di Nusa Tenggara Timur.
Dampak ekonomi malnutrisi tersebut besar. Bank Dunia memperkirakan Indonesia kehilangan dua hingga tiga persen Produk Domestik Bruto per tahun—setara Rp300-450 triliun—akibat stunting. Anak stunting berpotensi mendapat penghasilan 20 persen lebih rendah saat dewasa.
"Bangsa besar adalah bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Inilah yang sedang kita bangun: kemandirian pangan dari hulu hingga hilir," ujar Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan saat mengunjungi Lasmi dan anggota KWT Mekar Abadi di Kabupaten Magelang, Kamis (9/10/2025).
PNM Mekaar Membuka Akses Pembiayaan
PNM, yang berdiri sejak 1 Juni 1999, bertransformasi besar pada September 2021 ketika pemerintah membentuk Holding Ultra Mikro dengan BRI sebagai induk. Kini 99,99 persen saham PNM dimiliki BRI, bersama Pegadaian membentuk ekosistem layanan keuangan terintegrasi untuk segmen paling bawah piramida ekonomi.

Program Mekaar yang diluncurkan 2015 menjadi tulang punggung pemberdayaan perempuan prasejahtera. Hingga pertengahan 2025, PNM menjangkau 22,7 juta perempuan penerima pembiayaan, dengan 16 juta nasabah aktif tersebar di 6.165 kecamatan, 652 kabupaten/kota, dan 36 provinsi.
Mekanisme Mekaar mengadopsi model Grameen Bank Bangladesh dengan pembiayaan Rp1–10 juta tanpa agunan dalam kelompok 15–20 orang dengan sistem tanggung renteng dan pertemuan mingguan. Hingga Desember 2024, akumulasi pembiayaan mereka mencapai Rp305,82 triliun dengan 73 persen nasabah memilih skema syariah.
Model tanggung renteng itu terbukti efektif. Tingkat kredit macet hanya 0,5–0,7 persen, jauh di bawah rata-rata perbankan nasional sebesar 2,21 persen. Tidak hanya itu. Lebih dari 920 ribu kelompok usaha terbentuk melalui sistem tersebut, menempatkan PNM sebagai lembaga pembiayaan perempuan terbesar di dunia, melampaui Grameen Bank yang meraih Nobel Perdamaian 2006.
Riset BRI Research Institute tahun 2023 menunjukkan dampak terukur di mana sebanyak 60,85 persen nasabah mengalami peningkatan pendapatan usaha dan 48,35 persennya mengalami peningkatan aset setelah menerima pembiayaan. Malah, sebanyak 1,74 juta nasabah berhasil naik kelas ke sistem perbankan formal.
Serupa, penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2022 menunjukkan, terdapat 71,86 persen nasabah PNM mampu berkontribusi dalam pengambilan keputusan keluarga. Mulai dari pengelolaan keuangan, pendidikan anak, hingga kebutuhan rumah tangga. Artinya, akses pembiayaan berbanding lurus dengan peningkatan posisi tawar perempuan dalam rumah tangga.
Kampung Madani Integrasikan Ketahanan Pangan

Perjalanan hampir enam tahun Lasmi sebagai nasabah Mekaar kini berbuah manis. Komunitasnya menjadi bagian dari Program Rumah Pangan Kampung Madani yang berkontribusi pada penguatan ketahanan pangan nasional tingkat lokal.
Dalam implementasinya, PNM menghibahkan sebanyak 240 ekor ayam petelur kepada 40 warga Dusun Tayeman. Namun program itu tidak berhenti pada pembagian ayam. PNM memberikan pelatihan intensif kepada mereka mengenai perawatan unggas, pengelolaan kandang, hingga strategi pemasaran telur secara kolektif. Limbah kotoran ayam diolah menjadi pupuk organik untuk rumah kaca (greenhouse) sayuran yang juga dibangun melalui program tersebut.
Model tersebut menciptakan siklus ekonomi tertutup yang efisien: ayam menghasilkan telur sebagai sumber protein, kotoran ayam menjadi pupuk organik untuk menyuburkan sayuran, dan telur serta sayuran kemudian memasok dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dukungan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Utama PNM, Arief Mulyadi menjelaskan, program MBG dirancang untuk menjawab kebutuhan 82,5 juta anak Indonesia akan asupan protein.
“PNM memastikan perempuan prasejahtera tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pelaku utama dalam rantai pasok ketahanan pangan,” ujarnya.

Di lereng barat Gunung Merbabu, tepatnya Dusun Ngablak, Desa Sumberejo, Kabupaten Magelang, kisah serupa dialami Suwondo. Ia memulai usaha pertanian sayuran dengan pinjaman Rp170 juta dari program Unit Layanan Modal Mikro (ULaMM) pada tahun 2021. Seiring pertumbuhan usahanya, plafon pembiayaannya meningkat menjadi Rp200 juta.
"Modal dari PNM bukan sekadar uang. Ada pendampingan yang membuat saya paham cara mengelola keuangan usaha," ungkap Suwondo.
Hasil panennya kini menembus pasar di Semarang, Yogyakarta, bahkan Jakarta. Kisahnya merepresentasikan konsep "naik kelas" yang menjadi keunggulan ekosistem PNM. Nasabah Mekaar yang usahanya berkembang dapat berlanjut ke ULaMM dengan plafon pinjaman lebih besar, menciptakan tangga mobilitas sosial ekonomi terukur.
Potensi dan Tantangan

Kawasan lereng Merbabu merepresentasikan potensi dan tantangan pertanian dataran tinggi Indonesia. Membentang di ketinggian 700–1.840 mdpl dengan suhu sejuk 10–17 derajat Celsius, kawasan tersebut ideal untuk hortikultura. Lebih dari 70 jenis sayuran tumbuh optimal, termasuk kubis, kentang, cabai rawit, hingga sayuran premium seperti kale dan bayam Jepang.
Kabupaten Boyolali saja memiliki 9.674 ha lahan hortikultura aktif dengan potensi 101.501 ha.
Pertanian organik berkembang pesat sejak 2007–2008, dengan Kelompok Tani Bangkit Merbabu yang berhasil mengekspor sayuran premium ke Singapura dan Dubai.
Namun tantangan tetap ada: rantai distribusi panjang yang menekan harga di tingkat petani, perubahan iklim yang menyebabkan kemarau basah merusak panen, dan akses modal terbatas.
Program Rumah Pangan Kampung Madani dari PNM menjadi krusial terhadap situasi tersebut. Pasalnya tidak hanya proyek karitatif, tetapi menjadi investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia berdaulat pangan.
Integrasi dengan program MBG pemerintah yang beranggaran Rp171 triliun pada 2025 membuka peluang besar bagi petani perempuan memasuki rantai pasok pangan nasional.
Seperti diketahui, pemerintahan Prabowo-Gibran menargetkan surplus beras 3,5–4 juta ton pada 2025. Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan capaian yang menggembirakan: cadangan Beras Pemerintah mencapai 4 juta ton, tertinggi dalam 57 tahun sejarah Perum Bulog sejak 1969.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Indonesia tidak mengimpor beras pada 2025.

Di dataran tinggi yang dingin itu, Lasmi tersenyum menatap kandang ayam dan greenhouse miliknya. Perempuan yang enam tahun lalu bahkan tidak memiliki akses ke perbankan, kini menjadi figur inspiratif di tingkat nasional.
"Kalau saya bisa, perempuan lain juga pasti bisa," tegasnya penuh keyakinan.
Dari lereng Gunung Merbabu, Lasmi dan 39 rekannya rutin memasok telur kepada pengepul yang menyalurkan produk mereka ke dapur-dapur SPPG untuk program MBG. Mereka menjadi wajah ketahanan pangan Indonesia. Sebagai pelaku aktif, kiprah mereka menunjukkan bahwa perubahan sistemik dapat dimulai dari pemberdayaan petani perempuan yang selama ini berada di pinggiran.
Keberhasilan PNM dengan 21,67 juta nasabah perempuan membuktikan investasi pada perempuan prasejahtera bukan sekadar program sosial, namun sebagai strategi pembangunan ekonomi terukur yang berdampak langsung pada ketahanan pangan dan penurunan stunting, yang menjadi dua agenda krusial Indonesia menuju tahun 2029.

















